background img

The New Stuff

Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan


 Bismillahirahmanirahiim..

Setelah melalui perjuangan dan penempaan selama ini, Alhamdulillah akhirnya saya sampai terdaftar sebagai Mahasiswi Telkom University. Ada kurang lebih 250.000.000 penduduk Indonesia. 10% Di antaranya sekitar berusia 16-20 tahun. Dari 10% tersebut hanya 60% yang berhasil melanjutkan fase akademika di Perguruan Tinggi. 

Bulan Januari 2014, saya lolos dalam prodi International ICT Business Management Tel-U. Satu prodi yang diakui paling sulit ditembus di antara prodi lain di Tel-U. Hanya menampung kurang dari 60 siswa dan siswi, tersaring nasional. Tentu biaya di sini pun termasuk dalam jajaran biaya tinggi di antara kelas International yang baru bermunculan di Tel-U.



Kenapa saya menjatuhkan pilihan di ICT BM Tel-U? menolak dua beasiswa UIN Jakarta dan UMY. Mulanya saya ingin menjadi seorang diplomat. Kemudian saya menyadari latar belakang keluarga saya bergerak dalam bisnis. Saya ingin membantu bukan hanya keluarga tapi Negara untuk menginternationalisasikan perusaan nasionalnya. Sudah terlalu banyak, perusaan asing didirikan di sini. Belum banyak perusaan nasional bisa berdiri di banyak Negara. Melihat peradaban yang tentu sudah sangat lekat kaitannya dengan teknologi. Penguasaan teknologi informatika sangat dibutuhkan kuat untuk mengimprove kapabilitas kemampuan menjawab tantangan kebutuhan mendatang. Telkom sebagai swasta terbesar nasional, dengan kualitas terbaiknya, memiliki perusaan terbesar dalam bidang informatika dan berkomitmen menjadikan kelas setaraf International, the world class university pada tahun 2017, menantang saya untuk andil di dalamnya.



Hari ini (16/08/14) tepat satu hari sebelum hari proklamasi didengungkan oleh pendiri bangsa kita: Soekarno-Hatta. Pengukuhan Mahasiswa baru selesai diadakan di TUCH (Telkom University Convention Hall). Kemegahan tiap gedung yang berdiri di sini, serta atmosfer untuk setingginya mengantungi prestasi. 


“Berprestasi adalah Tradisi Telkom University” dalam sambutan Rektor Tel-U Prof. Ir. Mochmad Ashari, M.Eng.,Ph.D.

Memang, di awal melakoni aktivitas sebagai mahasiswa baru dalam OMB (Orientasi Mahasiswa Baru) sudah menguras perjuangan yang tidak mudah. Karena lokasi kampus terpisah sendiri di Gerlong dan acara selama dua minggu di Bubat tel-U pusat. Maka saya harus di Mess sendiri, tanpa hiburan apapun terkecuali hp baru karena hp lama hilang dengan fitur yang lebih minim lagi.  Pengorbanan dan kesakitan memang selalu mendirikan kedewasaan. Semoga Allah menjaga kita semua… kita sudah maju ke tahap yang tidak semua manusia yang seusia dengan kita lulus ke tahap ini. Tanggung jawab ini bukan cuma terhadap pribadi tapi pengabdian yang menunggui kita terjun ke dalam. Saya sudah merasa bangga terdaftar menjadi mahasiswi baru di sini. Saya harus tetap menjadi intan di mana pun saya berada. Allah sudah sangat baik, cinta-Nya sungguh nyata…

Doakan saya, agar saya mampu merealisasikan target dengan optimal dan kemudahan agar saya terus bias mengibarkan prestasi untuk agama, almamater, keluarga, masyarakat, dan untuk Negara. Man Jadda Wa Jadda!!! Man Shobaro Zhafiro..



Student now, be Leader Tomorrow!!!


Berprestasi adalah Tradisi Telkom University



 Bismillahirahmanirahiim..

Setelah melalui perjuangan dan penempaan selama ini, Alhamdulillah akhirnya saya sampai terdaftar sebagai Mahasiswi Telkom University. Ada kurang lebih 250.000.000 penduduk Indonesia. 10% Di antaranya sekitar berusia 16-20 tahun. Dari 10% tersebut hanya 60% yang berhasil melanjutkan fase akademika di Perguruan Tinggi. 

Bulan Januari 2014, saya lolos dalam prodi International ICT Business Management Tel-U. Satu prodi yang diakui paling sulit ditembus di antara prodi lain di Tel-U. Hanya menampung kurang dari 60 siswa dan siswi, tersaring nasional. Tentu biaya di sini pun termasuk dalam jajaran biaya tinggi di antara kelas International yang baru bermunculan di Tel-U.



Kenapa saya menjatuhkan pilihan di ICT BM Tel-U? menolak dua beasiswa UIN Jakarta dan UMY. Mulanya saya ingin menjadi seorang diplomat. Kemudian saya menyadari latar belakang keluarga saya bergerak dalam bisnis. Saya ingin membantu bukan hanya keluarga tapi Negara untuk menginternationalisasikan perusaan nasionalnya. Sudah terlalu banyak, perusaan asing didirikan di sini. Belum banyak perusaan nasional bisa berdiri di banyak Negara. Melihat peradaban yang tentu sudah sangat lekat kaitannya dengan teknologi. Penguasaan teknologi informatika sangat dibutuhkan kuat untuk mengimprove kapabilitas kemampuan menjawab tantangan kebutuhan mendatang. Telkom sebagai swasta terbesar nasional, dengan kualitas terbaiknya, memiliki perusaan terbesar dalam bidang informatika dan berkomitmen menjadikan kelas setaraf International, the world class university pada tahun 2017, menantang saya untuk andil di dalamnya.



Hari ini (16/08/14) tepat satu hari sebelum hari proklamasi didengungkan oleh pendiri bangsa kita: Soekarno-Hatta. Pengukuhan Mahasiswa baru selesai diadakan di TUCH (Telkom University Convention Hall). Kemegahan tiap gedung yang berdiri di sini, serta atmosfer untuk setingginya mengantungi prestasi. 


“Berprestasi adalah Tradisi Telkom University” dalam sambutan Rektor Tel-U Prof. Ir. Mochmad Ashari, M.Eng.,Ph.D.

