background img

The New Stuff


Oleh Djazlam Zainal, Kritikus Sastra Malaysia

Memang tidak dinafikan, setiap zaman akan muncul manusia genius dalam bidangnya. Begitu juga dalam bidang sastra di mana negara atau ras-ras tertentu di pojok dunia mana pun. Apabila suatu ketika Indonesia dianugerahi Chairil Anwar, Amir Hamzah, W.S. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono dan lain-lain, maka akan tiba masanya, waktu itu dirombak dan diperbarui dengan kehadiran muka-muka baru dengan pengucapan yang bersesuaian dengan masa dan ketika. Ketika saya menatapi Halte Biru karya Afrilia Utami ( Penerbit Silalatu, 2014. 79 halaman ) saya merasakan bahwa saat sudah tiba bagi Indonesia menerima kehadiran yang baru ini.

MELIHAT HALTE BIRU OLEH KRITIKUS MALAYSIA


Oleh Djazlam Zainal, Kritikus Sastra Malaysia

Memang tidak dinafikan, setiap zaman akan muncul manusia genius dalam bidangnya. Begitu juga dalam bidang sastra di mana negara atau ras-ras tertentu di pojok dunia mana pun. Apabila suatu ketika Indonesia dianugerahi Chairil Anwar, Amir Hamzah, W.S. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono dan lain-lain, maka akan tiba masanya, waktu itu dirombak dan diperbarui dengan kehadiran muka-muka baru dengan pengucapan yang bersesuaian dengan masa dan ketika. Ketika saya menatapi Halte Biru karya Afrilia Utami ( Penerbit Silalatu, 2014. 79 halaman ) saya merasakan bahwa saat sudah tiba bagi Indonesia menerima kehadiran yang baru ini.

HARAPAN INDONESIA ADA PADA MAHASISWANYA
Oleh Affrilia Utami


“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”
-Soe Hok Gie
            Korupsi di Indonesia dari masa ke masa telah mentransformasi banyak tragedi komedi ke dalam sejarah merah. Secara sederharna, korupsi dapat diartikan sebagai segala kegiatan yang memanipulasi, merusak, merugikan, membunuh nilai-nilai kaidah dalam berbangsa dan berkehidupan sosial. Indonesia menerima pukulan ini dari masa ke masa.
            Pada zaman VOC, dipicu oleh ketidak puasan para pegawainya atas gaji yang diterimanya yang sangat minim. Sebagai akibat dari monopoli yang praktikkan oleh manajemen VOC. Kerusakan moral pegawai VOC yang korup mencerminkan keburukan manajemen dan sistem dagang oleh para elite VOC. Di masa pemerintahan orde lama, korupsi bukan saja tidak dapat diberantas tetapi juga tidak dapat dikendalikan. Presiden Soekarno terkesan tidak dapat mengendalikan militer yang saat itu diberi kewenangan untuk melaksanakan kebijakan nasionalisasi. Menuju ke masa orde baru, korupsi semakin marak bocor ditubuh-tubuh birokrasi.
            Pada masa pemerintahan Megawati[1], pemerintah kemudian membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui UU No. 30 Tahun 2002. Struktur dan kelembagaan KPK tidak dipengaruhi oleh kekuasaan manapun. Selanjutnya, di masa pemerintahan SBY, kinerja KPK untuk memberantas korupsi sangat menonjol. Sudah menjamah Birokrat, politisi, pejabat BI, polisi, Jaksa di Kejaksaan Agung, hakin di MA, anggota legislatif, duta besar dan menteri.
            Bercermin pada sejarah korupsi dari masa ke masa. Peran mahasiswa sebagai penerus roda kepemimpinan di masa depan, tidak boleh lepas dari nilai-nilai tridharma perguruan tinggi; pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Kendati, serangan akan pendestruktifan kualitas moral dan mental menjadi senjata yang paling mudah ditemui di zaman globalisasi seperti ini.
            Soe Hok Gie, seorang tokoh mahasiswa yang peduli dan membuka pemikirannya ke dalam tulisan. Gie bersuara akan pencanangan keadilan dan suara mahasiswa dalam “Catatan sang Demonstran” Soe Hok Gie menelurkan butir semangat perjuangan, meskipun masih berputar pada kritik di zamannya.     
            Keadaan Indonesia di masa mendatang dapat diprediksikan dari wajah mahasiswanya kini.          Keterpedulian akan tanggung jawab harus dijaga dan diabadikan sebagai implementasi dari tridarma perguruan tinggi. Jika mahasiswa menjadi tukang-tukang atau followers tidaklah terjadi suatu perubahan yang fundamental. Mahasiswa perlu bersuara, bervisi mulia, dan sadar akan masa depan bangsa.  Sebagai mahasiswa apa yang harus dilakukan?
            Pertama, sebab terjadinya korupsi permasalahan utama ada pada nilai-nilai moral yang sudah hancur. Sebagai mahasiswa yang bertanggung jawab, tanam dan pupuklah benih suara kehidupan lebih baik dengan mendedikasikan dirinya secara optimal dan jujur.
            Kedua, disebabkan oleh rasa ketidakpuasan dan kesempatan untuk melakukan. Semangat nilai agama perlu dikuatkan dalam pembentukkan pondasi pribadi insani. Dalam pancasila butir satu, jelas menyatakan kalau Indonesia adalah negara beragama. Meski heran, banyak yang mengaku agamawan masih terjaring kasus serupa. Di sini, mahasiswa secara sadar perlu tanggap mengikuti perkembangan dan permasalahan sosial yang ada.
            Ketiga, rendahnya pendeteksian resiko dan penghukuman (low risk detection and punishment). Rezim selalu bersikap permisif terhadap elit yang berkuasa. Ukuran hukuman yang ditegakkan di Indonesia belum kuat untuk membuat korupsi reda dari ladangnya.  Kenapa tidak hukuman mati? Menyalahi HAM? Bukannya korupsi sudah lebih mencederai berdirinya HAM? Kalau tidak dihukum mati, dan penjara makin penuh, anggaran untuk makan dan sebagainya di dapat dari mana? Uang negara, dari rakyat kembali.   
            Mahasiswa akan mampu melepas nilai-nilai buruk yang sudah tumbuh di atas dengan semangat optimisme untuk mengenali negara yang dicintainya. Rasa memiliki yang menumbuhkan kesadaran untuk saling berkompetisi memajukan Indonesia di garda terdepan.
            Perguruan tinggi sebagai jembatan menuju kehidupan bermasyarakat lebih baik, perlu mendukung atmosfer lahirnya pemuda-pemudi revolusioner. Tidak sibuk membatasi pada aturan-aturan akademik atau lingkungan yang bersifat meredam ekspresi para mahasiswanya. Selama hal tersebut, merupakan jalan awal menuju individu yang siap berpartisipasi aktif memajukan negara anti-korupsi.



