background img

The New Stuff

Undian SNMPTN, Bukan Menyudahi Perjuangan


Sabar ada dua bentuk: bersabar untuk Allah dengan menjalankan apa yang Dia cintai walaupun berat bagi jiwa dan badan. Dan bersabar untuk Allah dari segala yang Dia benci walaupun keinginan nafsu menentangnya. (Abdurrahman bin Zaid bin Aslam)


(27/05) Ribuan peserta SNMPTN telah mendapatkan pengumuman kelulusan dalam jalur SNMPTN. Ada yang menangis karena bahagia luar biasa, setelah perjuangannya mendapat kelancaran. Ada pula yang menangis karena kesedihan dari apa yang ditargetkannya tidak sesuai berjalan dengan apa yang ia rencanakan. 


 Dari 777.536 siswa yang mendaftar SNMPTN 2014, sebanyak 125.406 di antaranya lulus seleksi. Angka ini setara dengan 16,13 persen total pendaftar.

Banyak para peserta yang diprediksikan mendapat peluang besar karena kemampuan baik akademik, maupun prestasi non-akademik, dan kepribadian di sekolahnya akan tetapi, mereka tidak lolos dalam seleksi. Sedangkan, teman seangkatan yang mulanya diprediksikan mendapat peluang kecil ternyata mampu menembus jalur undangan ini. Namun, begitulah sistem undian dalam jalur seleksi ini.

Siang ini, setelah cuaca di Tasikmalaya hujan-reda-hujan-reda. Saya menunggu pengumuman SNMPTN, inilah yang amat saya tunggui selama ini semasa liburan pasca-UN. Mulanya saya merasa begitu sombong karena kedua orangtua saya selalu memberikan pilihan. Jika diambil saya harus melupakan SNMPTN UI, maka, point 1-3 alhamdulillah lulus, tapi terpaksa tidak saya ambil. Untuk point 4 terbaru, Alhamdulillah Allah memberikan saya ujian untuk mempraktekkan pelajaran ikhlas.

1) 10 Desember 2013 : Lulus Telkom, S1 Internasional ICT Bussinees.

2) 25 Maret 2014       : Lulus Universitas Muhammadiah Yogyakarta, Hubungan Internasional.

3) 23 Mei 2014          : Lulus Penyaringan Bibit Unggul Prestasi UGM, Ekonomi-Menejemen.

4) 27 Mei 2014          : Tidak lulus SNMPTN UI, Hubungan-Internasional.

Ada kesedihan tersendiri memang, saya akui. Mulanya detik-detik pengumuman. Tidak ada ketegangan yang berlebihan. Setelah sholat duhur, saya berdoa. 

"Yaa Robb, inilah detik-detik penantianku. Jika SNMPTN ini lulus, aku sangat mensyukurinya. Jadikanlah UI terbaik untukku. Jikapun tidak. Tolong tabahkanlah bathin dan jiwaku, berarti terbaik bagi-Mu bukan menjadi bagian pilihanku tapi sama akan menuntunku menjadi hamba-Mu yang terbaik. Insya Allah. tolong kuatkanlah aku menerima bagian dari takdir-Mu. Aamiin."

Beberapa menit kemudian, pelan-pelan saya membuka pengumuman SNMPTN. Alhamdulillah, Allah merencanakan skenario indah untuk saya, bukan pada waktu ini. Saya sadar, saya sudah amat nekat menyimpang dari rumpun jurusan IPA ke IPS, kemudian memilih jalur tertinggi pula di IPS dengan PTN yang ditakuti oleh siswi yang tidak senekat saya. Namun, saya selalu mengikuti apa yang hati saya inginkan. Saya mengesampingkan resiko besar tersebut, terus memupuk harapan optimis di dalamnya.