Memang, di awal melakoni aktivitas sebagai mahasiswa baru dalam OMB (Orientasi Mahasiswa Baru) sudah menguras perjuangan yang tidak mudah. Karena lokasi kampus terpisah sendiri di Gerlong dan acara selama dua minggu di Bubat tel-U pusat. Maka saya harus di Mess sendiri, tanpa hiburan apapun terkecuali hp baru karena hp lama hilang dengan fitur yang lebih minim lagi.  Pengorbanan dan kesakitan memang selalu mendirikan kedewasaan. Semoga Allah menjaga kita semua… kita sudah maju ke tahap yang tidak semua manusia yang seusia dengan kita lulus ke tahap ini. Tanggung jawab ini bukan cuma terhadap pribadi tapi pengabdian yang menunggui kita terjun ke dalam. Saya sudah merasa bangga terdaftar menjadi mahasiswi baru di sini. Saya harus tetap menjadi intan di mana pun saya berada. Allah sudah sangat baik, cinta-Nya sungguh nyata…

Doakan saya, agar saya mampu merealisasikan target dengan optimal dan kemudahan agar saya terus bias mengibarkan prestasi untuk agama, almamater, keluarga, masyarakat, dan untuk Negara. Man Jadda Wa Jadda!!! Man Shobaro Zhafiro..



Student now, be Leader Tomorrow!!!





(19/07) Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya bersama Klub Buku Tasikmalaya mengadakan workshop mini meliputi dunia "creative writing" penulisan liputan kuliner dalam medium blog dan media sosial (oleh : Iwok Abqary) serta teknik fotografi jurnalisme kuliner ( oleh M Salim Bhayangkara ). Kegiatan dilangsung di Saraluna Cafe Jl. Citapen Kota Tasikmalaya. Peserta sangat antusias dan merasa beruntung dapat mengikuti tiap sesi acara dan menjadi wadah untuk mengeratkan tali silaturahmi antara SDM-SDM yang aktif dan kreatif.























Workshop KWKT & KBT



(19/07) Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya bersama Klub Buku Tasikmalaya mengadakan workshop mini meliputi dunia "creative writing" penulisan liputan kuliner dalam medium blog dan media sosial (oleh : Iwok Abqary) serta teknik fotografi jurnalisme kuliner ( oleh M Salim Bhayangkara ). Kegiatan dilangsung di Saraluna Cafe Jl. Citapen Kota Tasikmalaya. Peserta sangat antusias dan merasa beruntung dapat mengikuti tiap sesi acara dan menjadi wadah untuk mengeratkan tali silaturahmi antara SDM-SDM yang aktif dan kreatif.



























Usia memiliki ruangnya untuk melaksanakan perkembangan. Sahabatku, sering aku ragu, sampai kapan aku menjadi seorang psikopat yang tak bisa terjun dalam kelucuan remaja. Kecil-kecil aku belajar untuk menghilangkan keinginan seperti kalian, yang bisa terus ditemani dan berada dalam ruang interaksi yang terlihat menyenangkan. Aku hapus itu. Aku tahu, hatiku tak dalam keadaan baik. Sekolah mengajariku untuk terus memperban luka di dalam. 

"Afril, aku pingin jadi kayak kamu. Gimana caranya?" Sore setelah pemotretan guru usai, Maghfi sahabatku bersuara di sampingku.

Kenapa? 

"Kamu bisa kuat sendirian, temen-temen gak ada yang berani jailin kamu. Semua segan."

Jangan begitu. Justru, aku memerlukan teman seperti kamu ada di sampingku. Bertanya, bercerita, yaa.. berbagi.. seperti kebutuhan manusia lainnya. Kadang aku iri dan tak nyaman, terasing di dalam lubang angkatan. Aku berharap besar, mereka bisa juga menggapku sama, menyenangkan kukira. Semua tertawa, meski kekoyolan bahan dasarnya. Tapi semua merasa senang. Aku penuh hambar.



Alhamdulillah, setelah wisuda sebagai lulusan terbaik, aku menghawatirkan akan begitu merindukan sebagian guru-guru, mereka yang kuanggap sebagai sahabat selama ini. Meski tidak sepleksibel pertemanan lainnya. Tapi begitulah, aku manja dengan mereka. Semua tahu aku. Awal kelas sepuluh, aku sudah menjadi delegasi duta lingkungan untuk program UI, perjalanan bersama Pak Asep Solihin (Guru TIK) awal kali masuk dalam pelajarannya, namaku lekas dicatat di kertas karena berhasil menjawab semua pertanyaannya. Kemudian, kami dekat dengan ajaib. Di situ juga, awal aku punya mimpi yang tumbuh di UI. Aku jatuh cinta pada perpustakaan, danau, dan hampir kehilangan iphone di masjidnya. Tapi tak jadi, Pak Ikmal (Guru Fikih yang lucu itu) menemukannya, pas bus akan melaju meninggalkan tempat.



Kelas sebelas, aku dan fuzi lolos dalam seleksi Parlemen Remaja untuk pertama kalinya tingkat SMA se-derajat. Esaiku berada diperingkat pertama provinsi, aku mensyukurinya, Tuhan terima kasih, kataku berulang. Pak In-in (Wakasek kurikulum+Guru sejarah) dan Pak Yudi (Guru Geografi yang kini mudah tersenyum) mengantarkan kami ke Jakarta. Kenangan sepanjang malam dengan mereka. Posisi dudukku di tengah. Kuperhatikan Pak In-in yang kepalanya terus terbentur dengan kaca jendela, ia berusaha menahan agar kepalanya tak jatuh ke pundakku. Pak Yudi depan, Fuzi di sebelah kananku. Sejak awal masuk SMA, aku seolah sudah mendapatkan porsi istimewa. Kakak kelas pun begitu, mereka baik, dan mereka mengenalku.



Setiap ada perlombaan yang berhubungan dengan karya tulis, selalu aku yang dipanggil. Iya, kataku, aku akan berusaha. Kelas sebelas aku sudah semobil merah dengan pak Aep (Wakasek Kesiswaan) untuk perlombaan yang diadakan oleh walikota. Kemudian lomba ke unsil yang kini sudah jadi PTN, selamat ya. Semoga ada perubahan yang lebih baik, bukan cuma pergantian status. :) Kami (aku dan tim) alhamdulillah, selalu berhasil membawa penghargaan untuk sekolah, dua kali mempertahankan predikat juara umum. Pak Asep tersenyum. Aku pun membalas. 



