background img

The New Stuff

Ancaman Invasi Kuliner Nusantara





(25/06) Dalam misi mempromosikan ekspedisi Kuliner Nusantara program salah satu channel nasional, Trans Corp. Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya ikut mengambil peranan membantu mengenalkan kekayaan kuliner Tasikmalaya. 


Indonesia sebagai negara yang kaya akan keragaman budaya dan kuliner menjadi modal kuat untuk mempromosikan kekuatan baru Indonesia di mata dunia. Ekspedisi kuliner nusantara menjadi bentuk promosi dan pengenalan kuliner dari tiap wilayah yang diikat dalam bineka tunggal ika. Hal ini juga mampu merangsang pertumbuhan ekonomi kreatif.



"sebenarnya situasi sekarang sudah gawat darurat karena penjajahan kuliner ... invasi kuliner dimulai dari dibukanya makanan fastfood dari barat dan bahkan dari timur ... yang kena serang biasanya anak2 kecil ... gejalanya biasanya ketagihan akut fastfood produk luar dan sama sekali tidak berminat akan makanan asli nusantara " -Mengutip status Facebook Anugerah Sentot Sudono.

Jangan sampai aset terbesar yang negara kita miliki, lalui tangan-tangan terampil dengan penuh cita rasa yang tinggi tergerus oleh invasi dingin asing. Dari sinilah, salah satu visi kami terus berupaya mengenalkan kuliner Tasikmalaya, -lebih luasnya nusantara- agar hal tersebut mampu berkembang menjadi suatu budaya mencintai masakan dalam negeri -khususnya Tasikmalaya yang ikut berpartisipasi memakmurkan kesejahteraan dan tingkat kebahagiaan masyarakatnya. 

KITA TIDAK SENDIRI






Merasa memiliki multi kepribadian?
Selalu merasa asing di lingkungan sendiri?
Perasaan khawatir menemui orang-orang asing?
Merasa menjadi makhluk yang sangat kesepian sampai heran melihat kebersamaan lain?
Ingin gabung, tapi bingung harus memulai percakapan apa?
Ingin gabung, tapi lebih dulu dijatuhi bumbu yang menjatuhkan mental diri?

Tenang, tidak sendiri. Aku juga pernah melalui fase tersebut.  pada nyatanya, dari sekian milyar manusia di bumi. Permasalahan yang mereka hadapi tidak cuma ada pada mereka sendiri. Tapi lain jugamemiliki hal serupa. Aku. Kamu. Dia juga.

Pertama, beranilah mengubah ke dalam. Adakan dialog antara kamu dan dirimu. Tuliskan apapun. Dalam secarik kertas atau mesin ketik, atau gadgets terdekat. Tumpahkan apa yang kamu inginkan. List semua sebagai targetmu. Mulailah membuka hati dengan menulis dulu.

Kedua, yakini kalau Iman menjadi kekuatanmu untuk melakukan semua point. Berpikir positif selalu. Allah menyayangi kita, sayangnya kadang berat dirasa. Tapi begitu ia menguji hamba yg disayanginya. Kalau kita lepas dan tenggelam dengan putus asa begitu saja. Kita akan terlepas dari lapisan kasih sayangNya. Memaknai kehidupan dengan lebih positif.

Ketiga, jadikan kekuranganmu menjadi kelebihanmu. Setelah dialog bathin. Kenali kekuranganmu, dan buatlah solusi sederharna agar bisa mengcover kekurangan kita. Semua diciptakan dengan kekurangannya, agar bisa saling menambahkan. Buktikan, kalau kamu, kita, sejelek dan seculun apapun punya prestasi! Kepahitan yang dilalui melatih ketangguhan daya juang semakin bertumbuh.