Terbukalah hasil yang menyatakan, bahwa saya tidak lulus jalus SNMPTN. Sakit hati? Membenci UI? Geram dengan sistem pendidikan Indonesia? Kecewa? Ada sedikit, manusiawi saya kira. Akan tetapi, saya memusatkan pada sisi pelajaran 'ikhlas', tidak mendominasikan seluruh kekesalan saya selama ini pada perlakuan negatif yang akan semakin membuat orang tua saya justru merasa sedih dan kecewa. 

Saya tidak pernah menyesali apa yang telah saya pilih. Mungkin, ini adalah cara Allah untuk lebih mendewasakan saya. Maka, saya amat bersyukur. Meski dalam hati kecil masih ada sisi kekecewaan, ada kalanya kita merasakan 'kepahitan' dan 'kegagalan' karena hidup bukan masalah pencapaian akan kesempurnaan. Tapi seberapa kita mampu bangun dalam tiap kejatuhannya.

Orang tua saya terus menyemangati saya. Sebenarnya hal ini yang membuat saya akhirnya bisa pula mencicipi air mata. Melihat wajah mereka, memberitahukan bahwa anaknya tidak berada di jalur rel kereta api. Toh, Masih banyak jalan menuju Roma, begitu pepatah yang paling sering kita dengar. Selama ini, keluarga, guru-guru, sahabat terdekat, dan orang-orang yang mengenal dekat sejauh ini. Kerap menyemangi, menyanjung, terus memberikan ucapan positifnya. Sejak kecil, saya terbiasa mendapatkan apa yang saya inginkan. Apapun. Semakin waktu bertambah, ia pula mendewasakan saya. Saya mulai menyadari, Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan.

Jika saya diizinkan bercerita sedikit. Saya masih ingat betul. Pak Tomi adalah guru SMP yang amat merubah saya menjadi sosok siswi yang lebih 'berani', Pak Nicho, panggilan yang beliau senangi. Dari remaja yang amat tertutup dan penuh kemuraman di wajahnya, bertransformasi menjadi remaja yang menggauli banyak tantangan. Sejak SMP saya sudah terjun keberbagai organisatoris, kemudian menjabat sebagai pimpimpinan redaksi di SMPN 2 Kota Tasikmalaya dan SMA Al Muttaqin, memberikan saya pelajaran yang memajukan langkah saya sejauh ini. 

Alhamdulillah, Awal masuk SMA, kelas 10 saya sudah didelegasikan sebagai duta lingkungan ke Universitas Indonesia pada saat lauching program sekolah cerdas lingkungan. Kelas 11 menjadi delegasi dari Jawa Barat untuk Parlemen Remaja 2012, saya merasakan menjadi legislatif secara langsung. Menyusun perancangan Undang-undang Kemiskinan. Kemudian mendapat penghargaan dan naik ke podium IPB karena jawaban terbaik. Kelas 12, kembali saya lolos menjadi delegasi Duta Perdamaian Askobi (Korban Bom Bali) dan PeaceGeneration, dilanjutkan dengan terseleksinya FOR (Forum Pelajar Nasional) 5. 

Dalam masa tempaan ini, saya jarang merasai kegagal. Yang ada penekanan terhadap diri sendiri. Perfeksionitas. Seolah kecewa apabila dalam tiap perlombaan saya tidak mendapatkan peringkat tertinggi, padahal selalu masuk dalam tiga besar, alhamdulillah beberapa ikut memegangi juara umum. Sikap tersebut, saya kurangi pelan-pelan. Selain merugikan diri sendiri, pada akhirnya kesyukuran sudah lebih dari cukup untuk menerima apa yang kita raih atau dapatkan dalam perjuangan hidup.

Semua pengalaman hidup ini menempa saya dengan luar biasanya. Saya sudah lebih jauh mengenali keragaman antar suku, ras, budaya, ide-ide, dan agama, dari anak bangsanya yang terpilih. Nilai-nilai terbesar dalam pengalaman harus mampu menjadikan pondasi saya lebih kuat lagi. Nilai-nilai dalam bentuk angka, akan terhapus begitu saja. Tapi nilai-nilai dalam bentuk kemampuan dan terpatri dalam tindakan sehari-hari memberikan kita jalan yang menuntun ke masa yang terbaik.