Selama perjalanan dalam kegiatan jurnalistik, menjadi seorang pimred adalah hal yang sangat penuh pelatihan. Dari kesabaran, kecekatan, ketelitian, dan keberanian dalam tiap keputusan. Harus bisa mengordinir ke seluruh bagian, sebab bagaimana pun dalam organigram cuma formalitas saja. Lari-larian aku ke sana ke mari, belum menghadapi watak bagian dari pengurus yang beraneka ragam. Tapi di sana kami benar-benar belajar bertanggung jawab. Saat itu aku dan Della mengurusi event tahunan. Sebagai gebrakan, aku memperluas ingin mengadakan sampai tingkat Jawa Barat. Luar biasa, kami mendaki dan berlari. Berbekal terus mencari relasi-relasi baru. Aku bersyukur, berkat kepenulisan, aku berani, dan karyaku dikenal. Maka, aku dipanggil. Kemudian, aku memulai dengan interview, selanjutnya perkenalan yang lebih personal. Aku berhasil menggangdeng Majalah Annida sebagai mediapatner. Apalagi dalam masalah buget yang agak sensitif. Untuk acara sebesar ini, aku memerlukan dana yang tidak sedikit. Tapi aku manfaatkan dulu relasi yang ada dan pembagian amanah tentunya agar masalah ini bisa diselesaikan lebih cepat dibanding hanya oleh satu tangan, mulanya agak riskan, tapi kita harus memberi kesempatan pada potensi yang ada pada mereka untuk berkembang. Alhamdulillah, acara pun terselenggara dengan meriah dan penuh testimoni apresiatif. Terjauh dari Bekasi. Kami berhasil mengundang pemateri penulis Skripwriter Trans7&MncTv, salah satu Host TVone, tim Annida, dan tim ACT langsung juga dengan presidennya. Puji syukur, semua berjalan sesuai apa yang ditargetkan dan berhasil surplus kurang lebih empat atau tiga juta kala itu.

Aku mulai mengajak q-smart keluar. Menjadi relawan adalah pengaman yang tak ternilai. Kerjasama dengan relawan-relawan tasik, dan kang Bode saat itu. Menggagas Safari Mendongeng di bulan Ramadhan. Kita bisa simak, semangat anak-anak dan jiwa yang jujur dengan keriangannya. Berbagi sedikit apa yang ada tertitipkan pada kita, nyatanya membuka kebahagian luar biasa pada kehangatan bathin pribadi. Hal itu benar-benar membuat ketagihan. Menyenangkan, apa yang kita tutupi, pelan-pelan ia terbuka dan menerima harum bunga dari luar. Sejak itu, aku mulai berani go public. Bergabung dengan komunitas-komunitas kreatif yang memacu hal positif. 



Meski, pada kenyataannya, aku masih anak perempuan yang masih merasa asing dengan suasana yang terlalu ramai. Namun, ketakutanku berkurang. Pelan-pelan aku cairkan. Meski didominasi dengan orang yang lebih tua dibanding usiaku, tapi di sana aku mengenal hangatnya cara manusia melakukan perhatian pada komunikasinya. Kemudian di awal tahun, aku ikut bagian pelopor terbentuknya Forum Osis Jawa Barat.



Kelas dua belas, aku tidak berhenti untuk melebarkan sayap di forum nasional. Karena di sanalah tempat terbaik untukku mempelajari perbedaan dan keluasan kompetisi. Aku sudah lebih dulu mengenal tiap anak dari pelosok negeri sebagai pilihan terbaik daerahnya. Bertemu dengan para tokoh baik dalam ranah politik, perusahaan asing, dan motivator lainnya. Akhir kelas ini, aku tidak berhenti terus menggali tempat. 

Alhamdulillah, aku berhasil menjadi delegasi untuk PeaceGeneration dan terpilih menjadi Duta Askobi (Asosiasi Korban Bom Lima Bali) di sana, betul-betul kami meraup nilai serta visi misi sebagai agen perdamaian. Aku ajak Desarah untuk menemaniku, ia baik dan tidak manja, maka aku ajak dia. Di forum ini berbagai lintas agama disatukan. Mawar, dari Advent ia yang masih aku kenal karena kami bicara panjang mengenai agamanya dan agamaku. Masih banyak lagi, Nathan juga, dia katolik, juga baik. Ada Naci, dia penganut budhist, lembut. Dan masih banyak lagi. 

Alhamdulillah, diakhir aku dipilih untuk memimpin ikrar. Salah satu mimpiku yang paling aku inginkan, meminpin ikrar kebajikan. Setelah event itu, aku lulus lagi untuk FOR5.

Karena di forum-forum aku bisa merasai bagaimana pelajaran dari persahabatan yang tidak bisa aku dapati dalam kelas. Terima kasih, Tuhan, Engkau sahabat terbaikku selama ini. Terima kasih, Sahabat.. Kau buatku merasa menjadi manusia yang bisa memandang gerak kehidupan.

Segelintir Fase yang Dilalui




Usia memiliki ruangnya untuk melaksanakan perkembangan. Sahabatku, sering aku ragu, sampai kapan aku menjadi seorang psikopat yang tak bisa terjun dalam kelucuan remaja. Kecil-kecil aku belajar untuk menghilangkan keinginan seperti kalian, yang bisa terus ditemani dan berada dalam ruang interaksi yang terlihat menyenangkan. Aku hapus itu. Aku tahu, hatiku tak dalam keadaan baik. Sekolah mengajariku untuk terus memperban luka di dalam. 

"Afril, aku pingin jadi kayak kamu. Gimana caranya?" Sore setelah pemotretan guru usai, Maghfi sahabatku bersuara di sampingku.

Kenapa? 

"Kamu bisa kuat sendirian, temen-temen gak ada yang berani jailin kamu. Semua segan."

Jangan begitu. Justru, aku memerlukan teman seperti kamu ada di sampingku. Bertanya, bercerita, yaa.. berbagi.. seperti kebutuhan manusia lainnya. Kadang aku iri dan tak nyaman, terasing di dalam lubang angkatan. Aku berharap besar, mereka bisa juga menggapku sama, menyenangkan kukira. Semua tertawa, meski kekoyolan bahan dasarnya. Tapi semua merasa senang. Aku penuh hambar.



Alhamdulillah, setelah wisuda sebagai lulusan terbaik, aku menghawatirkan akan begitu merindukan sebagian guru-guru, mereka yang kuanggap sebagai sahabat selama ini. Meski tidak sepleksibel pertemanan lainnya. Tapi begitulah, aku manja dengan mereka. Semua tahu aku. Awal kelas sepuluh, aku sudah menjadi delegasi duta lingkungan untuk program UI, perjalanan bersama Pak Asep Solihin (Guru TIK) awal kali masuk dalam pelajarannya, namaku lekas dicatat di kertas karena berhasil menjawab semua pertanyaannya. Kemudian, kami dekat dengan ajaib. Di situ juga, awal aku punya mimpi yang tumbuh di UI. Aku jatuh cinta pada perpustakaan, danau, dan hampir kehilangan iphone di masjidnya. Tapi tak jadi, Pak Ikmal (Guru Fikih yang lucu itu) menemukannya, pas bus akan melaju meninggalkan tempat.