Keempat, berani melakukan apa yang kamu takutkan. Aku mau menulis dan mempostingnya ke publik. Aku mau menjadi jurnalistik dan menginterview sosok-sosok manusia yang sudah jadi dengan kelulusan dari tiap ujiannya. Aku siap menjadi lulusan siswa atau siswi terbaik. Aku siap menjadi leader, bukan follower. Aku siap menjadi anak yang berbakti pada ibu dan ayahku. Aku siap menjadi teladan bagi keluargaku. Aku siap jadi orang yang kuat, menghapi berbagai macam ujian hidup. Aku siap menghadapi kekalahan juga kemenangan. Aku siap jadi orang berguna. Aku siap jadi hamba yang berkualitas. Aku siap menjadi agen perubahan dunia yang lebih baik. Aku siap dikritik, aku siap diasingkan, aku siap kucilkan selama itu tidak membuatku keluar dari kebenaran. Karena aku memiliki potensi luar biasa untuk mengubahnya.



------
Afta.

SEIKAT HUJAN



Kalau huja begini, kepuitisan yang dijatuhkan langit menambah tebal sekat-sekat imaji. Ia bersuara, seperti bunyi manusia yang digerakan ingin dan cita menuju hujan juga.

Awan yang memberat karena rahim telah matang menjaga butir aliran airnya. Menari-nari mereka lahir, sampai ke tanah.

Saat hening, bunyi para bayi yang dikemas basah merona, menggantung pada atap-atap bangunan, rumput, tembok, jalan, dan tungkai-tungkai yang berada di bumi manusia.

Seorang penulis terus berusaha mengetikan kekasihnya dari tengah hujan datang membawa ingatannya.

Kekasihku yang baik, Engkau juga hujanku... Engkau juga anak-anakku yang sering kutunggui datang temani sepinya menjadi kuli tulis. Cuma buku-buku basah yang lahir dari cetakkan.

Cuma kamu yang paling memahami kalau hujan yang kita namai melodi bumi adalah kekukuhan langit yang ingin menyentuh tanah. Kerinduan bibir yang ingin menyentuh jari lidah kekasihnya.

Seorang anak datang, dari taman hujan. Kupangku ia pelan-pelan. Hangat dan perlahan. Jari kecilnya, penuh air. Penuh kenangan yang ingatkan aku pada getirnya sepasang hidup yang kini cuma sehidup.

Jari kecilnya bermain, menebak bentuk-bentuk yang hidup. Seperti hujan dan kehidupan. Keduanya suka berpangku pada atapnya. Langit dan genggaman imajinya.

Jari mungilnya tak henti memutar-mutar rambutku. Engkau itu hujan yang paling lucu, kataku padanya. Bibirnya tersungging senyum. Iya, kunamaimu hujan. Seperti ibumu.

Matanya bersinar. Seperti hujan yang memiliki cahaya bintang. Semakin hujan beriku cara paling mistis memahami cinta pada yang hidup.

Apa ibu menyuruhmu turun, Anakku? Untuk temani seorang laki-laki yang kehilangan lama cara menumbuhkan kecintaan pada hatinya? Gumamku padanya. Kukira ia pun tak memahami apa yang kukata. Ia masih kecil. Cuma bisa mainkan kedipan, bibir mungil, pipi yang timbul, dan jari-jari yang ingin dipasangkan induk jarinya.

Hujan mulai reda. Malang diri ini jika harus melalui prosesi ini. Kau di mana, Sayangku? Apa tak juga berniat untuk turun? Bersamaku di sini, bersama anakmu yang membutuhkan air untuk diminumnya dari kemuliaan cinta itu? Apa hujan mengurungmu di sana? Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikanmu dari atas sana? Bagaimana merangkai mesin waktu agar aku bisa pula menyatu dalam hujan yang sama...

-------
Diketik pada tanggal 20 Juni 2014
Pada saat penulis terjebak antara ketukan hujan dan keinginan.