Sebaiknya sebagai seorang muslim, apapun yang kita hadapi selalu berada dalam doa. Peraihan hidup terbaik bukan terletak pada lolosnya SNMPTN, masuk ke perguruan tinggi anu. Ada yang lebih penting, yakni memenuhi sendi-sendi usia kita dengan doa dan kemampuan agar kita lebih bisa bermanfaat bagi kehidupan. Saya mengetikkan ini, 

Untuk para sahabatku yang baik, menangis boleh, bersedih boleh, namun sejenaklah. Sebab kita harus membuat telapak tangan dan bersiap meraih cahaya-cahaya kehidupan di tangan kita. Percayalah bahwa skenario Allah selalu indah pada waktunya. Inilah proses pendewasaan baik sebagai hamba, maupun manusia.


Harum dalam Keluarga



Waktu termagis satu di antaranya adalah ketika kita mengetahui bahwa kita pernah menjadi kecil dalam rahim ibu kemudian bertambah besar mulai meninggalkan pangkuan ibu, ayah, nenek, kakek, dan mainan favorit kita. Tiba-tiba kita dihadapkan oleh suatu pilihan-pilihan yang memaksa atau bahkan yang kadang kita tidak menyadari telah sampai sejauh ini, membiarkan pilihan kita menjauh dari akarnya.

Pernahkah kita merasakan kerinduan ke masa lalu? Saat tiba-tiba kita sudah menjadi bagian keluarga baru dengan anak-anak yang memanggil ayah, ibu, mama, papa, dsb. Oh, luar biasanya Tuhan seperti menyihir waktu! Kita beranjak pergi dari rumah, membuat rumah yang baru, dan meninggalkan ayah dan ibu. Tapi begitulah kita didesain dalam sekali hidup ini. Semua tumbuh dan berkembang. Begitupun dengan cinta. Selama apapun kedewasaan cinta dalam diri seseorang, ia akan terus berkembang.

Namun, ada yang sering tanpa disadari kita telah mengorban ikatan cinta itu sendiri. Kita merangkak dari kehidupan, menyibukkan dengan berbagai persoalan, membuktikan diri sebagai pribadi penuh potensi yang dipandang dengan sejuta prestasi dan keahlian. Tapi diam-diam, waktu kita untuk keluarga tergerus. Bahkan, interaksi dengan keluarga sendiri tidak lebih dari sekedar tegur sapa, orang yang telah lama tidak bertemu.

Banyak orang lebih memokuskan mengharumkan dirinya di luar, akan tetapi hubungan dengan keluarganya dibiarkan terlantar. Ia cuma bisa berspekulasi, membuat teori-teori yang mengejutkan pembacanya, dan narsis sendiri dalam dunianya. Apa kita pernah seperti itu? 

Cinta terbaik dan utama ada pada keluarga, apabila kita menghilangkan status utama maka cinta terbaik itu akan cedera dengan perlahan. Kemudian apa yang terjadi setelah itu? Pembentukkan individu dalam keluarga akan menjadi sangat prematur memilah nilai-nilai kasih sayang dan nilai kehidupan yang penting didapatkan semua anak. 

Globalisasi dan penekanan akan pemenuhan ekonomi dan kebutuhan memaksa semuanya berkerja keras dan terus berinovasi dalam kompetesi. Tapi banyak darinya yang lupa, kodrat lainnya. Seolah sekarang adalah waktu kita berternak sebanyak-banyaknya dalam kandang yang cuma disediai jerami dan air dengan suntikkan dari pemiliknya. Sedang, kita bekerja sekaligus memerangkapkan diri sendiri. Cepat atau lambat, kehampaan akan terasa. Semakin hampa hidup, apabila orang-orang yang kita kasihi memerangi kita secara dingin.