Kelas sebelas, aku dan fuzi lolos dalam seleksi Parlemen Remaja untuk pertama kalinya tingkat SMA se-derajat. Esaiku berada diperingkat pertama provinsi, aku mensyukurinya, Tuhan terima kasih, kataku berulang. Pak In-in (Wakasek kurikulum+Guru sejarah) dan Pak Yudi (Guru Geografi yang kini mudah tersenyum) mengantarkan kami ke Jakarta. Kenangan sepanjang malam dengan mereka. Posisi dudukku di tengah. Kuperhatikan Pak In-in yang kepalanya terus terbentur dengan kaca jendela, ia berusaha menahan agar kepalanya tak jatuh ke pundakku. Pak Yudi depan, Fuzi di sebelah kananku. Sejak awal masuk SMA, aku seolah sudah mendapatkan porsi istimewa. Kakak kelas pun begitu, mereka baik, dan mereka mengenalku.



Setiap ada perlombaan yang berhubungan dengan karya tulis, selalu aku yang dipanggil. Iya, kataku, aku akan berusaha. Kelas sebelas aku sudah semobil merah dengan pak Aep (Wakasek Kesiswaan) untuk perlombaan yang diadakan oleh walikota. Kemudian lomba ke unsil yang kini sudah jadi PTN, selamat ya. Semoga ada perubahan yang lebih baik, bukan cuma pergantian status. :) Kami (aku dan tim) alhamdulillah, selalu berhasil membawa penghargaan untuk sekolah, dua kali mempertahankan predikat juara umum. Pak Asep tersenyum. Aku pun membalas. 



Selama perjalanan dalam kegiatan jurnalistik, menjadi seorang pimred adalah hal yang sangat penuh pelatihan. Dari kesabaran, kecekatan, ketelitian, dan keberanian dalam tiap keputusan. Harus bisa mengordinir ke seluruh bagian, sebab bagaimana pun dalam organigram cuma formalitas saja. Lari-larian aku ke sana ke mari, belum menghadapi watak bagian dari pengurus yang beraneka ragam. Tapi di sana kami benar-benar belajar bertanggung jawab. Saat itu aku dan Della mengurusi event tahunan. Sebagai gebrakan, aku memperluas ingin mengadakan sampai tingkat Jawa Barat. Luar biasa, kami mendaki dan berlari. Berbekal terus mencari relasi-relasi baru. Aku bersyukur, berkat kepenulisan, aku berani, dan karyaku dikenal. Maka, aku dipanggil. Kemudian, aku memulai dengan interview, selanjutnya perkenalan yang lebih personal. Aku berhasil menggangdeng Majalah Annida sebagai mediapatner. Apalagi dalam masalah buget yang agak sensitif. Untuk acara sebesar ini, aku memerlukan dana yang tidak sedikit. Tapi aku manfaatkan dulu relasi yang ada dan pembagian amanah tentunya agar masalah ini bisa diselesaikan lebih cepat dibanding hanya oleh satu tangan, mulanya agak riskan, tapi kita harus memberi kesempatan pada potensi yang ada pada mereka untuk berkembang. Alhamdulillah, acara pun terselenggara dengan meriah dan penuh testimoni apresiatif. Terjauh dari Bekasi. Kami berhasil mengundang pemateri penulis Skripwriter Trans7&MncTv, salah satu Host TVone, tim Annida, dan tim ACT langsung juga dengan presidennya. Puji syukur, semua berjalan sesuai apa yang ditargetkan dan berhasil surplus kurang lebih empat atau tiga juta kala itu.

Aku mulai mengajak q-smart keluar. Menjadi relawan adalah pengaman yang tak ternilai. Kerjasama dengan relawan-relawan tasik, dan kang Bode saat itu. Menggagas Safari Mendongeng di bulan Ramadhan. Kita bisa simak, semangat anak-anak dan jiwa yang jujur dengan keriangannya. Berbagi sedikit apa yang ada tertitipkan pada kita, nyatanya membuka kebahagian luar biasa pada kehangatan bathin pribadi. Hal itu benar-benar membuat ketagihan. Menyenangkan, apa yang kita tutupi, pelan-pelan ia terbuka dan menerima harum bunga dari luar. Sejak itu, aku mulai berani go public. Bergabung dengan komunitas-komunitas kreatif yang memacu hal positif. 



Meski, pada kenyataannya, aku masih anak perempuan yang masih merasa asing dengan suasana yang terlalu ramai. Namun, ketakutanku berkurang. Pelan-pelan aku cairkan. Meski didominasi dengan orang yang lebih tua dibanding usiaku, tapi di sana aku mengenal hangatnya cara manusia melakukan perhatian pada komunikasinya. Kemudian di awal tahun, aku ikut bagian pelopor terbentuknya Forum Osis Jawa Barat.



Kelas dua belas, aku tidak berhenti untuk melebarkan sayap di forum nasional. Karena di sanalah tempat terbaik untukku mempelajari perbedaan dan keluasan kompetisi. Aku sudah lebih dulu mengenal tiap anak dari pelosok negeri sebagai pilihan terbaik daerahnya. Bertemu dengan para tokoh baik dalam ranah politik, perusahaan asing, dan motivator lainnya. Akhir kelas ini, aku tidak berhenti terus menggali tempat. 

Alhamdulillah, aku berhasil menjadi delegasi untuk PeaceGeneration dan terpilih menjadi Duta Askobi (Asosiasi Korban Bom Lima Bali) di sana, betul-betul kami meraup nilai serta visi misi sebagai agen perdamaian. Aku ajak Desarah untuk menemaniku, ia baik dan tidak manja, maka aku ajak dia. Di forum ini berbagai lintas agama disatukan. Mawar, dari Advent ia yang masih aku kenal karena kami bicara panjang mengenai agamanya dan agamaku. Masih banyak lagi, Nathan juga, dia katolik, juga baik. Ada Naci, dia penganut budhist, lembut. Dan masih banyak lagi. 

Alhamdulillah, diakhir aku dipilih untuk memimpin ikrar. Salah satu mimpiku yang paling aku inginkan, meminpin ikrar kebajikan. Setelah event itu, aku lulus lagi untuk FOR5.