[1] Albab, Ulul. 2009. A to Z Korupsi. Surabaya. Penerbit: JP Book.

Esai Anti Korupsi - HARAPAN INDONESIA ADA PADA MAHASISWANYA

HARAPAN INDONESIA ADA PADA MAHASISWANYA
Oleh Affrilia Utami


“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”
-Soe Hok Gie
            Korupsi di Indonesia dari masa ke masa telah mentransformasi banyak tragedi komedi ke dalam sejarah merah. Secara sederharna, korupsi dapat diartikan sebagai segala kegiatan yang memanipulasi, merusak, merugikan, membunuh nilai-nilai kaidah dalam berbangsa dan berkehidupan sosial. Indonesia menerima pukulan ini dari masa ke masa.
            Pada zaman VOC, dipicu oleh ketidak puasan para pegawainya atas gaji yang diterimanya yang sangat minim. Sebagai akibat dari monopoli yang praktikkan oleh manajemen VOC. Kerusakan moral pegawai VOC yang korup mencerminkan keburukan manajemen dan sistem dagang oleh para elite VOC. Di masa pemerintahan orde lama, korupsi bukan saja tidak dapat diberantas tetapi juga tidak dapat dikendalikan. Presiden Soekarno terkesan tidak dapat mengendalikan militer yang saat itu diberi kewenangan untuk melaksanakan kebijakan nasionalisasi. Menuju ke masa orde baru, korupsi semakin marak bocor ditubuh-tubuh birokrasi.
            Pada masa pemerintahan Megawati[1], pemerintah kemudian membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui UU No. 30 Tahun 2002. Struktur dan kelembagaan KPK tidak dipengaruhi oleh kekuasaan manapun. Selanjutnya, di masa pemerintahan SBY, kinerja KPK untuk memberantas korupsi sangat menonjol. Sudah menjamah Birokrat, politisi, pejabat BI, polisi, Jaksa di Kejaksaan Agung, hakin di MA, anggota legislatif, duta besar dan menteri.
            Bercermin pada sejarah korupsi dari masa ke masa. Peran mahasiswa sebagai penerus roda kepemimpinan di masa depan, tidak boleh lepas dari nilai-nilai tridharma perguruan tinggi; pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Kendati, serangan akan pendestruktifan kualitas moral dan mental menjadi senjata yang paling mudah ditemui di zaman globalisasi seperti ini.
            Soe Hok Gie, seorang tokoh mahasiswa yang peduli dan membuka pemikirannya ke dalam tulisan. Gie bersuara akan pencanangan keadilan dan suara mahasiswa dalam “Catatan sang Demonstran” Soe Hok Gie menelurkan butir semangat perjuangan, meskipun masih berputar pada kritik di zamannya.     
            Keadaan Indonesia di masa mendatang dapat diprediksikan dari wajah mahasiswanya kini.          Keterpedulian akan tanggung jawab harus dijaga dan diabadikan sebagai implementasi dari tridarma perguruan tinggi. Jika mahasiswa menjadi tukang-tukang atau followers tidaklah terjadi suatu perubahan yang fundamental. Mahasiswa perlu bersuara, bervisi mulia, dan sadar akan masa depan bangsa.  Sebagai mahasiswa apa yang harus dilakukan?
            Pertama, sebab terjadinya korupsi permasalahan utama ada pada nilai-nilai moral yang sudah hancur. Sebagai mahasiswa yang bertanggung jawab, tanam dan pupuklah benih suara kehidupan lebih baik dengan mendedikasikan dirinya secara optimal dan jujur.