Refleksi Diri



Hasil dari semalam. MUNGKIN :

1. Dalam mengaji, aku masih banyak kesalahan. Yaa Robb, maafkan aku.
2. Dalam sholat masih belum mampu sempurna. Yaa Ghofur, bimbing teruslah aku.
3. Kurang giat dan dalam menghadapmu dalam tiap tahajud. Yaa Rohman, bangunkanlah aku dari kemalasan dunia.
4. Duhaku masih bolong-bolong. Yaa Qudus jagalah ingatanku untukMu.
5. Shodaqohku masih kurang. Yaa Baari luaskanlah keikhlasan, belajar pada ikhlasnya Rasulullah Saw.
6. Dzikirku masih khilaf, bunyi rinduku masih lebih sering dinyaringkan hal yang kurang berguna. Yaa Salam, aku begitu ingin menyelamatkan cinta-cinta yang Kau tebar ke bumi, menerimanya dengan kelapanganku sebagai hamba-Mu, yang terus mengingatmu.
7. Habluminnasku masih belum baik. Yaa Halim, aku akan terus berusaha lebih berani lagi mengasihi dan izin-Mu aku ingin berbagi apapun dari kekuranganku dari kelebihan yang Engkau titipkan.
8. Syukurku masih kurang.Yaa Asy Syukur... lindungi rasa kecukupan atas apapun.
9. Terlalu menyibukkan dengan hal duniawi, sampai cuma sedikit waktu untuk menopang pangkuan pada-Mu. Yaa Asy Syahid, tergurlah aku dengan kasih-Mu.


"Yaa Robb, aku ingin mengubah diriku menjadi lebih baik lagi untuk-Mu.."

Segelintir Fase yang Dilalui




Usia memiliki ruangnya untuk melaksanakan perkembangan. Sahabatku, sering aku ragu, sampai kapan aku menjadi seorang psikopat yang tak bisa terjun dalam kelucuan remaja. Kecil-kecil aku belajar untuk menghilangkan keinginan seperti kalian, yang bisa terus ditemani dan berada dalam ruang interaksi yang terlihat menyenangkan. Aku hapus itu. Aku tahu, hatiku tak dalam keadaan baik. Sekolah mengajariku untuk terus memperban luka di dalam. 

"Afril, aku pingin jadi kayak kamu. Gimana caranya?" Sore setelah pemotretan guru usai, Maghfi sahabatku bersuara di sampingku.

Kenapa? 

"Kamu bisa kuat sendirian, temen-temen gak ada yang berani jailin kamu. Semua segan."

Jangan begitu. Justru, aku memerlukan teman seperti kamu ada di sampingku. Bertanya, bercerita, yaa.. berbagi.. seperti kebutuhan manusia lainnya. Kadang aku iri dan tak nyaman, terasing di dalam lubang angkatan. Aku berharap besar, mereka bisa juga menggapku sama, menyenangkan kukira. Semua tertawa, meski kekoyolan bahan dasarnya. Tapi semua merasa senang. Aku penuh hambar.



Alhamdulillah, setelah wisuda sebagai lulusan terbaik, aku menghawatirkan akan begitu merindukan sebagian guru-guru, mereka yang kuanggap sebagai sahabat selama ini. Meski tidak sepleksibel pertemanan lainnya. Tapi begitulah, aku manja dengan mereka. Semua tahu aku. Awal kelas sepuluh, aku sudah menjadi delegasi duta lingkungan untuk program UI, perjalanan bersama Pak Asep Solihin (Guru TIK) awal kali masuk dalam pelajarannya, namaku lekas dicatat di kertas karena berhasil menjawab semua pertanyaannya. Kemudian, kami dekat dengan ajaib. Di situ juga, awal aku punya mimpi yang tumbuh di UI. Aku jatuh cinta pada perpustakaan, danau, dan hampir kehilangan iphone di masjidnya. Tapi tak jadi, Pak Ikmal (Guru Fikih yang lucu itu) menemukannya, pas bus akan melaju meninggalkan tempat.



Kelas sebelas, aku dan fuzi lolos dalam seleksi Parlemen Remaja untuk pertama kalinya tingkat SMA se-derajat. Esaiku berada diperingkat pertama provinsi, aku mensyukurinya, Tuhan terima kasih, kataku berulang. Pak In-in (Wakasek kurikulum+Guru sejarah) dan Pak Yudi (Guru Geografi yang kini mudah tersenyum) mengantarkan kami ke Jakarta. Kenangan sepanjang malam dengan mereka. Posisi dudukku di tengah. Kuperhatikan Pak In-in yang kepalanya terus terbentur dengan kaca jendela, ia berusaha menahan agar kepalanya tak jatuh ke pundakku. Pak Yudi depan, Fuzi di sebelah kananku. Sejak awal masuk SMA, aku seolah sudah mendapatkan porsi istimewa. Kakak kelas pun begitu, mereka baik, dan mereka mengenalku.