Maka dari itulah, mengharumkan diri di luar memang baik. Akan tetapi, jangan lupa untuk mengharumkan diri dari dalam juga bersama keluarga yang memberi kita energi tak terbatas. Timbulah keharuman luar biasa dalam kehidupan yang kemudian dapat menjadi sumber keharuman untuk sekitarnya. 

---------
Afta.

Kontemplasi Makna Kelulusan



Detik-detik menegangkan bagi para peserta didik UN tingkat SMA baru saja dilalui (19-20/05). Dalam budaya SMA Al Muttaqin  hari pengumuman kelulusan UN H-1 dilaksanakan di tempat yang masih dingin karena alam dan budaya kearifan lokal dalam kehidupan pesantren. Tahun ini kegiatan dilaksanakan di Pesantren Daruul Falah Sukasirna, Sukaratu. Sebanyak 133 pasang mata siswa-siswi merasakan  klimaks panas-dingin dari penantian selama ini.

Para peserta didik menyambut dengan penuh khidmat, resah, dan ada juga yang penuh optimis. Detik-detik menjelang pengumuman siswa-siswi SMA Al Muttaqin tetap dibina dengan pembekalan iman dan kekuatan yang luar biasa menjadi bekal dimasa mendatang. Transisi perubahan sistem UN cukup membuat para peserta didik gugup menghadapi pengumuman kelulusan.

Selama satu malam, para peserta merasakan bagaimana nikmatnya menjadi santri Kobong. Bermalam di atas lantai dengan kaki langsung menyentuh ubin. Harus bersabar dalam antrian kamar mandi yang airnya keruh dan mampet. Apalagi jika sudah serempak menggunakan kamar mandi, air akan semakin minim. Jamuan makan bersama-sama dengan keluarga besar insan Muttaqin angkata IX. Tertawa, canda, kehangatan lainnya, menjadi cerita yang luar biasa bagi mereka.

Kontemplasi akan syukur sebuah kelulusan memang dirasa lebih bijak dengan mendekatkan diri pada hal yang lebih positif seperti lebih mendekatkan diri pada Tuhan, melalukan bakti sosial, membenahi kedewasaan, mendekatkan diri dengan penuh damai bersama orang-orang yang dikasihi, dsb. Salah satu dari peserta mengimbau, pentingnya pendidikan moral bukan lantas hilang ketika kelulusan tiba.

Keesokan hari para siswa-siswi melakukan ekspedisi gunung. Kurang dari empat jam menempuh perjalanan jalan kaki. Lalui lereng terjal, sungai, dan hutan jalan setapak. Ada empat posko yang harus mereka lalui. Ke empat posko jika dirunutkan kembali mengingatkan tentang, nikmat syukur, ikhtiar, tawakal, dan sabar. Dari kegiatan tersebut, terlihat betapa besar keterpeduliaan lembaga berbasis pendidikan islam terhadap pembinaan sikap, mental, dan penembaan jiwa ulul albab.

Pengumuman pun berlangsung. Kegentingan dan khidmat luar biasa tampak terasa. Mengingat masih maraknya sebagian dari mereka yang lulus dengan mengorbankan kerapihan seragamnya, ugal-ugalan di jalan, dan prilaku yang mencoreng kensyukuran dan mencerminkan moralitas anak didik selama tiga tahun ditempa dalam lembaga pendidikan.

“Semua yang telah saya lalui ini, adalah perjuangan terbaik yang akan terus membuka peluang masa depan yang lebih prestatif baik sebagai seorang Hamba dan Manusia. Aamiin.” Ungkap Affrilia, peserta didik SMA Al Muttaqin.


-------
Afta.

