Usia memiliki ruangnya untuk melaksanakan perkembangan. Sahabatku, sering aku ragu, sampai kapan aku menjadi seorang psikopat yang tak bisa terjun dalam kelucuan remaja. Kecil-kecil aku belajar untuk menghilangkan keinginan seperti kalian, yang bisa terus ditemani dan berada dalam ruang interaksi yang terlihat menyenangkan. Aku hapus itu. Aku tahu, hatiku tak dalam keadaan baik. Sekolah mengajariku untuk terus memperban luka di dalam.
"Afril, aku pingin jadi kayak kamu. Gimana caranya?" Sore setelah pemotretan guru usai, Maghfi sahabatku bersuara di sampingku.
Kenapa?
"Kamu bisa kuat sendirian, temen-temen gak ada yang berani jailin kamu. Semua segan."
Jangan begitu. Justru, aku memerlukan teman seperti kamu ada di sampingku. Bertanya, bercerita, yaa.. berbagi.. seperti kebutuhan manusia lainnya. Kadang aku iri dan tak nyaman, terasing di dalam lubang angkatan. Aku berharap besar, mereka bisa juga menggapku sama, menyenangkan kukira. Semua tertawa, meski kekoyolan bahan dasarnya. Tapi semua merasa senang. Aku penuh hambar.

Alhamdulillah, setelah wisuda sebagai lulusan terbaik, aku menghawatirkan akan begitu merindukan sebagian guru-guru, mereka yang kuanggap sebagai sahabat selama ini. Meski tidak sepleksibel pertemanan lainnya. Tapi begitulah, aku manja dengan mereka. Semua tahu aku. Awal kelas sepuluh, aku sudah menjadi delegasi duta lingkungan untuk program UI, perjalanan bersama Pak Asep Solihin (Guru TIK) awal kali masuk dalam pelajarannya, namaku lekas dicatat di kertas karena berhasil menjawab semua pertanyaannya. Kemudian, kami dekat dengan ajaib. Di situ juga, awal aku punya mimpi yang tumbuh di UI. Aku jatuh cinta pada perpustakaan, danau, dan hampir kehilangan iphone di masjidnya. Tapi tak jadi, Pak Ikmal (Guru Fikih yang lucu itu) menemukannya, pas bus akan melaju meninggalkan tempat.

Kelas sebelas, aku dan fuzi lolos dalam seleksi Parlemen Remaja untuk pertama kalinya tingkat SMA se-derajat. Esaiku berada diperingkat pertama provinsi, aku mensyukurinya, Tuhan terima kasih, kataku berulang. Pak In-in (Wakasek kurikulum+Guru sejarah) dan Pak Yudi (Guru Geografi yang kini mudah tersenyum) mengantarkan kami ke Jakarta. Kenangan sepanjang malam dengan mereka. Posisi dudukku di tengah. Kuperhatikan Pak In-in yang kepalanya terus terbentur dengan kaca jendela, ia berusaha menahan agar kepalanya tak jatuh ke pundakku. Pak Yudi depan, Fuzi di sebelah kananku. Sejak awal masuk SMA, aku seolah sudah mendapatkan porsi istimewa. Kakak kelas pun begitu, mereka baik, dan mereka mengenalku.

Setiap ada perlombaan yang berhubungan dengan karya tulis, selalu aku yang dipanggil. Iya, kataku, aku akan berusaha. Kelas sebelas aku sudah semobil merah dengan pak Aep (Wakasek Kesiswaan) untuk perlombaan yang diadakan oleh walikota. Kemudian lomba ke unsil yang kini sudah jadi PTN, selamat ya. Semoga ada perubahan yang lebih baik, bukan cuma pergantian status. :) Kami (aku dan tim) alhamdulillah, selalu berhasil membawa penghargaan untuk sekolah, dua kali mempertahankan predikat juara umum. Pak Asep tersenyum. Aku pun membalas.