Karena di forum-forum aku bisa merasai bagaimana pelajaran dari persahabatan yang tidak bisa aku dapati dalam kelas. Terima kasih, Tuhan, Engkau sahabat terbaikku selama ini. Terima kasih, Sahabat.. Kau buatku merasa menjadi manusia yang bisa memandang gerak kehidupan.



dalam keadaan seperti ini...
aku butuh menulis juga. 

gu, maaf aku ya. sering aku juga merasa bersalah padamu, juga pada sehu. apa yang aku cari? kadang terlalu pekat menyiksa tubuh pelan-pelan. makin menggali, makin ada batasan-batasan yang aku temukan dalam diri sendiri. apa aku masih manja, gu? orang bilang, terlalu pagi bilang badai pasti kembali. cuma, aku khawatir pada hati sendiri. ia terluka, gu. pelan-pelan aku obati lukanya, tapi bekasnya jika dilihat ke dalam masih ada bagian yang paling perih jika dirasa-rasa, ingat masa ke belakang. tak baik memang, tapi pikiran punya polanya, hidup juga begitu, menulis juga begitu. kita cuma membutuhkan pegangan formula apa yang akan kita jadikan kerangkanya.

orang tak mengerti tentangku. tapi ada bagian dari mereka yang terus sok tahu. aku tak terlalu suka. tapi dengan begitu, aku sombong dalam tiap interaksi. tidak baik, kataku pada diri. kita yang punya keunikan digabung dengan keunikan akan menghasilkan lebih dari dua keunikan. gu, rasanya bahasa makin menyediakan lapang untuk peti-peti pikiran kedalamkan. kepalaku itu terasa begitu sempit, begitu banyak yang aku pertanyakan, yang ingin aku nyatakan, yang ingin aku utarakan. tapi ia terjebak, mana yang lebih dulu harus aku kemukakan.

genetik sunyi ini, gu.

belum bisa mengubahku jadi manusia senyatanya dalam permukaan bumi. rasanya dingin, seperti zombie. seperti politik dalam negeri. mungkin, aku cuma haus. ingin minum darah lagi. sehu, ajari aku terbang, gu. kalau malam tiba, kami tanggal di bawah cahaya bulan. pelan-pelan sehu mengajariku cara melucu. mulanya, aku berpikir kalau vampire tak bisa melucu. ternyata bisa juga. descartes tertawa memandang hume. aku tertawa tak bisa ketawa. hhe.

gu, jika kematian itu akhirnya tiba. satu di antara kita lebih cepat meninggalkan bahasanya. meninggalkan setangkup peliharaan di bumi. gu, bisa menerima itu kan? aku juga bisa melepas itu? meski, mata kita cuma sebatas dipantulkan monitor. tapi, dalam lahan bahasa. sering kita bermain. aku menyukai pangkuanmu, bisikku kala itu. iya af, balasmu. dalam dunia ini, cuma bahasa yang buat gerakkan sukacita rasa hidup sebagaimana logika keterlepasan. gu, hidup ini indah kan ya? Tuhan memeluk kita. ia tak biarkan kita sendiri. oleh karena Ia pun terlalu Maha Esa dengan segala kemahasempurnaannya. apa yang manusia bisa perbuat atas jalan kehendaknya?

gu, wisuda telah berakhir. aku lulus dengan predikat siswi berprestasi dan dua penghargaan lainnya. aku mensyukurinya atas perjuanganku dalam keasingan selama ini. tapi hatiku masih hampa oleh karena apa yang aku targetkan selama ini tidak meluluskanku dengan jalan pertama. guru-guru memelukku. kamu adalah intan, begitu bisik walikelas terakhirku. tapi aku masih diam. lemas sekujur tubuhku. pak kepsek mendekat, ia hampir menyentuh wajahku. ia mengambil bulu mata pasang itu yang mulai hilang perekatnya. karena lama aku menumpukkan dahi pada kursi depan. bukan akhir segalanya, bapak tahu afril adalah siswi terbaik maka ujiannya pun besar, tapi ujian besar itulah yang mengantarkan orang-orang pada kebesarannya. begitu yang aku terjemahkan dari pak jenal, kepala sekolah yang sangat baik. beliau sering menyemangatiku, gu. aku dekat dengannya. pak in-in juga, pak asep yang lucu, dan pak dedi tempat aku membagi ruang diskusi hidup. 

gu, aku  mulai berpikir. apa aku harus merasakan jatuh cinta? temanku bilang seperti itu. tapi diri sendiri tidak. apa yang aku cinta saat ini, adalah apa yang selalu berusaha ada dalam keberadaan keadaannya. ibuku sempurna, ayahku juga, saudaraku juga, semua keluarga yang Tuhan berikan ini memiliki cinta yang besar, dengan masing-masing perwujudannya.

telapak-telapakku dingin gu. dalam keadaan seperti ini, mudah sekali suhu tubuhku menurun. aku seperti zombie, kataku di atas. yang ingin menemukan surganya.

---
afta

Menjadi Zombie, Gu



dalam keadaan seperti ini...
aku butuh menulis juga. 

gu, maaf aku ya. sering aku juga merasa bersalah padamu, juga pada sehu. apa yang aku cari? kadang terlalu pekat menyiksa tubuh pelan-pelan. makin menggali, makin ada batasan-batasan yang aku temukan dalam diri sendiri. apa aku masih manja, gu? orang bilang, terlalu pagi bilang badai pasti kembali. cuma, aku khawatir pada hati sendiri. ia terluka, gu. pelan-pelan aku obati lukanya, tapi bekasnya jika dilihat ke dalam masih ada bagian yang paling perih jika dirasa-rasa, ingat masa ke belakang. tak baik memang, tapi pikiran punya polanya, hidup juga begitu, menulis juga begitu. kita cuma membutuhkan pegangan formula apa yang akan kita jadikan kerangkanya.

orang tak mengerti tentangku. tapi ada bagian dari mereka yang terus sok tahu. aku tak terlalu suka. tapi dengan begitu, aku sombong dalam tiap interaksi. tidak baik, kataku pada diri. kita yang punya keunikan digabung dengan keunikan akan menghasilkan lebih dari dua keunikan. gu, rasanya bahasa makin menyediakan lapang untuk peti-peti pikiran kedalamkan. kepalaku itu terasa begitu sempit, begitu banyak yang aku pertanyakan, yang ingin aku nyatakan, yang ingin aku utarakan. tapi ia terjebak, mana yang lebih dulu harus aku kemukakan.

genetik sunyi ini, gu.

belum bisa mengubahku jadi manusia senyatanya dalam permukaan bumi. rasanya dingin, seperti zombie. seperti politik dalam negeri. mungkin, aku cuma haus. ingin minum darah lagi. sehu, ajari aku terbang, gu. kalau malam tiba, kami tanggal di bawah cahaya bulan. pelan-pelan sehu mengajariku cara melucu. mulanya, aku berpikir kalau vampire tak bisa melucu. ternyata bisa juga. descartes tertawa memandang hume. aku tertawa tak bisa ketawa. hhe.

