background img

The New Stuff

Esai Anti Korupsi - HARAPAN INDONESIA ADA PADA MAHASISWANYA

HARAPAN INDONESIA ADA PADA MAHASISWANYA
Oleh Affrilia Utami


“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”
-Soe Hok Gie
            Korupsi di Indonesia dari masa ke masa telah mentransformasi banyak tragedi komedi ke dalam sejarah merah. Secara sederharna, korupsi dapat diartikan sebagai segala kegiatan yang memanipulasi, merusak, merugikan, membunuh nilai-nilai kaidah dalam berbangsa dan berkehidupan sosial. Indonesia menerima pukulan ini dari masa ke masa.
            Pada zaman VOC, dipicu oleh ketidak puasan para pegawainya atas gaji yang diterimanya yang sangat minim. Sebagai akibat dari monopoli yang praktikkan oleh manajemen VOC. Kerusakan moral pegawai VOC yang korup mencerminkan keburukan manajemen dan sistem dagang oleh para elite VOC. Di masa pemerintahan orde lama, korupsi bukan saja tidak dapat diberantas tetapi juga tidak dapat dikendalikan. Presiden Soekarno terkesan tidak dapat mengendalikan militer yang saat itu diberi kewenangan untuk melaksanakan kebijakan nasionalisasi. Menuju ke masa orde baru, korupsi semakin marak bocor ditubuh-tubuh birokrasi.
            Pada masa pemerintahan Megawati[1], pemerintah kemudian membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui UU No. 30 Tahun 2002. Struktur dan kelembagaan KPK tidak dipengaruhi oleh kekuasaan manapun. Selanjutnya, di masa pemerintahan SBY, kinerja KPK untuk memberantas korupsi sangat menonjol. Sudah menjamah Birokrat, politisi, pejabat BI, polisi, Jaksa di Kejaksaan Agung, hakin di MA, anggota legislatif, duta besar dan menteri.
            Bercermin pada sejarah korupsi dari masa ke masa. Peran mahasiswa sebagai penerus roda kepemimpinan di masa depan, tidak boleh lepas dari nilai-nilai tridharma perguruan tinggi; pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Kendati, serangan akan pendestruktifan kualitas moral dan mental menjadi senjata yang paling mudah ditemui di zaman globalisasi seperti ini.
            Soe Hok Gie, seorang tokoh mahasiswa yang peduli dan membuka pemikirannya ke dalam tulisan. Gie bersuara akan pencanangan keadilan dan suara mahasiswa dalam “Catatan sang Demonstran” Soe Hok Gie menelurkan butir semangat perjuangan, meskipun masih berputar pada kritik di zamannya.     
            Keadaan Indonesia di masa mendatang dapat diprediksikan dari wajah mahasiswanya kini.          Keterpedulian akan tanggung jawab harus dijaga dan diabadikan sebagai implementasi dari tridarma perguruan tinggi. Jika mahasiswa menjadi tukang-tukang atau followers tidaklah terjadi suatu perubahan yang fundamental. Mahasiswa perlu bersuara, bervisi mulia, dan sadar akan masa depan bangsa.  Sebagai mahasiswa apa yang harus dilakukan?
            Pertama, sebab terjadinya korupsi permasalahan utama ada pada nilai-nilai moral yang sudah hancur. Sebagai mahasiswa yang bertanggung jawab, tanam dan pupuklah benih suara kehidupan lebih baik dengan mendedikasikan dirinya secara optimal dan jujur.
            Kedua, disebabkan oleh rasa ketidakpuasan dan kesempatan untuk melakukan. Semangat nilai agama perlu dikuatkan dalam pembentukkan pondasi pribadi insani. Dalam pancasila butir satu, jelas menyatakan kalau Indonesia adalah negara beragama. Meski heran, banyak yang mengaku agamawan masih terjaring kasus serupa. Di sini, mahasiswa secara sadar perlu tanggap mengikuti perkembangan dan permasalahan sosial yang ada.
            Ketiga, rendahnya pendeteksian resiko dan penghukuman (low risk detection and punishment). Rezim selalu bersikap permisif terhadap elit yang berkuasa. Ukuran hukuman yang ditegakkan di Indonesia belum kuat untuk membuat korupsi reda dari ladangnya.  Kenapa tidak hukuman mati? Menyalahi HAM? Bukannya korupsi sudah lebih mencederai berdirinya HAM? Kalau tidak dihukum mati, dan penjara makin penuh, anggaran untuk makan dan sebagainya di dapat dari mana? Uang negara, dari rakyat kembali.   
            Mahasiswa akan mampu melepas nilai-nilai buruk yang sudah tumbuh di atas dengan semangat optimisme untuk mengenali negara yang dicintainya. Rasa memiliki yang menumbuhkan kesadaran untuk saling berkompetisi memajukan Indonesia di garda terdepan.
            Perguruan tinggi sebagai jembatan menuju kehidupan bermasyarakat lebih baik, perlu mendukung atmosfer lahirnya pemuda-pemudi revolusioner. Tidak sibuk membatasi pada aturan-aturan akademik atau lingkungan yang bersifat meredam ekspresi para mahasiswanya. Selama hal tersebut, merupakan jalan awal menuju individu yang siap berpartisipasi aktif memajukan negara anti-korupsi.