            Kedua, disebabkan oleh rasa ketidakpuasan dan kesempatan untuk melakukan. Semangat nilai agama perlu dikuatkan dalam pembentukkan pondasi pribadi insani. Dalam pancasila butir satu, jelas menyatakan kalau Indonesia adalah negara beragama. Meski heran, banyak yang mengaku agamawan masih terjaring kasus serupa. Di sini, mahasiswa secara sadar perlu tanggap mengikuti perkembangan dan permasalahan sosial yang ada.
            Ketiga, rendahnya pendeteksian resiko dan penghukuman (low risk detection and punishment). Rezim selalu bersikap permisif terhadap elit yang berkuasa. Ukuran hukuman yang ditegakkan di Indonesia belum kuat untuk membuat korupsi reda dari ladangnya.  Kenapa tidak hukuman mati? Menyalahi HAM? Bukannya korupsi sudah lebih mencederai berdirinya HAM? Kalau tidak dihukum mati, dan penjara makin penuh, anggaran untuk makan dan sebagainya di dapat dari mana? Uang negara, dari rakyat kembali.   
            Mahasiswa akan mampu melepas nilai-nilai buruk yang sudah tumbuh di atas dengan semangat optimisme untuk mengenali negara yang dicintainya. Rasa memiliki yang menumbuhkan kesadaran untuk saling berkompetisi memajukan Indonesia di garda terdepan.
            Perguruan tinggi sebagai jembatan menuju kehidupan bermasyarakat lebih baik, perlu mendukung atmosfer lahirnya pemuda-pemudi revolusioner. Tidak sibuk membatasi pada aturan-aturan akademik atau lingkungan yang bersifat meredam ekspresi para mahasiswanya. Selama hal tersebut, merupakan jalan awal menuju individu yang siap berpartisipasi aktif memajukan negara anti-korupsi.



[1] Albab, Ulul. 2009. A to Z Korupsi. Surabaya. Penerbit: JP Book.


MAHASISWA DAN SEJARAHNYA
Oleh Afrilia Utami



Telah aku saksikan desa-desa jadi perkotaan berlapis polusi
Tembok perbatasan diukir dengan humor dan peperangan
(sebelum sepasang kekasih, ibu dan anak dibakar bersamaan)
Di mana sang tuan tak menangis. (untuk itu).

(Pukul 3 pagi, saat membaca sandiwara dan peristiwa)
Seorang pejabat tinggi duduk nyaman di kamar
Tak menengok lagi kearahmu.  Salak anjing keluar-
Ditiap-tiap sudut persimpangan dan halte pemerintahan.

Enam puluh tahun silam, reformasi diikat pada seragam.
Musim mengeras tua dan Tan Malaka (dari balik selnya)
Mengetikan semi-alienasi (dicap komunis) dalam negeri.
Cuma seorang pemuda terperajar, berdirilah harapan.

(Pada tahun 45,
Daun tertutup sulut api, cuma sisa hujan
menepis ke balik wajah perempuan yang sendiri
menyulam bendera pusaka timur)
Masuklah ke dalam kelas-kelas kehidupan
Sebelum koruptor mengemis, bendera dikibarkan!

Cuma para mahasiswa sejati (yang benar mengerti)
Bibit dada dan deram pahlawan muda
Yang terlahir dalam pekat kabut panceklik
Memangkas suka cita yang mati dari sederet jari
Yang melukai ingatan para bangsanya sendiri...

Cuma para mahasiswa sejati
Menghangatkan darah untuk berbuat
Sampai ujung sejarah memarkirkannya.
(meski tanpa kartu nama, sekalipun!)