Rumah untuk Kesedihan


Dalam kehidupan, kebahagian, kesedihan, luka, penyembuhan, kegembiraan ialah produk dari kehidupan. Seringkali, hati pilu sendiri mungkin karena menerima hal yang diluar keinginan kita, tidak nyaman dengan kenyataan yang terjadi, kehilangan, meninggalkan atau ditinggalkan orang-orang yang biasanya merekalah menjadi sumber kebahagiaan terdekat kita.

Kesedihan dapat mengakibatkan kita menangis, terdiam, murung, melamun, kehilangan semangat dalam kesadaran baru yang diakibatkan kesedihan berlebihan membuat diri menuding bahwa kehidupannya sudah tiada gunanya lagi. Bahkan lebih dalamnya lagi, dapat membuat seseorang menjadi Skifzofrenia. Oleh penderitaan yang disikapi berlebihan, hal tersebut malah menyimpang dari jalan yang menjelaskan bahwa tiap dari kita yang terlahir bertanggung jawab atas peranan lebih besar berbanding lurus dengan besar usia yang terus bertumbuh. 

Oleh karena itu, kesedihan boleh bertandang karena kita sebagai ciptaan terlengkap. Namun, jangan sampai kesedihan membunuh potensi luar biasa dari diri kita. Kesedihan bisa dihilangkang dengan cara-cara yang bijak. Meskipun tidak semua kesedihan mampu sirna dalam sekali pratikum. Manusia memang dilatih untuk berusaha dan berlapang dada. Meskipun yang kita hirup adalah udara sama di bumi, dengan kenangan yang sulit kita atur sedemikian rupa. Tapi mampu kita kendalikan.

Bukankah dunia seolah melahirkan sesuatu ketika kita tak menyadari apa yang kita butuhkan sebenarnya? Ada yang mengatakan, bahwa Anda adalah apa yang Anda pikirkan saat ini, begitupun mengenai kesedihan. Sedih tanpa alasan? Atau alasan tidak kuat memegang penjelasan kenapa kita bisa merasakan kesedihan? Kebahagiaan memiliki konsepnya, konsep tiap individu berbeda dan unik. Hanya saja sedikit yang menyadarinya. Semakin orang bergantung pada orang, benda, dan hal lain yang bukan dirinya sendiri dan kekuatan Tuhan, maka ia akan semakin rentan dengan kesedihan.

Ada beberapa cara sederharna untuk membuatkan rumah untuk kesedihan berdasarkan pengalaman :

1. Keyakinan terbaik untuk bahagia tanpa syarat.

Sekilas memang kalimat itu terasa indah dan mungkin sering kita dengar tapi begitu sulit kita terapkan pada diri sendiri. Namun, bukankah selama ini banyak yang terjadi dan teraih dengan penuh kejutan dari apa yang kita yakini akan terjadi? Keyakinan itu mampu menjadi doa terdahsyat untuk menggapai apa yang tak mungkin menjadi sangat mungkin. Tanpa syarat apa bisa? Insya Allah bisa, selama kita tidak banyak menggantungkan harapan pada semua yang bersifat sementara.

Ketika usia saya sekitar 7 tahun. Saya pernah meminta pada Tuhan, agar Ia bisa membiarkan saya hidup dengan-Nya. Masih kecil, tapi itu yang saya baca dari buku harian masa kecil saya. Karena kenyataan memang belum bisa sempurna dan tak bekerja sesuai dengan apa yang kita hendaki, tugas kita menyempurnakan kehidupan mendatang yang lebih baik. Alhamdulillah, di sekolah para guru dan kakek serta nenek, serta orang-orang terdekat ketika itu terus menyemangati dan mengenalkan pada iman. Iman itu mengajarkan untuk kuat, bukan lantas lemah menyerah pada ujian yang akan membentuk pribadi kecil kita menjadi berkembang dan terus tumbuh.