Setiap ada perlombaan yang berhubungan dengan karya tulis, selalu aku yang dipanggil. Iya, kataku, aku akan berusaha. Kelas sebelas aku sudah semobil merah dengan pak Aep (Wakasek Kesiswaan) untuk perlombaan yang diadakan oleh walikota. Kemudian lomba ke unsil yang kini sudah jadi PTN, selamat ya. Semoga ada perubahan yang lebih baik, bukan cuma pergantian status. :) Kami (aku dan tim) alhamdulillah, selalu berhasil membawa penghargaan untuk sekolah, dua kali mempertahankan predikat juara umum. Pak Asep tersenyum. Aku pun membalas. 



Selama perjalanan dalam kegiatan jurnalistik, menjadi seorang pimred adalah hal yang sangat penuh pelatihan. Dari kesabaran, kecekatan, ketelitian, dan keberanian dalam tiap keputusan. Harus bisa mengordinir ke seluruh bagian, sebab bagaimana pun dalam organigram cuma formalitas saja. Lari-larian aku ke sana ke mari, belum menghadapi watak bagian dari pengurus yang beraneka ragam. Tapi di sana kami benar-benar belajar bertanggung jawab. Saat itu aku dan Della mengurusi event tahunan. Sebagai gebrakan, aku memperluas ingin mengadakan sampai tingkat Jawa Barat. Luar biasa, kami mendaki dan berlari. Berbekal terus mencari relasi-relasi baru. Aku bersyukur, berkat kepenulisan, aku berani, dan karyaku dikenal. Maka, aku dipanggil. Kemudian, aku memulai dengan interview, selanjutnya perkenalan yang lebih personal. Aku berhasil menggangdeng Majalah Annida sebagai mediapatner. Apalagi dalam masalah buget yang agak sensitif. Untuk acara sebesar ini, aku memerlukan dana yang tidak sedikit. Tapi aku manfaatkan dulu relasi yang ada dan pembagian amanah tentunya agar masalah ini bisa diselesaikan lebih cepat dibanding hanya oleh satu tangan, mulanya agak riskan, tapi kita harus memberi kesempatan pada potensi yang ada pada mereka untuk berkembang. Alhamdulillah, acara pun terselenggara dengan meriah dan penuh testimoni apresiatif. Terjauh dari Bekasi. Kami berhasil mengundang pemateri penulis Skripwriter Trans7&MncTv, salah satu Host TVone, tim Annida, dan tim ACT langsung juga dengan presidennya. Puji syukur, semua berjalan sesuai apa yang ditargetkan dan berhasil surplus kurang lebih empat atau tiga juta kala itu.

Aku mulai mengajak q-smart keluar. Menjadi relawan adalah pengaman yang tak ternilai. Kerjasama dengan relawan-relawan tasik, dan kang Bode saat itu. Menggagas Safari Mendongeng di bulan Ramadhan. Kita bisa simak, semangat anak-anak dan jiwa yang jujur dengan keriangannya. Berbagi sedikit apa yang ada tertitipkan pada kita, nyatanya membuka kebahagian luar biasa pada kehangatan bathin pribadi. Hal itu benar-benar membuat ketagihan. Menyenangkan, apa yang kita tutupi, pelan-pelan ia terbuka dan menerima harum bunga dari luar. Sejak itu, aku mulai berani go public. Bergabung dengan komunitas-komunitas kreatif yang memacu hal positif. 



Meski, pada kenyataannya, aku masih anak perempuan yang masih merasa asing dengan suasana yang terlalu ramai. Namun, ketakutanku berkurang. Pelan-pelan aku cairkan. Meski didominasi dengan orang yang lebih tua dibanding usiaku, tapi di sana aku mengenal hangatnya cara manusia melakukan perhatian pada komunikasinya. Kemudian di awal tahun, aku ikut bagian pelopor terbentuknya Forum Osis Jawa Barat.