Dan para malaikat yang tak berwujud
Ke luar dari garisnya. (seperti desis angin)
Para mahasiswa membangun perahu nuh
Seolah zaman mengikat keberadaan masa silam
Garis-garis yang terus berkabung, bersambung...
Membangun peradaban keadilan di tebing-tebing jalan


20 Oktober 2014

*)Diikutkan dalam lomba anti korupsi Telkom University 

PUISI-MAHASISWA DAN SEJARAHNYA

MAHASISWA DAN SEJARAHNYA
Oleh Afrilia Utami



Telah aku saksikan desa-desa jadi perkotaan berlapis polusi
Tembok perbatasan diukir dengan humor dan peperangan
(sebelum sepasang kekasih, ibu dan anak dibakar bersamaan)
Di mana sang tuan tak menangis. (untuk itu).

(Pukul 3 pagi, saat membaca sandiwara dan peristiwa)
Seorang pejabat tinggi duduk nyaman di kamar
Tak menengok lagi kearahmu.  Salak anjing keluar-
Ditiap-tiap sudut persimpangan dan halte pemerintahan.

Enam puluh tahun silam, reformasi diikat pada seragam.
Musim mengeras tua dan Tan Malaka (dari balik selnya)
Mengetikan semi-alienasi (dicap komunis) dalam negeri.
Cuma seorang pemuda terperajar, berdirilah harapan.

(Pada tahun 45,
Daun tertutup sulut api, cuma sisa hujan
menepis ke balik wajah perempuan yang sendiri
menyulam bendera pusaka timur)
Masuklah ke dalam kelas-kelas kehidupan
Sebelum koruptor mengemis, bendera dikibarkan!

Cuma para mahasiswa sejati (yang benar mengerti)
Bibit dada dan deram pahlawan muda
Yang terlahir dalam pekat kabut panceklik
Memangkas suka cita yang mati dari sederet jari
Yang melukai ingatan para bangsanya sendiri...

Cuma para mahasiswa sejati
Menghangatkan darah untuk berbuat
Sampai ujung sejarah memarkirkannya.
(meski tanpa kartu nama, sekalipun!)

Dan para malaikat yang tak berwujud
Ke luar dari garisnya. (seperti desis angin)
Para mahasiswa membangun perahu nuh
Seolah zaman mengikat keberadaan masa silam
Garis-garis yang terus berkabung, bersambung...
Membangun peradaban keadilan di tebing-tebing jalan


20 Oktober 2014

*)Diikutkan dalam lomba anti korupsi Telkom University 




Abstract

Currently, Indonesia needs entrepreneurs who can drive economic growth forward anymore. To achieve it we need more knowledgeable workers. Relationship between learning organization (LO) and the retention of knowledge workers is very important. LO is organization learning, organization memory and expertise management. In order to attain competitive advantage which includes cost reduction and cost leadership too, companies are implementing LO. Various LO initiatives are taken by the organizations through LO programmes in order to enhance productivity, efficiency and innovation. The LO initiatives can be measured through business performance of the organization and usefulness of its LO initiatives. Organization uses LO as a tool for sustaining and improving their business performance .Thus for any of the LO programme to be successful it must be aligned with the organization vision, goals, mission and with the corporate strategy. If LO fails to add value to the organization, it is only cost intensive, useless, or even counter productive. The purpose of this essay to determine the effect of the relationship  between learning organization elements, job satisfaction facets and turnover intent as they emerge for their knowledge workers.

Introduction

According to Steve Offsey, Director, Knowledge Management Products, Dataware Technologies, Inc.,“Knowledge sharing is becoming the central driver of the 21stcentury”. It is accepted that knowledge, coupled with the potential to transform that knowledge into improved actions, can provide organisations with a competitive advantage (Drucker, 1964, 1998; De Geus, 1997). As such the aim of learning organisation (LO) models is to harness knowledge gained via individual and organisational learning in order to enable transformational rather than incremental change (McGill et al., 1992; Kontoghiorghes et al., 2005).

Based on survey by http://country.eiu.com/ that Indonesia’s score in our business environment rankings improves in 2014‑18, and its global ranking rises from 58th to 56th. However, it remains at 12th position in the regional rankings. Apart from the scores for policy towards foreign investment and foreign trade and exchange controls, which we expect to remain stable in 2014-18. In fact, Indonesia is still dominated by foreign markets. Indonesia requires qualified human resources in terms of both education and better practice with a good management. That can be realiaze from LO.

