"AKU SI DUTA PERDAMAIAN"
Negara Indonesia dibangun oleh banyak pengorbanan dan
perjuangan. Setiap pertumbuhan bangsa atau peradaban pasti menelurkan
sejarahnya sendiri-sendiri. Entahlah itu sejarah yang dinilai sebagai sejarah
keemasan ataupun sebaliknya dianggap sebagai bagian dari sejarah kelam.
Indonesia memiliki sejarah paling hitam, salah satunya Gerakan September 30
(G30S-PKI).
Peristiwa Gestapu adalah satu dari peristiwa kelam sejarah
bangsa yang dalam pengungkapan kebenarannya masih berselimut kabut kontroversi.
Pembantaian tujuh perwira Angkatan-Darat dan petinggi lainnya, kemudian
penumpukkan mayat dengan sayatan keji ke dalam lubang buaya. Menimbulkan terauma
kuat bagi para korban dimasanya, hingga turun pada turunannya. Hampir satu
sampai dua juta masyarakat Indonesia mati karenanya. Kekerasan sudah hidup
berabad-abad dalam sejarah, mengakar ke dasar, dan akhirnya meninggi ke
awang-awang. Jika hal ini tidak segera dibenahi dengan serius, maka beginilah
cara dunia mengakhiri hidupnya sebelum kiamat tiba.
Sejarah telah mereduksi kekuatan dan ketakutan. Kekejaman yang
luarbiasa, antara dibunuh atau membunuh. Pembunuhan yang begitu tragis,
perempuan-perempuan yang kehilangan kewarasannya lalu diseret nafsu sampai
hilang nyawa, anak-anak yang mati tanpa tahu pelajaran mengenai hidup dengan
iman dan cinta pada pertiwi. Bagaimana cermin bangsa setelah usaha perhelatan
merebut identitasnya?
Spranger menafsirkan masa remaja adalah masa pertumbuhan
dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental ialah kesadaran akan ‘aku’,
berangsur-angsur menjadi jelasnya tujuan hidup, pertumbuhan ke arah dan ke
dalam berbagai lapangan hidup. Era globalisme, telah memberikan akibat-akibat
yang dapat menghancurkan kesuksesan induk budaya. Hal ini dapat dibuktikan
dengan menghayati perkembangan remaja muda kini.
Cak Nun menyatakan dalam pidatonya bahwa yang sedang kita
lalui sekarang ini adalah hari-hari yang sedang sangat rawan-rawannya bagi
kehidupan hati nurani, akal sehat dan kemanusiaan. Hari-hari penghancur logika,
penjungkir-balik rasionalitas dan peremuk kejujuran. Hari-hari di mana
pengetahuan dan ilmu manusia diselubungi oleh kegelapan, atau
sekurang-kurangnya keremangan. Hari-hari di mana manusia, kelompok-kelompok
masyarakat, lembaga dan birokrasi sejarah, bukan saja tidak memiliki akurasi,
kejernihan dan kejujuaran dalam menatap hal-hal di dalam kegelapan – tapi lebih
dari itu bahkan tidak semakin bisa mereka pilahkan beda antara cahaya dan
kegelapan.
Bangsa bukan hanya kehilangan alamat kemanusiaannya, alamat
rohaninya, alamat moralnya, lebih dari itu juga kehilangan alamat sosialnya,
alamat politik, ekonomi dan kebudayaannya. Inilah hari-hari di mana
standar-standar pengetahuan bersifat terlalu cair, di mana pilar-pilar ilmu dan
pandangan kabur pada dirinya sendiri, di mana kepastian hukum bersifat terlalu
gampang dilunakkan dan diubah bentuk maupun substansinya sehingga juga sangat
gampang kehilangan kepastiannya.
Vandalisme merupakan tanda keberhasilan kaum modern memupuk
benih-benih bagi tujuan diujungnya. Yang sedang kita hadapi bukan saja
kejahatan yang membawa pistol atau pisau dapur secara terang-terangan. Akan
tetapi sudah memasuki tahap ‘hipnosis’ yang tidak kita sadari, kita yang
memerangi diri sendiri.
Kendati, banyak tokoh-tokoh entah itu selebritis atau politis
menyontohkan perbuatan buruk, kita saksikan remaja di jalan-jalan yang gerilya
tawuran dijalanan dalam pemberitaan. Berlaku curang karena oriented pada
nilai patokan Sekolah. Pemerkosaan dan pemakaian barang kotor sudah menjadi
cemilan. Gaya hidup hedonisme, sudah mengalahkan kesederharnaan Indonesia dalam
menjaga alamnya. Bagaimana nasib Indonesia pada akhirnya?
Saya ingin menyelamatkan budaya kearifan lokal. Jangan kita biarkan budaya yang
merusak pada akhirnya berujung pada generasi yang mengutamakan kekerasan yang
berujung pada fasisme. Hal ini, dimulai dari diri sendiri yang mengajak
kawan-kawan sebayanya, kemudian maju ke tingkat yang lebih tinggi.
Mensosialisasikan kembali budaya demokratisasi yang sehat, hingga tercapailah
pembukaan UUD 1945. Dengan secara singkat mengintegritaskan peran keluarga,
pendidikan, ekstrakurikuler, pemerintah dan masyarakat, serta peran media.
Suara perdamaian dan pembelaan atas kemerdekaan bangsa harus terus
didengungkan. Generasi muda selanjutnyalah yang akan menjalankan nasib negara
ini. Sudah sepantasnya, kita rebut kekerasan, kejahatan, kecurangan, kerusakan
dengan tangan yang mengepal kuat, “Kami siap membangun bangsa, Aku yang akan
memulai.”
-------
Afta.

0 komentar:
Posting Komentar