2. Mulai menulis.

Sekarang kita jadi tahu, mengapa Tuhan menganugrahi kita dua tangan, dua mata, dan satu mulut. Menulis adalah hal yang paling berkesan dalam merekam tiap proses yang kita tengah atau sudah lalui. Sulit memulai? Sering muncul sanggahan itu. Tapi kesulitan akan melemah jika kita mulai giat berusaha membiasakan. Curahkan energi negatif dalam tulisan. Apa saja tuliskan, jangan malu jika suatu saat Anda memang perlu membagikan apa yang selama ini telah Anda tuliskan. Penulis bagian dari kegemaran atau profesi yang dapat mengabadikan hasil hidupnya.

Dengan menulis, kita juga mampu merangsang daya kerja otak kanan kita menjadi lebih kreatif dan ketajaman dari otak kiri untuk berpikir lebih krisis. Bukan hanya itu saja, menulis membantu kita meresapi dan menemukan makna yang lebih luas. Menulis memberikan kita dunia yang bisa kita desain sendiri.

3. Tersenyum.

Menurut pakar psikolog, sedih bisa dihilangkan dengan cara mengingat sesuatu yang menciptakan daya semangat dan kebahagiaan pada diri kita. Tersenyum juga bagian ibadah, shodaqoh yang paling sederharna namun kaya guna. Saling melatih senyuman saat bertemu siapa pun, merangsang pikiran positif dan keadaan rileks.

Hal itu dapat diambil dari pengalaman. Ketika seseorang merasa mulai jenuh lalu sedih, seseorang tersebut akan mencari hal baru yang dapat menyibukkan dirinya secara positif untuk melupakan kesedihannya. Tersenyum dapat pelan-pelan mengobati bathin yang sedih. Awalnya pura-pura untuk menyembunyikan kesedihan, setelah itu kesedihan terlupa dan kembali ke rumahnya.

4. Beribadah.

Dengan beribadah kita memusatkan apa yang kita butuhkan pada Tuhan. Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan. Ketika seorang hamba mendekat, maka Ia pun akan lebih dekat. Sebab, cinta baik dikedekatan.

Nilai-nilai agama ialah kemutlakan dari aturan hidup. Agama mengajarkan kebaikkan dan kemuliaan pada kehidupan mulai dari hati, pikiran, kemudian perbuatan yang diterapkan tiap harinya. Kedamaian akan tercipta dan orang akan saling bahu membahu untuk membantu tanpa pamrih. Beribadah akan mengingatkan kebaikan yang ada pada diri kita. Kesyukuran mencukupkan cerita baru yang datang silih berganti, silih baru, bersama waktu. Berbagi dengan anak-anak, para lansia, sahabat dari kita yang kurang beruntung, berbagi dengan apa yang kita mampu usahakan juga merupakan hal menyenangkan.

5. Memaafkan.

Jangan segan dan malu untuk meminta maaf dan memberi maaf. Karena memaafkan memberikan keluasan dan ketenangan dalam hati kita. Secara tidak langsung akan menghasilkan suatu stimultan perubahan sifat untuk menghidari kesedihan.

Jika pernah ada luka atau kesalahan jangan malu untuk meminta dan memaafkan, sebab akal manusia penuh jebakan. Tidak ada yang sempurna mengendalikan penilaian-penilaian dan cara kerja hormon di tubuh kita. Orang yang dipenuhi dendam akan sempit dalam hidupnya. Karena ia akan lebih sibuk mengurusi hal yang percuma. Karena tiap dari kita adalah manusia yang sama, gemar membuat dosa. Sikapi hal-hal yang kurang berkenan menjadi hal baru sebagai pengalaman.

Cobalah melakukan hal seperti di atas. Menyibukkan dengan hal positif dan menghindari kebiasaan buruk adalah bagian dari prilaku bijak untuk memulangkan kesedihan ke rumahnya. :) Kesedihan yang berlarut-larut dapat menggagalkan kesuksesan di masa mendatang. Sehingga hidup akan lebih bermakna, nyaman, dan tentram.