“Knowledge management is growing rapidly in importance and has gained great impetus. 10% of respondents said knowledge management was clearly transforming the way their organisation did business. This is a high proportion given the significance of any organisational transformation. Awareness of knowledge management increased with the size of organisation. All respondents from the largest companies had heard of knowledge management while just under a fifth from other companies had not.” (-www.ukessays.co.uk)

Explanation

As we know that the learning organization (LO) is an organization which provide a chance for the workers to get their education expanded with particular way. Knowledge workers are workers who have the knowledge and ability to use their ideas to solve problems in their company or make services or goods. To carry out the needs of the corporate cog. Suppose knowledgeable workers who are not well placed in the marketing strategy. Marketing could be hampered if the worker does not have a good insight, that's why there's a clear relationship between both.

Knowledge strategy in common addresses the organization's aims to exploit its knowledge resources in order to gain competitive advantage. Two alternative knowledge strategies can be chosen by organizations. These are the explorative strategy which aims at creating new knowledge and the exploitative strategy which aims at reusing existing knowledge.

The exploration strategy is generally more innovation-oriented, while the exploitation strategy aims at efficiency. Focusing solely on exploration can mean that the organization never gains from its investments in exploration of new knowledge, and focusing solely on exploitation may lead to knowledge obsolescence or even to the destruction of the organization. Thus explorative strategies are referred to be the creation of new knowledge while exploitative strategy are referred to be reuse and inter-organizational transfer of existing knowledge.

In this case as we know that the company will go forward if supported by human resources who have a good capability. Through LO, they have a better chance to hone their skills and also to create new ideas of services or goods is more profitable for the company, then the workers are going to apply the knowledge that they get for solving problems.

Knowledge workers will work happily placed in the right according to his ability, . Happiness affect the way they can complete responsibility be better. The company will catch benefit from the goods or services it produces.

When they  have better skills and experience are a good organization. Company benefit both in efficiency and effectiveness in providing services or goods. It is also supported by a quality manager in putting his knowledge workers the right place or position. And than, the LO programme can be successful it must be aligned with the organization vision, goals, mission and with the corporate strategy

It can be concluded that, The relationship between the relationship between organizations learning and the retention of knowledge workers is very important. Both can make a big impact for the company.

------------------------------------------------------------------------------------

References

This essay was referenced by the journal which written by Liz lee-kelly (university of surrey), Deborah A.Blackman (university of camberra), and Jeffrey Peter Hurts, emeraldinsight.com/0969-6474.htm

This essay was referenced by http://www.ukessays.co.uk/essays/business/information-and-knowledge.php

This essay was referenced by http://country.eiu.com/article.aspx?articleid=2001953184&Country=Indonesia&topic=Business&subtopic=Business+environment&subsubtopic=Rankings+overview

---------------
Name : Affrilia Utami
NIM    : 1401144500
Class  : A

To fulfil the task of Business Management from Mr. Dadang Iskandar.


Essay : The Relationship Between LO & Knowledge Workers




Abstract

Currently, Indonesia needs entrepreneurs who can drive economic growth forward anymore. To achieve it we need more knowledgeable workers. Relationship between learning organization (LO) and the retention of knowledge workers is very important. LO is organization learning, organization memory and expertise management. In order to attain competitive advantage which includes cost reduction and cost leadership too, companies are implementing LO. Various LO initiatives are taken by the organizations through LO programmes in order to enhance productivity, efficiency and innovation. The LO initiatives can be measured through business performance of the organization and usefulness of its LO initiatives. Organization uses LO as a tool for sustaining and improving their business performance .Thus for any of the LO programme to be successful it must be aligned with the organization vision, goals, mission and with the corporate strategy. If LO fails to add value to the organization, it is only cost intensive, useless, or even counter productive. The purpose of this essay to determine the effect of the relationship  between learning organization elements, job satisfaction facets and turnover intent as they emerge for their knowledge workers.

Introduction

According to Steve Offsey, Director, Knowledge Management Products, Dataware Technologies, Inc.,“Knowledge sharing is becoming the central driver of the 21stcentury”. It is accepted that knowledge, coupled with the potential to transform that knowledge into improved actions, can provide organisations with a competitive advantage (Drucker, 1964, 1998; De Geus, 1997). As such the aim of learning organisation (LO) models is to harness knowledge gained via individual and organisational learning in order to enable transformational rather than incremental change (McGill et al., 1992; Kontoghiorghes et al., 2005).

Based on survey by http://country.eiu.com/ that Indonesia’s score in our business environment rankings improves in 2014‑18, and its global ranking rises from 58th to 56th. However, it remains at 12th position in the regional rankings. Apart from the scores for policy towards foreign investment and foreign trade and exchange controls, which we expect to remain stable in 2014-18. In fact, Indonesia is still dominated by foreign markets. Indonesia requires qualified human resources in terms of both education and better practice with a good management. That can be realiaze from LO.