Selama perjalanan dalam kegiatan jurnalistik, menjadi seorang pimred adalah hal yang sangat penuh pelatihan. Dari kesabaran, kecekatan, ketelitian, dan keberanian dalam tiap keputusan. Harus bisa mengordinir ke seluruh bagian, sebab bagaimana pun dalam organigram cuma formalitas saja. Lari-larian aku ke sana ke mari, belum menghadapi watak bagian dari pengurus yang beraneka ragam. Tapi di sana kami benar-benar belajar bertanggung jawab. Saat itu aku dan Della mengurusi event tahunan. Sebagai gebrakan, aku memperluas ingin mengadakan sampai tingkat Jawa Barat. Luar biasa, kami mendaki dan berlari. Berbekal terus mencari relasi-relasi baru. Aku bersyukur, berkat kepenulisan, aku berani, dan karyaku dikenal. Maka, aku dipanggil. Kemudian, aku memulai dengan interview, selanjutnya perkenalan yang lebih personal. Aku berhasil menggangdeng Majalah Annida sebagai mediapatner. Apalagi dalam masalah buget yang agak sensitif. Untuk acara sebesar ini, aku memerlukan dana yang tidak sedikit. Tapi aku manfaatkan dulu relasi yang ada dan pembagian amanah tentunya agar masalah ini bisa diselesaikan lebih cepat dibanding hanya oleh satu tangan, mulanya agak riskan, tapi kita harus memberi kesempatan pada potensi yang ada pada mereka untuk berkembang. Alhamdulillah, acara pun terselenggara dengan meriah dan penuh testimoni apresiatif. Terjauh dari Bekasi. Kami berhasil mengundang pemateri penulis Skripwriter Trans7&MncTv, salah satu Host TVone, tim Annida, dan tim ACT langsung juga dengan presidennya. Puji syukur, semua berjalan sesuai apa yang ditargetkan dan berhasil surplus kurang lebih empat atau tiga juta kala itu.

Aku mulai mengajak q-smart keluar. Menjadi relawan adalah pengaman yang tak ternilai. Kerjasama dengan relawan-relawan tasik, dan kang Bode saat itu. Menggagas Safari Mendongeng di bulan Ramadhan. Kita bisa simak, semangat anak-anak dan jiwa yang jujur dengan keriangannya. Berbagi sedikit apa yang ada tertitipkan pada kita, nyatanya membuka kebahagian luar biasa pada kehangatan bathin pribadi. Hal itu benar-benar membuat ketagihan. Menyenangkan, apa yang kita tutupi, pelan-pelan ia terbuka dan menerima harum bunga dari luar. Sejak itu, aku mulai berani
go public. Bergabung dengan komunitas-komunitas kreatif yang memacu hal positif.

Meski, pada kenyataannya, aku masih anak perempuan yang masih merasa asing dengan suasana yang terlalu ramai. Namun, ketakutanku berkurang. Pelan-pelan aku cairkan. Meski didominasi dengan orang yang lebih tua dibanding usiaku, tapi di sana aku mengenal hangatnya cara manusia melakukan perhatian pada komunikasinya. Kemudian di awal tahun, aku ikut bagian pelopor terbentuknya Forum Osis Jawa Barat.
Kelas dua belas, aku tidak berhenti untuk melebarkan sayap di forum nasional. Karena di sanalah tempat terbaik untukku mempelajari perbedaan dan keluasan kompetisi. Aku sudah lebih dulu mengenal tiap anak dari pelosok negeri sebagai pilihan terbaik daerahnya. Bertemu dengan para tokoh baik dalam ranah politik, perusahaan asing, dan motivator lainnya. Akhir kelas ini, aku tidak berhenti terus menggali tempat.
Alhamdulillah, aku berhasil menjadi delegasi untuk PeaceGeneration dan terpilih menjadi Duta Askobi (Asosiasi Korban Bom Lima Bali) di sana, betul-betul kami meraup nilai serta visi misi sebagai agen perdamaian. Aku ajak Desarah untuk menemaniku, ia baik dan tidak manja, maka aku ajak dia. Di forum ini berbagai lintas agama disatukan. Mawar, dari Advent ia yang masih aku kenal karena kami bicara panjang mengenai agamanya dan agamaku. Masih banyak lagi, Nathan juga, dia katolik, juga baik. Ada Naci, dia penganut budhist, lembut. Dan masih banyak lagi.
Alhamdulillah, diakhir aku dipilih untuk memimpin ikrar. Salah satu mimpiku yang paling aku inginkan, meminpin ikrar kebajikan. Setelah event itu, aku lulus lagi untuk FOR5.
Karena di forum-forum aku bisa merasai bagaimana pelajaran dari persahabatan yang tidak bisa aku dapati dalam kelas. Terima kasih, Tuhan, Engkau sahabat terbaikku selama ini. Terima kasih, Sahabat.. Kau buatku merasa menjadi manusia yang bisa memandang gerak kehidupan.