----
Afta.







Jujur Meminimalisasir Kebodohan



Jujur? Berapa banyak species manusia yang masih memangku komitmen kejujurannya sejak semula ia belajar mengenal kata 'jujur' ini? Pada realitasnya, semua manusia yang sudah mengetahui kejujuran pasti pula mengetahui kebohongan. Semua orang pun pernah berbohong, tidak ada putih sempurna. Jujur adalah sikap untuk mengutarakan kebenaran dengan apa adanya, tanpa ada kiasan fiksi yang mendominasi kenyataan. 

Berat kadang dalam beberapa hal. Kejujuran bisa menjadi rintangan mutakhir yang dapat mengguncang, katakanlah pegangan dari bathin vs pikiran. Penuh perasa vs penuh logika. Orang yang idealis mempertahankan kejujuran dirinya sebagai prombakkan atas pemberontakkan terhadap apa yang kurang ia senangi sejak semula. Meskipun harus mempertaruhkan hal paling penting dan berharga yang mampu mengubah takdirnya ke depan. But, Trust it! Jujur membawa berkah.

Baru-baru ini pengumuman Ujian Nasional tingkat SMA/MA/MK 2014 didengungkan. Sebanyak 8.970 peserta dinyatakan tidak lulus. Berapa persentase peserta didik yang memperoleh nilai tinggi yang murni dari kejujurannya? Berapa persen peserta didik yang telah berusaha dengan mengerahkan kemampuan terbaiknya secara mandiri, namun harus menelah pil pahit dengan keterangan tidak lulus? 

"Kasian anak bangsa kita ini. Tiga hari menentukan tiga tahun untuk SMP dan tiga tahun untuk SMA. Ada paket C? Tapi bagaimana keadaan psikisnya? hatinya? Beruntung apabila mendapatkan dekapan kuat dari iman serta keluarga dan para gurunya, kalau tidak? Dikatakan hal ini untuk mengevaluasi pendidikan negeri, tapi hal-hal yang bersifat 'gelap' masih berjalan, belum dibenahi, ditindak lanjutin sampai ke akar. Tindak kecurangan, pembelian soal dan jawaban, karena kejujuran dibuatkan topeng sebagai hal yang sangat menakutkan. Bobot tiap 20 paket yang dibuatpun tak sama. Lantas, kenapa UN masih dipertahankan, mungkin mentrinya takut kehilangan produknya?" - Tulis saya di dalam akun Facebook, sehari setelah kelulusan bukan merasa penuh gembira tapi ada rasa kesedihan yang ikut saya rasa.

Sistem pendidikan kini dicampuri politisasi yang tidak sehat, seolah menjadi kurator yang membebani lebih parah penyakit sandiwara di negeri ini. Semua terasa sangat erat kaitannya, meskipun pada kenyataan sebagian besar bangsa kita ini makin apatis pada perkembangan pohon cinta dari sang deklamator seluruh pahlawan, 69 tahun lalu.

Sedikit pengalaman kecil saya.. 

Alhamdulillah, sejauh ini saya sudah bersih keras untuk mengekatkan komitmen pada kejujuran serta berusaha lebih pada pelatihan softskill. Ada kalanya, ketakutan datang kepada saya. Ketika ujian tulis diadakan. Saya juga sedikit merasa cemburu, kenapa ada sebagian siswa yang justru main-main seolah tanpa beban. Apa itu kelebihan? Saya meyakini, jika hasil dapat berbanding lurus dengan usaha. Kejujuran benar-benar membawa berkah sampai detik ini. Meski tidak semua yang saya lalui lancar dan sesuai dengan apa yang telah saya targetkan. Menjadi salah satu siswi terbaik dan mampu berkontribusi nyata pada aksi adalah hadiah dari usaha dan doa selama ini. Padahal, apabila diserutkan pada kilas balik masa lalu. Saya termasuk anak paling culun dan sangat pendiam, menjadi korban bullying. Karena Mandela pernah mengatakan "Kemuliaan terbesar dalam hidup bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi kebangkitan setiap kali kita jatuh."