“Knowledge management is growing rapidly in importance and has gained great impetus. 10% of respondents said knowledge management was clearly transforming the way their organisation did business. This is a high proportion given the significance of any organisational transformation. Awareness of knowledge management increased with the size of organisation. All respondents from the largest companies had heard of knowledge management while just under a fifth from other companies had not.” (-www.ukessays.co.uk)

Explanation

As we know that the learning organization (LO) is an organization which provide a chance for the workers to get their education expanded with particular way. Knowledge workers are workers who have the knowledge and ability to use their ideas to solve problems in their company or make services or goods. To carry out the needs of the corporate cog. Suppose knowledgeable workers who are not well placed in the marketing strategy. Marketing could be hampered if the worker does not have a good insight, that's why there's a clear relationship between both.

Knowledge strategy in common addresses the organization's aims to exploit its knowledge resources in order to gain competitive advantage. Two alternative knowledge strategies can be chosen by organizations. These are the explorative strategy which aims at creating new knowledge and the exploitative strategy which aims at reusing existing knowledge.

The exploration strategy is generally more innovation-oriented, while the exploitation strategy aims at efficiency. Focusing solely on exploration can mean that the organization never gains from its investments in exploration of new knowledge, and focusing solely on exploitation may lead to knowledge obsolescence or even to the destruction of the organization. Thus explorative strategies are referred to be the creation of new knowledge while exploitative strategy are referred to be reuse and inter-organizational transfer of existing knowledge.

In this case as we know that the company will go forward if supported by human resources who have a good capability. Through LO, they have a better chance to hone their skills and also to create new ideas of services or goods is more profitable for the company, then the workers are going to apply the knowledge that they get for solving problems.

Knowledge workers will work happily placed in the right according to his ability, . Happiness affect the way they can complete responsibility be better. The company will catch benefit from the goods or services it produces.

When they  have better skills and experience are a good organization. Company benefit both in efficiency and effectiveness in providing services or goods. It is also supported by a quality manager in putting his knowledge workers the right place or position. And than, the LO programme can be successful it must be aligned with the organization vision, goals, mission and with the corporate strategy

It can be concluded that, The relationship between the relationship between organizations learning and the retention of knowledge workers is very important. Both can make a big impact for the company.

------------------------------------------------------------------------------------

References

This essay was referenced by the journal which written by Liz lee-kelly (university of surrey), Deborah A.Blackman (university of camberra), and Jeffrey Peter Hurts, emeraldinsight.com/0969-6474.htm

This essay was referenced by http://www.ukessays.co.uk/essays/business/information-and-knowledge.php

This essay was referenced by http://country.eiu.com/article.aspx?articleid=2001953184&Country=Indonesia&topic=Business&subtopic=Business+environment&subsubtopic=Rankings+overview

---------------
Name : Affrilia Utami
NIM    : 1401144500
Class  : A

To fulfil the task of Business Management from Mr. Dadang Iskandar.



DRAF-DRAF BUANGAN
Kepada Soe Hok Gie



Semua yang kita tebar pelan-pelan di bawah payung biru ini, Gie. Seperti nafas yang membentuk wujudnya, dan ia membentukmu dalam sarang ini. Jauh, sebelum itu Gie. Yang kita miliki dalam lahan bahasa adalah udara yang punya desir tepi pantai. Aku buat tanah berwarna biru, seperti halte tempat kita menunggu, tempat untuk saling temu. Lahan begitu terjal, seperti gunung yang memeluk daratan untuk melepas ke puncak diketinggian. 

Gie telapak ini mulai membeku, lama aku mengulurnya di dalam saku. Siapa yang mengetahuinya? Bukan manusia biasa. Siapa yang melihat, kalau hati mulai kehilangan detaknya? Di sini, saat musim tak lagi bisa diprediksikan. Dan gunung-gunung melahirkan getarannya. Dan, kita yang makin ditipiskan dimensi. Pelan-pelan kenyataan menjadi semakin membisu, seperti apa yang dituliskan selama ini. Catatan-catatan yang lumpuh pada anak lantai berwarna darah, dari luka penulisnya.

Malam punya geliat matanya, bulan purnama di gantung bulat sempurna. Di iringi tangga Bach, yang berusaha mencuri bulan, mirip sebutir biji durian. Gie, bagaimana jika kematian mengulur harinya. Sementara hari-hari ditahan karena banyaknya pencurian, pencabulan, dan penipuan. Aku muak bicara soal politik di negeri ini, Gie. Kita menolak, tapi begitulah jiwa yang memberontak dapat terus hidup untuk tinta mesin ketiknya. 