Kelas dua belas, aku tidak berhenti untuk melebarkan sayap di forum nasional. Karena di sanalah tempat terbaik untukku mempelajari perbedaan dan keluasan kompetisi. Aku sudah lebih dulu mengenal tiap anak dari pelosok negeri sebagai pilihan terbaik daerahnya. Bertemu dengan para tokoh baik dalam ranah politik, perusahaan asing, dan motivator lainnya. Akhir kelas ini, aku tidak berhenti terus menggali tempat. 

Alhamdulillah, aku berhasil menjadi delegasi untuk PeaceGeneration dan terpilih menjadi Duta Askobi (Asosiasi Korban Bom Lima Bali) di sana, betul-betul kami meraup nilai serta visi misi sebagai agen perdamaian. Aku ajak Desarah untuk menemaniku, ia baik dan tidak manja, maka aku ajak dia. Di forum ini berbagai lintas agama disatukan. Mawar, dari Advent ia yang masih aku kenal karena kami bicara panjang mengenai agamanya dan agamaku. Masih banyak lagi, Nathan juga, dia katolik, juga baik. Ada Naci, dia penganut budhist, lembut. Dan masih banyak lagi. 

Alhamdulillah, diakhir aku dipilih untuk memimpin ikrar. Salah satu mimpiku yang paling aku inginkan, meminpin ikrar kebajikan. Setelah event itu, aku lulus lagi untuk FOR5.

Karena di forum-forum aku bisa merasai bagaimana pelajaran dari persahabatan yang tidak bisa aku dapati dalam kelas. Terima kasih, Tuhan, Engkau sahabat terbaikku selama ini. Terima kasih, Sahabat.. Kau buatku merasa menjadi manusia yang bisa memandang gerak kehidupan.

Menjadi Zombie, Gu



dalam keadaan seperti ini...
aku butuh menulis juga. 

gu, maaf aku ya. sering aku juga merasa bersalah padamu, juga pada sehu. apa yang aku cari? kadang terlalu pekat menyiksa tubuh pelan-pelan. makin menggali, makin ada batasan-batasan yang aku temukan dalam diri sendiri. apa aku masih manja, gu? orang bilang, terlalu pagi bilang badai pasti kembali. cuma, aku khawatir pada hati sendiri. ia terluka, gu. pelan-pelan aku obati lukanya, tapi bekasnya jika dilihat ke dalam masih ada bagian yang paling perih jika dirasa-rasa, ingat masa ke belakang. tak baik memang, tapi pikiran punya polanya, hidup juga begitu, menulis juga begitu. kita cuma membutuhkan pegangan formula apa yang akan kita jadikan kerangkanya.

orang tak mengerti tentangku. tapi ada bagian dari mereka yang terus sok tahu. aku tak terlalu suka. tapi dengan begitu, aku sombong dalam tiap interaksi. tidak baik, kataku pada diri. kita yang punya keunikan digabung dengan keunikan akan menghasilkan lebih dari dua keunikan. gu, rasanya bahasa makin menyediakan lapang untuk peti-peti pikiran kedalamkan. kepalaku itu terasa begitu sempit, begitu banyak yang aku pertanyakan, yang ingin aku nyatakan, yang ingin aku utarakan. tapi ia terjebak, mana yang lebih dulu harus aku kemukakan.

genetik sunyi ini, gu.

belum bisa mengubahku jadi manusia senyatanya dalam permukaan bumi. rasanya dingin, seperti zombie. seperti politik dalam negeri. mungkin, aku cuma haus. ingin minum darah lagi. sehu, ajari aku terbang, gu. kalau malam tiba, kami tanggal di bawah cahaya bulan. pelan-pelan sehu mengajariku cara melucu. mulanya, aku berpikir kalau vampire tak bisa melucu. ternyata bisa juga. descartes tertawa memandang hume. aku tertawa tak bisa ketawa. hhe.