"Hendaklah kamu selalu berbuat jujur, sebab kejujuran membimbing ke arah kebajikan, dan kebajikan membimbing ke arah surga. Tiada henti-hentinya seseorang berbuat jujur dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kejujuran sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai orang jujur. Dan hindarilah perbuatan dusta. Sebab dusta membimbing ke arah kejelekan. Dan kejelekan membimbing ke arah neraka. Tiada henti-hentinya seseorang berbuat dusta dan bersungguh-sungguh dalam melakukan dusta sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta." (H.R. Bukhari dan Muslim)
Orang yang penuh kebohongan akan nampak bodohnya. Ia akan kelelahan mempertanggungjawabkan seluruh tindakkan atau nilai-nilai selama ini yang ia peroleh. Jadi, jangan pernah takut untuk jujur. Jujur membawa berkahnya, jika bukan hari ini juga skenario Allah selalu indah pada waktunya.

-------
Afta.



Sembilan, Cinta Pertama saat SMA






Siul awan di langit merekah
seperti kembang kintani
Abu ke bungur, lalu menitih putih ke mata-
yang ditampun cita dan cinta, duka-suka kecil jalan.
Engkau itu guruku...
Engkau itu sahabat baikku…

Akhir Juli yang indah di tahun 2011, kami dipertemukan dari berbagai latar belakang dan perbedaan, melebur satu sebagai kesatuan insan yang memiliki visi menjadi muslim yang memiliki kualitas masa depan yang gemilang. Masa Orientasi Pendidikan Peserta Didik (MOPD) menjadi awal bersatunya satu keluarga insan SMA Almuttaqin. Mulai menyusun bait-bait kenangan, suka duka kami arungi bersama selama tiga tahun.


Bulan yang Divonis



Bulan yang divonis dalam kesendiriannya  berkeping-keping jatuh ke lantai mata yang memintai dalam diam serta bisunya. Tak apa jika ia mulai menjelma seperti mata dewa dari yang kehilangan peringai yang didamba dalam harapannya. Seorang ayah dilema dalam masa dari masa, masuk ke luar dimensi ke dimensi. Dipisahkan oleh kehendak, mengetahui anak-anaknya kini menyambung takdir sebagai mata rantai dari langit yang cuma bisa diam-diam ia rindukan dikejauhan.


historis

"ketragisan dari historis bukan dijadikan keruncingan yang fundumental membocorkan balon kesatuan umat manusia dalam nusantara." -Afrilia

Af's Quote

Orang boleh bebas dalam dunia imajinasinya dan menghidupi apa yang lama dimimpikannya. Dari mimpi ke perubahan berarti. Dari prosesi yang dapat dipelajari dapat menumbuhkan jiwa-jiwa yang lebih bijak menghargai nilai dan penemuan dalam sekali hidupnya.

Einsten's Quote

"Jika A adalah kesuksesan dalam hidup, maka A=x+y+z
Bekerja adalah x, bermain adalah y dan z adalah menjaga mulutmu untuk diam."

Buya Hamka's Quote

"Jangan takut jatuh karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan baru dan cari jalan yang benar pada langkah yang kedua."

Agus Salim's Quote

"Een leidersweg is een lijdensweg. Leiden is lijden.

[Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah menderita.]”

Niccolo M's Quote

"Ada tiga kelas dari intelektualitas: satu yang memahami sesuatu dengan sendirinya, lainnya adalah yang menghargai apa yang lain pahami, dan ketiga yang tidak memahami dengan sedirinya juga tidak oleh orang lain. Yang pertama paling baik, kedua baik, dan ketiga tidak berguna."