Kini di daratan Bandung dan kabar-kabar dalam negeri. Kita menyaksikan adegan-adegan kekerasan intelektual dan kediktatoran teknologis atas alam semesta (cosmos) maupun alam kemanusiaan (humanitas). 

kemiskinan bukan disebabkan pada faktor geografis, tetapi merupakan struktur ekspoitasi dan perilaku koruptif yang membentuk semacam sikap pasrah terhadap kemiskinan yang tak pernah tertangani. Tangan yang digunakan bukan dari tangan yang berpikir dengan tangan kotor dan berpeluh keringat. Kelemahan mulanya diawali fokus pola pembangunan yang bersifat intervensi fisik, bukan pemberdayaan (human centered development) kalau kata Clifford Geertz.

Setelah kabar mengenai miskinnya pribumi kelas bawah, berita Tvone berganti pada kiblat politik yang membelah dada ideologi sebuah cawan konstitusi republik ini. Gie, seberapa pentingkah mobil baru fasilitas baru untuk sebuah kabinet yang baru? Semurah-murahnya pasang tender tiap unit. tetap saja anggaran digulirkan untuk jamaahnya. Jika saja dialokasikan ke yang lain. Misal beasiswa student exchange lebih luas dan lebih berjamaah lagi.

Daripada menyewa banyak manusia asing untuk meningkatkan indeks ekonomi dengan investasi terbuka atau membuka sayembara barang siapa yang siap menjadi president indonesia dengan syarat dari negara maju dan menandatangani MOU (president exchange). Malu wajah ini.  Bedahal jika anak-anak generasi penerusnya, sebanyak-banyaknya di sekolahkan belajar pengalaman di negara maju. Kemudian kembali menerapkan nilai-nilai kemajuan ke dalam negaranya yang berjuang dengan perkembangannya ini. Gie, kemanakan kamus pendidikan dalam negeri kita ini?

Sekarang mahasiswa harus berjuang. Pertama, gelisah dengan kondisi lingkungan dan perkembangan yang terjadi. Kedua, sejauh mana idealisme tak sampai terpancung dalam suatu regulasi sistem di mana ia ditempatkan.
Dan ketiga, ditampar prahara mengenai nominal-nominal yang harus tergadaikan hanya agar bisa bertahan masuk kelas dengan dosen-dosen yang bicara pada angin dan terus mengancam.

Kau itu lembut. Perlahan mengecupku. Demensi menjadi batas yang bias. Bersabarlah, katamu. Biar para pemancing liar bosan dengan kailnya. Biar ikan melahap umpannya. Minipunya dengan buih racun-racun industry purnakapitalism.

Dalam kehatian hati ini, rasanya sukar menghadapi mana yang hati inginkan. Pikiran yang berselisih mengeyampingkan hatinya. Hati yang teriris memadamkan logikanya. Apa yang benar-benar Tuhan usulkan dalam cara kita mengurbankan ujian, sampai syurga membuka pintunya dan raga tinggal di bumi, membusuk. Tinggal fosil, sedikit kenangan diabadikan dalam Museum-museum yang mulai kehilangan perhatiannya, dari sisi hidup ini. Di dalam draf-draf buangan. ***







DRAF-DRAF BUANGAN

DRAF-DRAF BUANGAN
Kepada Soe Hok Gie



Semua yang kita tebar pelan-pelan di bawah payung biru ini, Gie. Seperti nafas yang membentuk wujudnya, dan ia membentukmu dalam sarang ini. Jauh, sebelum itu Gie. Yang kita miliki dalam lahan bahasa adalah udara yang punya desir tepi pantai. Aku buat tanah berwarna biru, seperti halte tempat kita menunggu, tempat untuk saling temu. Lahan begitu terjal, seperti gunung yang memeluk daratan untuk melepas ke puncak diketinggian. 

Gie telapak ini mulai membeku, lama aku mengulurnya di dalam saku. Siapa yang mengetahuinya? Bukan manusia biasa. Siapa yang melihat, kalau hati mulai kehilangan detaknya? Di sini, saat musim tak lagi bisa diprediksikan. Dan gunung-gunung melahirkan getarannya. Dan, kita yang makin ditipiskan dimensi. Pelan-pelan kenyataan menjadi semakin membisu, seperti apa yang dituliskan selama ini. Catatan-catatan yang lumpuh pada anak lantai berwarna darah, dari luka penulisnya.

Malam punya geliat matanya, bulan purnama di gantung bulat sempurna. Di iringi tangga Bach, yang berusaha mencuri bulan, mirip sebutir biji durian. Gie, bagaimana jika kematian mengulur harinya. Sementara hari-hari ditahan karena banyaknya pencurian, pencabulan, dan penipuan. Aku muak bicara soal politik di negeri ini, Gie. Kita menolak, tapi begitulah jiwa yang memberontak dapat terus hidup untuk tinta mesin ketiknya. 