gu, jika kematian itu akhirnya tiba. satu di antara kita lebih cepat meninggalkan bahasanya. meninggalkan setangkup peliharaan di bumi. gu, bisa menerima itu kan? aku juga bisa melepas itu? meski, mata kita cuma sebatas dipantulkan monitor. tapi, dalam lahan bahasa. sering kita bermain. aku menyukai pangkuanmu, bisikku kala itu. iya af, balasmu. dalam dunia ini, cuma bahasa yang buat gerakkan sukacita rasa hidup sebagaimana logika keterlepasan. gu, hidup ini indah kan ya? Tuhan memeluk kita. ia tak biarkan kita sendiri. oleh karena Ia pun terlalu Maha Esa dengan segala kemahasempurnaannya. apa yang manusia bisa perbuat atas jalan kehendaknya?

gu, wisuda telah berakhir. aku lulus dengan predikat siswi berprestasi dan dua penghargaan lainnya. aku mensyukurinya atas perjuanganku dalam keasingan selama ini. tapi hatiku masih hampa oleh karena apa yang aku targetkan selama ini tidak meluluskanku dengan jalan pertama. guru-guru memelukku. kamu adalah intan, begitu bisik walikelas terakhirku. tapi aku masih diam. lemas sekujur tubuhku. pak kepsek mendekat, ia hampir menyentuh wajahku. ia mengambil bulu mata pasang itu yang mulai hilang perekatnya. karena lama aku menumpukkan dahi pada kursi depan. bukan akhir segalanya, bapak tahu afril adalah siswi terbaik maka ujiannya pun besar, tapi ujian besar itulah yang mengantarkan orang-orang pada kebesarannya. begitu yang aku terjemahkan dari pak jenal, kepala sekolah yang sangat baik. beliau sering menyemangatiku, gu. aku dekat dengannya. pak in-in juga, pak asep yang lucu, dan pak dedi tempat aku membagi ruang diskusi hidup. 

gu, aku  mulai berpikir. apa aku harus merasakan jatuh cinta? temanku bilang seperti itu. tapi diri sendiri tidak. apa yang aku cinta saat ini, adalah apa yang selalu berusaha ada dalam keberadaan keadaannya. ibuku sempurna, ayahku juga, saudaraku juga, semua keluarga yang Tuhan berikan ini memiliki cinta yang besar, dengan masing-masing perwujudannya.

telapak-telapakku dingin gu. dalam keadaan seperti ini, mudah sekali suhu tubuhku menurun. aku seperti zombie, kataku di atas. yang ingin menemukan surganya.

---
afta






Siul awan di langit merekah
seperti kembang kintani
Abu ke bungur, lalu menitih putih ke mata-
yang ditampun cita dan cinta, duka-suka kecil jalan.
Engkau itu guruku...
Engkau itu sahabat baikku…

Akhir Juli yang indah di tahun 2011, kami dipertemukan dari berbagai latar belakang dan perbedaan, melebur satu sebagai kesatuan insan yang memiliki visi menjadi muslim yang memiliki kualitas masa depan yang gemilang. Masa Orientasi Pendidikan Peserta Didik (MOPD) menjadi awal bersatunya satu keluarga insan SMA Almuttaqin. Mulai menyusun bait-bait kenangan, suka duka kami arungi bersama selama tiga tahun.

Sembilan, Cinta Pertama saat SMA






Siul awan di langit merekah
seperti kembang kintani
Abu ke bungur, lalu menitih putih ke mata-
yang ditampun cita dan cinta, duka-suka kecil jalan.
Engkau itu guruku...
Engkau itu sahabat baikku…

Akhir Juli yang indah di tahun 2011, kami dipertemukan dari berbagai latar belakang dan perbedaan, melebur satu sebagai kesatuan insan yang memiliki visi menjadi muslim yang memiliki kualitas masa depan yang gemilang. Masa Orientasi Pendidikan Peserta Didik (MOPD) menjadi awal bersatunya satu keluarga insan SMA Almuttaqin. Mulai menyusun bait-bait kenangan, suka duka kami arungi bersama selama tiga tahun.






Saatnya remaja mengenal peran dan kontribusi untuk lingkungan disekitarnya dan Indonesia. Melalui Forum Pelajar Nasional FOR 5 yang diadakan selama sepekan penuh (18-22 Desember 2013) para pelajar terpilih se-Indonesia yang terjaring dari seleksi dan syarat yang ketat telah membawa aspirasi dari latar belakang yang beragam. Kegiatan yang diselenggarakan di Jakarta mendapatkan apresiasi positif dari narasumber dan tokoh-tokoh yang berkompeten. Antusias para peserta mewarnai semangat dalam mencapai visi memajukan Indonesia.

Forum Pelajar Indonesia adalah kegiatan yang menyediakan ruang seluas-luasnya bagi pelajar tingkat SMA, SMK ataupun MA untuk berkreasi dan berinovasi menyampaikan ide dan gagasan mereka baik kepada Masyarakat, Pemerintah ataupun kepada Pelaku Bisnis. Forum ini diprakarsai oleh “Indonesia Student And Youth Forum (ISYF)”yang peduli terhadap aspirasi pelajar.

Forum Pelajar Indonesia adalah Agenda tahunan yang sudah berlangsung sejak tahun 2009. Selama empat tahun penyelenggaraan, Forum Pelajar Indonesia telah memberikan dampak yang positif kepada seluruh pelajar di Indonesia dan juga kepada stakeholder. Saat ini sudah 1200 pelajar yang tersebar di 27 provinsi menjadi anggota dari Forum Pelajar Indonesia. Selain itu kegiatan ini telah membangun kemitraan strategis dengan berbagai lembaga pemerintahan, BUMN, swasta, perusahaan, media dan komunitas masyarakat sipil.

Forum Pelajar Indonesia  merupakan media yang strategis untuk membangun jaringan diantara pelajar Indonesia, sebanyak 256 pelajar terpilih telah berpartisipasi dari berbagai latar belakang yang tersebar di 22 provinsi di Indonesia.

Kota Tasikmalaya akhirnya dapat mengirim delegasi untuk pertama kali setelah lima kali acara FOR diadakan. SMA Almuttaqin Kota Tasikmalaya sejauh ini sudah mulai mendobrak motivasi untuk berkompetesi secara nasional, serta mendorong siswa dan siswi untuk berani aktif dalam forum-forum nasional.

“Dalam Forum inilah, saya banyak mempelajari dan mengenal betapa dahsyatnya potensi yang kita miliki. Semangat perubahan untuk Indonesia lebih baik telah jauhari ada dalam daya juang selama ini, kami sebagai anak bangsa siap memulainya!” Ungkap Affrilia, siswi SMA Almuttaqin menjadi delegasi dari Kota Tasikmalaya.