[1] Albab, Ulul. 2009. A to Z Korupsi. Surabaya. Penerbit: JP Book.


PUISI-MAHASISWA DAN SEJARAHNYA

MAHASISWA DAN SEJARAHNYA
Oleh Afrilia Utami



Telah aku saksikan desa-desa jadi perkotaan berlapis polusi
Tembok perbatasan diukir dengan humor dan peperangan
(sebelum sepasang kekasih, ibu dan anak dibakar bersamaan)
Di mana sang tuan tak menangis. (untuk itu).

(Pukul 3 pagi, saat membaca sandiwara dan peristiwa)
Seorang pejabat tinggi duduk nyaman di kamar
Tak menengok lagi kearahmu.  Salak anjing keluar-
Ditiap-tiap sudut persimpangan dan halte pemerintahan.

Enam puluh tahun silam, reformasi diikat pada seragam.
Musim mengeras tua dan Tan Malaka (dari balik selnya)
Mengetikan semi-alienasi (dicap komunis) dalam negeri.
Cuma seorang pemuda terperajar, berdirilah harapan.

(Pada tahun 45,
Daun tertutup sulut api, cuma sisa hujan
menepis ke balik wajah perempuan yang sendiri
menyulam bendera pusaka timur)
Masuklah ke dalam kelas-kelas kehidupan
Sebelum koruptor mengemis, bendera dikibarkan!

Cuma para mahasiswa sejati (yang benar mengerti)
Bibit dada dan deram pahlawan muda
Yang terlahir dalam pekat kabut panceklik
Memangkas suka cita yang mati dari sederet jari
Yang melukai ingatan para bangsanya sendiri...

Cuma para mahasiswa sejati
Menghangatkan darah untuk berbuat
Sampai ujung sejarah memarkirkannya.
(meski tanpa kartu nama, sekalipun!)

Dan para malaikat yang tak berwujud
Ke luar dari garisnya. (seperti desis angin)
Para mahasiswa membangun perahu nuh
Seolah zaman mengikat keberadaan masa silam
Garis-garis yang terus berkabung, bersambung...
Membangun peradaban keadilan di tebing-tebing jalan


20 Oktober 2014

*)Diikutkan dalam lomba anti korupsi Telkom University 

historis

"ketragisan dari historis bukan dijadikan keruncingan yang fundumental membocorkan balon kesatuan umat manusia dalam nusantara." -Afrilia

Af's Quote

Orang boleh bebas dalam dunia imajinasinya dan menghidupi apa yang lama dimimpikannya. Dari mimpi ke perubahan berarti. Dari prosesi yang dapat dipelajari dapat menumbuhkan jiwa-jiwa yang lebih bijak menghargai nilai dan penemuan dalam sekali hidupnya.

Einsten's Quote

"Jika A adalah kesuksesan dalam hidup, maka A=x+y+z
Bekerja adalah x, bermain adalah y dan z adalah menjaga mulutmu untuk diam."

Buya Hamka's Quote

"Jangan takut jatuh karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan baru dan cari jalan yang benar pada langkah yang kedua."

Agus Salim's Quote

"Een leidersweg is een lijdensweg. Leiden is lijden.

[Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah menderita.]”

Niccolo M's Quote

"Ada tiga kelas dari intelektualitas: satu yang memahami sesuatu dengan sendirinya, lainnya adalah yang menghargai apa yang lain pahami, dan ketiga yang tidak memahami dengan sedirinya juga tidak oleh orang lain. Yang pertama paling baik, kedua baik, dan ketiga tidak berguna."