gu, jika kematian itu akhirnya tiba. satu di antara kita lebih cepat meninggalkan bahasanya. meninggalkan setangkup peliharaan di bumi. gu, bisa menerima itu kan? aku juga bisa melepas itu? meski, mata kita cuma sebatas dipantulkan monitor. tapi, dalam lahan bahasa. sering kita bermain. aku menyukai pangkuanmu, bisikku kala itu. iya af, balasmu. dalam dunia ini, cuma bahasa yang buat gerakkan sukacita rasa hidup sebagaimana logika keterlepasan. gu, hidup ini indah kan ya? Tuhan memeluk kita. ia tak biarkan kita sendiri. oleh karena Ia pun terlalu Maha Esa dengan segala kemahasempurnaannya. apa yang manusia bisa perbuat atas jalan kehendaknya?

gu, wisuda telah berakhir. aku lulus dengan predikat siswi berprestasi dan dua penghargaan lainnya. aku mensyukurinya atas perjuanganku dalam keasingan selama ini. tapi hatiku masih hampa oleh karena apa yang aku targetkan selama ini tidak meluluskanku dengan jalan pertama. guru-guru memelukku. kamu adalah intan, begitu bisik walikelas terakhirku. tapi aku masih diam. lemas sekujur tubuhku. pak kepsek mendekat, ia hampir menyentuh wajahku. ia mengambil bulu mata pasang itu yang mulai hilang perekatnya. karena lama aku menumpukkan dahi pada kursi depan. bukan akhir segalanya, bapak tahu afril adalah siswi terbaik maka ujiannya pun besar, tapi ujian besar itulah yang mengantarkan orang-orang pada kebesarannya. begitu yang aku terjemahkan dari pak jenal, kepala sekolah yang sangat baik. beliau sering menyemangatiku, gu. aku dekat dengannya. pak in-in juga, pak asep yang lucu, dan pak dedi tempat aku membagi ruang diskusi hidup. 

gu, aku  mulai berpikir. apa aku harus merasakan jatuh cinta? temanku bilang seperti itu. tapi diri sendiri tidak. apa yang aku cinta saat ini, adalah apa yang selalu berusaha ada dalam keberadaan keadaannya. ibuku sempurna, ayahku juga, saudaraku juga, semua keluarga yang Tuhan berikan ini memiliki cinta yang besar, dengan masing-masing perwujudannya.

telapak-telapakku dingin gu. dalam keadaan seperti ini, mudah sekali suhu tubuhku menurun. aku seperti zombie, kataku di atas. yang ingin menemukan surganya.

---
afta

Harian Pemula

02 Juni 2014

------


Gie, apa yang lebih lepas dari keterpisahan kita pada kenyataan yang menolak suatu yang telah lama kita hendaki? Jalan begitu aral, makin begitu dalam dunia pribumi ini. Langit makin hitam sendirinya, meski malam yang terus bertambah tua makin genting menghanyutkan pikiran-pikiran yang gelisah karenanya. Gie, aku belajar melepas yang aku cinta. Sejak lama, aku terbiasa bercakap dengannya dalam doa. Tapi ia melepaskanku begitu saja. padahal yang aku percayai cinta tidak seperti itu, tapi begitulah cara cinta bekerja kata guru bathinku. Maka, aku tak mau jatuh cinta, belum cukup mentalku pada manusia.

Soe Hok Gie--

Antara Jogja-Tasikmalaya, baru kali pertama aku menaiki kereta api jurusan UGM. Sampai di tempat, aku mendapatkan Mapresnya sebagai navigator di sana, baik. Sepanjang jalan itu aku belajar untuk menerima begitu cara cinta bekerja, ia tak selalu mengakumulasikan usaha yang selama ini aku perjuangkan dengan apa-apa yang terbaik. Tapi tak apa, Tuhan begitu dengan cintanya. Aku harus selalu mengalah menjadi seorang hamba. Ibuku bilang aku tidak boleh larut. Gie, aku mulai memikirkan untuk sekolah pada jagad alam. Aku mulai bosan bicara tentang pendidikan di negeri sendiri! Tapi apa yang kukatakan masih didominasi energi negatif, itu tidak baik dan aku salah. Tuhan sayang kita, Gie. Tuhan memberikan hambanya kisah terbaik, biasanya didapat setelah mampu melewati penderitaan terbaiknya.