Bentuk kegiatan Forum Pelajar Indonesia ke-5 adalah Dialog Pelajar dengan (Ketua BP2TKI, Kepala BPKKBN, Sutradara Hanung Bramantyo, Wakil Ketua Umum PBB, Ketua GRSP, Jend. (Purn) Luhut A. P, Menteri Koperasi dan UKM, Pengusaha, Ketua Politisi Partai, Tokoh Nasional, Duta Diplomasi Negara Amerika dll), Workshop Keterampilan, Kunjungan (perusahaan asuransi terbesar, lembaga negara, kunjungan kedutaan, dll), sosialisasi topik-topik gerakan (kreatif untuk Indonesia, media nasional dan lokal, dll), Diskusi Kelompok, Working Group MPGG (Merah Putih Gaya Gue), dan ditutup dengan Pentas Budaya Nusantara.

“Harapan saya Semua pelajar indonesia bangga dengan negara dan bangsanya. Pelajar indonesia bisa bersatu bersama-sama berkreasi dan berinovasi nyata dimanapun di wilayah indonesia” Harapan Fajar Kuniawan, Director of ISYF & FOR.


Melalui forum-forum seperti inilah yang dibutuhkan para remaja dan anak muda bangsa untuk mengembangkan kemampuan dan melebarkan semangat visi untuk masa depan bangsa lebih baik. Mengenal secara langsung dan diskusi antar tokoh dapat memacu daya kritis, keberanian, serta mengasah kreatifitas berinovasi pelajar untuk mengenali negeri Indonesia.

-------

Afta.

“AYO Kreatif untuk Indonesia”





Saatnya remaja mengenal peran dan kontribusi untuk lingkungan disekitarnya dan Indonesia. Melalui Forum Pelajar Nasional FOR 5 yang diadakan selama sepekan penuh (18-22 Desember 2013) para pelajar terpilih se-Indonesia yang terjaring dari seleksi dan syarat yang ketat telah membawa aspirasi dari latar belakang yang beragam. Kegiatan yang diselenggarakan di Jakarta mendapatkan apresiasi positif dari narasumber dan tokoh-tokoh yang berkompeten. Antusias para peserta mewarnai semangat dalam mencapai visi memajukan Indonesia.

Forum Pelajar Indonesia adalah kegiatan yang menyediakan ruang seluas-luasnya bagi pelajar tingkat SMA, SMK ataupun MA untuk berkreasi dan berinovasi menyampaikan ide dan gagasan mereka baik kepada Masyarakat, Pemerintah ataupun kepada Pelaku Bisnis. Forum ini diprakarsai oleh “Indonesia Student And Youth Forum (ISYF)”yang peduli terhadap aspirasi pelajar.

Forum Pelajar Indonesia adalah Agenda tahunan yang sudah berlangsung sejak tahun 2009. Selama empat tahun penyelenggaraan, Forum Pelajar Indonesia telah memberikan dampak yang positif kepada seluruh pelajar di Indonesia dan juga kepada stakeholder. Saat ini sudah 1200 pelajar yang tersebar di 27 provinsi menjadi anggota dari Forum Pelajar Indonesia. Selain itu kegiatan ini telah membangun kemitraan strategis dengan berbagai lembaga pemerintahan, BUMN, swasta, perusahaan, media dan komunitas masyarakat sipil.

Forum Pelajar Indonesia  merupakan media yang strategis untuk membangun jaringan diantara pelajar Indonesia, sebanyak 256 pelajar terpilih telah berpartisipasi dari berbagai latar belakang yang tersebar di 22 provinsi di Indonesia.

Kota Tasikmalaya akhirnya dapat mengirim delegasi untuk pertama kali setelah lima kali acara FOR diadakan. SMA Almuttaqin Kota Tasikmalaya sejauh ini sudah mulai mendobrak motivasi untuk berkompetesi secara nasional, serta mendorong siswa dan siswi untuk berani aktif dalam forum-forum nasional.

“Dalam Forum inilah, saya banyak mempelajari dan mengenal betapa dahsyatnya potensi yang kita miliki. Semangat perubahan untuk Indonesia lebih baik telah jauhari ada dalam daya juang selama ini, kami sebagai anak bangsa siap memulainya!” Ungkap Affrilia, siswi SMA Almuttaqin menjadi delegasi dari Kota Tasikmalaya.

Bentuk kegiatan Forum Pelajar Indonesia ke-5 adalah Dialog Pelajar dengan (Ketua BP2TKI, Kepala BPKKBN, Sutradara Hanung Bramantyo, Wakil Ketua Umum PBB, Ketua GRSP, Jend. (Purn) Luhut A. P, Menteri Koperasi dan UKM, Pengusaha, Ketua Politisi Partai, Tokoh Nasional, Duta Diplomasi Negara Amerika dll), Workshop Keterampilan, Kunjungan (perusahaan asuransi terbesar, lembaga negara, kunjungan kedutaan, dll), sosialisasi topik-topik gerakan (kreatif untuk Indonesia, media nasional dan lokal, dll), Diskusi Kelompok, Working Group MPGG (Merah Putih Gaya Gue), dan ditutup dengan Pentas Budaya Nusantara.

“Harapan saya Semua pelajar indonesia bangga dengan negara dan bangsanya. Pelajar indonesia bisa bersatu bersama-sama berkreasi dan berinovasi nyata dimanapun di wilayah indonesia” Harapan Fajar Kuniawan, Director of ISYF & FOR.


Melalui forum-forum seperti inilah yang dibutuhkan para remaja dan anak muda bangsa untuk mengembangkan kemampuan dan melebarkan semangat visi untuk masa depan bangsa lebih baik. Mengenal secara langsung dan diskusi antar tokoh dapat memacu daya kritis, keberanian, serta mengasah kreatifitas berinovasi pelajar untuk mengenali negeri Indonesia.

-------

Afta.



Begitulah cara aku menyayangimu, kamu hanya perlu pejam dan aku akan ada di sana. Tekun menulis hal-hal tentang perdamaian. Meski dalam politik kita ini, semua seakan hilang dari arah semestinya, tapi orang-orang memikirkan hal yang semestinya pun relatif, Saudaraku. Nasib bangsa ini, jika bukan kita. Siapa lagi yang akan mengabulkan harapannya.

