Perdamaian Milik Kita!
Begitulah cara aku
menyayangimu, kamu hanya perlu pejam dan aku akan ada di sana. Tekun menulis
hal-hal tentang perdamaian. Meski dalam politik kita ini, semua seakan hilang
dari arah semestinya, tapi orang-orang memikirkan hal yang semestinya pun
relatif, Saudaraku. Nasib bangsa ini, jika bukan kita. Siapa lagi yang akan
mengabulkan harapannya.
Sekarang, dakwah pun
dipertarungkan atas sebuah kepentingan parpol. Siapa yang tahu, apa taruhan
mereka selanjutnya. Konsulidasi hanya atas sebuah judul dan jargon-jargon yang
seperti biasa, memuat kenarsisan mereka di layar tivi, di kolom koran-koran
nasional sampai daerah, dimuat dalam link internet, lalu akhirnya membuat lagi
spanduk dan poster tak karuan di jalan-jalan. Politik kita sudah tak sehat,
karena orang-orang yang menjalaninya memang sakit semua. Hidup sehat akan
dimulai, ketika diri sudah menyadari telah ada cinta untuk dirinya. Damai
didukung oleh jiwa yang sehat.
Harus bagaimana, membuat
bangsa merindukan kedamaianya. Gestafu, sudah berakhir barangkali. Tapi
jaringan terorisme terus merambah, seperti sinyal yang terus diperluas dan
diperkuat jaringannya. Banyak praktek-praktek hasil demokratisasi yang tak
sempurna, anarkisme yang makin buming dari kalangan yang tua sampai ke yang
anak ingusan. Hukum ini dibuat dengan jujur, tapi orang-orang yang terlibat
dalam naungannya tak jujur dan malah cenderung menggunakan pasal-pasal dengan
amat lebaynya. Padahal, buahnya damai ialai saling mencinta, dan bibitnya damai
dimulai dari cinta terhadap perdamaian.
Yaa Robb, aku berdoa
semoga Indonesia dapat menjadi negara yang makmur dan bangsanya dapat memiliki
iman yang kuat. Negara akan maju, apabila seluruh bangsanya saling ingin
membangun. Sikap apatis terhadap politik Indonesia, bukan cara berkontribusi
terhadap pembangunan negeri ini. Ia hanya bagian hasil dari produk kepasrahan.
Kepasrahan yang terlalu, tak baik pula. Air itu bisa menguap dan hilang. Ya, hidup
itu setidaknya seperti atom-atom yang terus berkumpul dan mengadakan
pembentukkan. Jadilah ia benda langit yang tinggi itu, yang bercahaya itu, lalu
ia berkumpul jadilah galaksi, jadilah taman langit, kemudian dari putaran
ibadahnya ia memadat, jadilah ia planet. Di atas planet itu, terjadilan
kehidupan, apabila Engkau menyanggupi itu. Islam itu menolong, bukan menikam.
Begitulah, aku
menyayangi negeri ini. Sekuat-kuatnya berusaha mengenali cinta pada objeknya
(baca: iman). Indonesia sedang memerlukan cinta dari bangsanya.
-------
Afta.