Aku jadi ingat ketika memasuki awal remaja masa SMP, anak laki-laki yang baik itu selalu mengikutiku dan ia ingin aku tersenyum selalu. Aku pura-pura tak mengerti apa maksud hatinya selama kami berada dalam satu kelas. Terus datang, anak laki-laki baru yang lebih populer di sekolah sebagai atlet basket yang paling dikagumi karena tampannya. Aku biasa saja. Terus kami saling cerita, ia cerita tentang hidup dan perempuan-perempuannya, aku cuma menyediakan telingaku untuk semua kesedihan yang ternyata ia lalui selama ini. Cinta itu mengajarkan kita gembira sekaligus memupuk luka.

Ketakbahagiaan memang mendekatkan orang, kataku kala itu. Anak laki-laki pertama mengaku cemburu dan ia murung tiap kali aku mencuri mata padanya. Jangan sedih, bujukku ketika jam ekskul masuk. Selama ini, kamu sudah begitu baik berusaha memahamiku, aku senang, tapi aku tak senang menyakiti hati manapun, terangku padanya. Ia diam sejenak. Aku mengerti, tapi pelan-pelan aku lepaskan dengan baik, aku kenalkan pada temanku yang lebih cantik itu. Dia mau dan kini ia masih menjadi sepasang, produkku yang berhasil, Gie.


Jenis cinta apa yang kita cari? Seolah kita membasahi terus karangan-karangan dengan keinginan pada kenyataan. Tapi kenyataan yang ada, yang kita cari cintanya, yang cintanya terus tersasat tak menemukan alamat rumahnya. Aku telah banyak berkorban juga, tapi pengorbanan adalah pilihan dalam hidup. Perguruan tinggi yang menolakku suatu saat akan merasa sangat terpukul sepertiku waktu itu. Tak ada cinta yang baik, dalam kesialannya. Gie, masa remajaku tak tahu banyak tentang kesenangan. Kesialan pertama yang aku temukan : tak pernah merasai menjadi siswi nakal. Nilai semester akhir didominasi angka kepala sembilan. Tapi itu tidak menebus ke target berikutnya. Teman-temanku yang dapati kesenangan, dapati pula targetnya dengan gampang. Aku tetap bersyukur atas keberhasilan mereka. Beginilah kukira cara Tuhan mencambukku. Pada cambukkan pertama seseorang akan terdiam merintih dengan lukanya atau lari semakin cepat.

historis

"ketragisan dari historis bukan dijadikan keruncingan yang fundumental membocorkan balon kesatuan umat manusia dalam nusantara." -Afrilia

Af's Quote

Orang boleh bebas dalam dunia imajinasinya dan menghidupi apa yang lama dimimpikannya. Dari mimpi ke perubahan berarti. Dari prosesi yang dapat dipelajari dapat menumbuhkan jiwa-jiwa yang lebih bijak menghargai nilai dan penemuan dalam sekali hidupnya.

Einsten's Quote

"Jika A adalah kesuksesan dalam hidup, maka A=x+y+z
Bekerja adalah x, bermain adalah y dan z adalah menjaga mulutmu untuk diam."

Buya Hamka's Quote

"Jangan takut jatuh karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan baru dan cari jalan yang benar pada langkah yang kedua."

Agus Salim's Quote

"Een leidersweg is een lijdensweg. Leiden is lijden.

[Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah menderita.]”

Niccolo M's Quote

"Ada tiga kelas dari intelektualitas: satu yang memahami sesuatu dengan sendirinya, lainnya adalah yang menghargai apa yang lain pahami, dan ketiga yang tidak memahami dengan sedirinya juga tidak oleh orang lain. Yang pertama paling baik, kedua baik, dan ketiga tidak berguna."