Sekarang, dakwah pun dipertarungkan atas sebuah kepentingan parpol. Siapa yang tahu, apa taruhan mereka selanjutnya. Konsulidasi hanya atas sebuah judul dan jargon-jargon yang seperti biasa, memuat kenarsisan mereka di layar tivi, di kolom koran-koran nasional sampai daerah, dimuat dalam link internet, lalu akhirnya membuat lagi spanduk dan poster tak karuan di jalan-jalan. Politik kita sudah tak sehat, karena orang-orang yang menjalaninya memang sakit semua. Hidup sehat akan dimulai, ketika diri sudah menyadari telah ada cinta untuk dirinya. Damai didukung oleh jiwa yang sehat.

Harus bagaimana, membuat bangsa merindukan kedamaianya. Gestafu, sudah berakhir barangkali. Tapi jaringan terorisme terus merambah, seperti sinyal yang terus diperluas dan diperkuat jaringannya. Banyak praktek-praktek hasil demokratisasi yang tak sempurna, anarkisme yang makin buming dari kalangan yang tua sampai ke yang anak ingusan. Hukum ini dibuat dengan jujur, tapi orang-orang yang terlibat dalam naungannya tak jujur dan malah cenderung menggunakan pasal-pasal dengan amat lebaynya. Padahal, buahnya damai ialai saling mencinta, dan bibitnya damai dimulai dari cinta terhadap perdamaian. 

Yaa Robb, aku berdoa semoga Indonesia dapat menjadi negara yang makmur dan bangsanya dapat memiliki iman yang kuat. Negara akan maju, apabila seluruh bangsanya saling ingin membangun. Sikap apatis terhadap politik Indonesia, bukan cara berkontribusi terhadap pembangunan negeri ini. Ia hanya bagian hasil dari produk kepasrahan. Kepasrahan yang terlalu, tak baik pula. Air itu bisa menguap dan hilang. Ya, hidup itu setidaknya seperti atom-atom yang terus berkumpul dan mengadakan pembentukkan. Jadilah ia benda langit yang tinggi itu, yang bercahaya itu, lalu ia berkumpul jadilah galaksi, jadilah taman langit, kemudian dari putaran ibadahnya ia memadat, jadilah ia planet. Di atas planet itu, terjadilan kehidupan, apabila Engkau menyanggupi itu. Islam itu menolong, bukan menikam.


Begitulah, aku menyayangi negeri ini. Sekuat-kuatnya berusaha mengenali cinta pada objeknya (baca: iman). Indonesia sedang memerlukan cinta dari bangsanya.

-------

Afta.

Perdamaian Milik Kita!



Begitulah cara aku menyayangimu, kamu hanya perlu pejam dan aku akan ada di sana. Tekun menulis hal-hal tentang perdamaian. Meski dalam politik kita ini, semua seakan hilang dari arah semestinya, tapi orang-orang memikirkan hal yang semestinya pun relatif, Saudaraku. Nasib bangsa ini, jika bukan kita. Siapa lagi yang akan mengabulkan harapannya.

Sekarang, dakwah pun dipertarungkan atas sebuah kepentingan parpol. Siapa yang tahu, apa taruhan mereka selanjutnya. Konsulidasi hanya atas sebuah judul dan jargon-jargon yang seperti biasa, memuat kenarsisan mereka di layar tivi, di kolom koran-koran nasional sampai daerah, dimuat dalam link internet, lalu akhirnya membuat lagi spanduk dan poster tak karuan di jalan-jalan. Politik kita sudah tak sehat, karena orang-orang yang menjalaninya memang sakit semua. Hidup sehat akan dimulai, ketika diri sudah menyadari telah ada cinta untuk dirinya. Damai didukung oleh jiwa yang sehat.

Harus bagaimana, membuat bangsa merindukan kedamaianya. Gestafu, sudah berakhir barangkali. Tapi jaringan terorisme terus merambah, seperti sinyal yang terus diperluas dan diperkuat jaringannya. Banyak praktek-praktek hasil demokratisasi yang tak sempurna, anarkisme yang makin buming dari kalangan yang tua sampai ke yang anak ingusan. Hukum ini dibuat dengan jujur, tapi orang-orang yang terlibat dalam naungannya tak jujur dan malah cenderung menggunakan pasal-pasal dengan amat lebaynya. Padahal, buahnya damai ialai saling mencinta, dan bibitnya damai dimulai dari cinta terhadap perdamaian. 

Yaa Robb, aku berdoa semoga Indonesia dapat menjadi negara yang makmur dan bangsanya dapat memiliki iman yang kuat. Negara akan maju, apabila seluruh bangsanya saling ingin membangun. Sikap apatis terhadap politik Indonesia, bukan cara berkontribusi terhadap pembangunan negeri ini. Ia hanya bagian hasil dari produk kepasrahan. Kepasrahan yang terlalu, tak baik pula. Air itu bisa menguap dan hilang. Ya, hidup itu setidaknya seperti atom-atom yang terus berkumpul dan mengadakan pembentukkan. Jadilah ia benda langit yang tinggi itu, yang bercahaya itu, lalu ia berkumpul jadilah galaksi, jadilah taman langit, kemudian dari putaran ibadahnya ia memadat, jadilah ia planet. Di atas planet itu, terjadilan kehidupan, apabila Engkau menyanggupi itu. Islam itu menolong, bukan menikam.


Begitulah, aku menyayangi negeri ini. Sekuat-kuatnya berusaha mengenali cinta pada objeknya (baca: iman). Indonesia sedang memerlukan cinta dari bangsanya.

-------

Afta.

historis

"ketragisan dari historis bukan dijadikan keruncingan yang fundumental membocorkan balon kesatuan umat manusia dalam nusantara." -Afrilia

Af's Quote

Orang boleh bebas dalam dunia imajinasinya dan menghidupi apa yang lama dimimpikannya. Dari mimpi ke perubahan berarti. Dari prosesi yang dapat dipelajari dapat menumbuhkan jiwa-jiwa yang lebih bijak menghargai nilai dan penemuan dalam sekali hidupnya.

Einsten's Quote

"Jika A adalah kesuksesan dalam hidup, maka A=x+y+z
Bekerja adalah x, bermain adalah y dan z adalah menjaga mulutmu untuk diam."

Buya Hamka's Quote

"Jangan takut jatuh karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan baru dan cari jalan yang benar pada langkah yang kedua."

Agus Salim's Quote

"Een leidersweg is een lijdensweg. Leiden is lijden.

[Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah menderita.]”

Niccolo M's Quote

"Ada tiga kelas dari intelektualitas: satu yang memahami sesuatu dengan sendirinya, lainnya adalah yang menghargai apa yang lain pahami, dan ketiga yang tidak memahami dengan sedirinya juga tidak oleh orang lain. Yang pertama paling baik, kedua baik, dan ketiga tidak berguna."