Kini di daratan Bandung dan kabar-kabar dalam negeri. Kita menyaksikan adegan-adegan kekerasan intelektual dan kediktatoran teknologis atas alam semesta (cosmos) maupun alam kemanusiaan (humanitas). 

kemiskinan bukan disebabkan pada faktor geografis, tetapi merupakan struktur ekspoitasi dan perilaku koruptif yang membentuk semacam sikap pasrah terhadap kemiskinan yang tak pernah tertangani. Tangan yang digunakan bukan dari tangan yang berpikir dengan tangan kotor dan berpeluh keringat. Kelemahan mulanya diawali fokus pola pembangunan yang bersifat intervensi fisik, bukan pemberdayaan (human centered development) kalau kata Clifford Geertz.

Setelah kabar mengenai miskinnya pribumi kelas bawah, berita Tvone berganti pada kiblat politik yang membelah dada ideologi sebuah cawan konstitusi republik ini. Gie, seberapa pentingkah mobil baru fasilitas baru untuk sebuah kabinet yang baru? Semurah-murahnya pasang tender tiap unit. tetap saja anggaran digulirkan untuk jamaahnya. Jika saja dialokasikan ke yang lain. Misal beasiswa student exchange lebih luas dan lebih berjamaah lagi.

Daripada menyewa banyak manusia asing untuk meningkatkan indeks ekonomi dengan investasi terbuka atau membuka sayembara barang siapa yang siap menjadi president indonesia dengan syarat dari negara maju dan menandatangani MOU (president exchange). Malu wajah ini.  Bedahal jika anak-anak generasi penerusnya, sebanyak-banyaknya di sekolahkan belajar pengalaman di negara maju. Kemudian kembali menerapkan nilai-nilai kemajuan ke dalam negaranya yang berjuang dengan perkembangannya ini. Gie, kemanakan kamus pendidikan dalam negeri kita ini?

Sekarang mahasiswa harus berjuang. Pertama, gelisah dengan kondisi lingkungan dan perkembangan yang terjadi. Kedua, sejauh mana idealisme tak sampai terpancung dalam suatu regulasi sistem di mana ia ditempatkan.
Dan ketiga, ditampar prahara mengenai nominal-nominal yang harus tergadaikan hanya agar bisa bertahan masuk kelas dengan dosen-dosen yang bicara pada angin dan terus mengancam.

Kau itu lembut. Perlahan mengecupku. Demensi menjadi batas yang bias. Bersabarlah, katamu. Biar para pemancing liar bosan dengan kailnya. Biar ikan melahap umpannya. Minipunya dengan buih racun-racun industry purnakapitalism.

Dalam kehatian hati ini, rasanya sukar menghadapi mana yang hati inginkan. Pikiran yang berselisih mengeyampingkan hatinya. Hati yang teriris memadamkan logikanya. Apa yang benar-benar Tuhan usulkan dalam cara kita mengurbankan ujian, sampai syurga membuka pintunya dan raga tinggal di bumi, membusuk. Tinggal fosil, sedikit kenangan diabadikan dalam Museum-museum yang mulai kehilangan perhatiannya, dari sisi hidup ini. Di dalam draf-draf buangan. ***








historis

"ketragisan dari historis bukan dijadikan keruncingan yang fundumental membocorkan balon kesatuan umat manusia dalam nusantara." -Afrilia

Af's Quote

Orang boleh bebas dalam dunia imajinasinya dan menghidupi apa yang lama dimimpikannya. Dari mimpi ke perubahan berarti. Dari prosesi yang dapat dipelajari dapat menumbuhkan jiwa-jiwa yang lebih bijak menghargai nilai dan penemuan dalam sekali hidupnya.

Einsten's Quote

"Jika A adalah kesuksesan dalam hidup, maka A=x+y+z
Bekerja adalah x, bermain adalah y dan z adalah menjaga mulutmu untuk diam."

Buya Hamka's Quote

"Jangan takut jatuh karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan baru dan cari jalan yang benar pada langkah yang kedua."

Agus Salim's Quote

"Een leidersweg is een lijdensweg. Leiden is lijden.

[Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah menderita.]”

Niccolo M's Quote

"Ada tiga kelas dari intelektualitas: satu yang memahami sesuatu dengan sendirinya, lainnya adalah yang menghargai apa yang lain pahami, dan ketiga yang tidak memahami dengan sedirinya juga tidak oleh orang lain. Yang pertama paling baik, kedua baik, dan ketiga tidak berguna."