background img

The New Stuff

“AYO Kreatif untuk Indonesia”





Saatnya remaja mengenal peran dan kontribusi untuk lingkungan disekitarnya dan Indonesia. Melalui Forum Pelajar Nasional FOR 5 yang diadakan selama sepekan penuh (18-22 Desember 2013) para pelajar terpilih se-Indonesia yang terjaring dari seleksi dan syarat yang ketat telah membawa aspirasi dari latar belakang yang beragam. Kegiatan yang diselenggarakan di Jakarta mendapatkan apresiasi positif dari narasumber dan tokoh-tokoh yang berkompeten. Antusias para peserta mewarnai semangat dalam mencapai visi memajukan Indonesia.

Forum Pelajar Indonesia adalah kegiatan yang menyediakan ruang seluas-luasnya bagi pelajar tingkat SMA, SMK ataupun MA untuk berkreasi dan berinovasi menyampaikan ide dan gagasan mereka baik kepada Masyarakat, Pemerintah ataupun kepada Pelaku Bisnis. Forum ini diprakarsai oleh “Indonesia Student And Youth Forum (ISYF)”yang peduli terhadap aspirasi pelajar.

Forum Pelajar Indonesia adalah Agenda tahunan yang sudah berlangsung sejak tahun 2009. Selama empat tahun penyelenggaraan, Forum Pelajar Indonesia telah memberikan dampak yang positif kepada seluruh pelajar di Indonesia dan juga kepada stakeholder. Saat ini sudah 1200 pelajar yang tersebar di 27 provinsi menjadi anggota dari Forum Pelajar Indonesia. Selain itu kegiatan ini telah membangun kemitraan strategis dengan berbagai lembaga pemerintahan, BUMN, swasta, perusahaan, media dan komunitas masyarakat sipil.

Forum Pelajar Indonesia  merupakan media yang strategis untuk membangun jaringan diantara pelajar Indonesia, sebanyak 256 pelajar terpilih telah berpartisipasi dari berbagai latar belakang yang tersebar di 22 provinsi di Indonesia.

Kota Tasikmalaya akhirnya dapat mengirim delegasi untuk pertama kali setelah lima kali acara FOR diadakan. SMA Almuttaqin Kota Tasikmalaya sejauh ini sudah mulai mendobrak motivasi untuk berkompetesi secara nasional, serta mendorong siswa dan siswi untuk berani aktif dalam forum-forum nasional.

“Dalam Forum inilah, saya banyak mempelajari dan mengenal betapa dahsyatnya potensi yang kita miliki. Semangat perubahan untuk Indonesia lebih baik telah jauhari ada dalam daya juang selama ini, kami sebagai anak bangsa siap memulainya!” Ungkap Affrilia, siswi SMA Almuttaqin menjadi delegasi dari Kota Tasikmalaya.

Bentuk kegiatan Forum Pelajar Indonesia ke-5 adalah Dialog Pelajar dengan (Ketua BP2TKI, Kepala BPKKBN, Sutradara Hanung Bramantyo, Wakil Ketua Umum PBB, Ketua GRSP, Jend. (Purn) Luhut A. P, Menteri Koperasi dan UKM, Pengusaha, Ketua Politisi Partai, Tokoh Nasional, Duta Diplomasi Negara Amerika dll), Workshop Keterampilan, Kunjungan (perusahaan asuransi terbesar, lembaga negara, kunjungan kedutaan, dll), sosialisasi topik-topik gerakan (kreatif untuk Indonesia, media nasional dan lokal, dll), Diskusi Kelompok, Working Group MPGG (Merah Putih Gaya Gue), dan ditutup dengan Pentas Budaya Nusantara.

“Harapan saya Semua pelajar indonesia bangga dengan negara dan bangsanya. Pelajar indonesia bisa bersatu bersama-sama berkreasi dan berinovasi nyata dimanapun di wilayah indonesia” Harapan Fajar Kuniawan, Director of ISYF & FOR.


Melalui forum-forum seperti inilah yang dibutuhkan para remaja dan anak muda bangsa untuk mengembangkan kemampuan dan melebarkan semangat visi untuk masa depan bangsa lebih baik. Mengenal secara langsung dan diskusi antar tokoh dapat memacu daya kritis, keberanian, serta mengasah kreatifitas berinovasi pelajar untuk mengenali negeri Indonesia.

-------

Afta.

Seandainya Saya Menjadi Ketua KPK




Indonesia sebagai negara yang menganut sistem Demokrasi yang benar-benar romantis. Demoktrasi tidak sepenuhnya memerdekakan tegaknya kesejahteraan dan keadilan, juga tidak menghapus penjajahan atas bangsa. Serta budaya korupsi yang terus berkembang begitu pesat tanpa macet,  tetapi munculnya kesenjangan inilah yang menyebabkan ‘kemacetan’ besar dalam politik Indonesia.

“Kita membutuhkan Pancasila kembali karena ia merupakan proses negosiasi terus menerus dari sebuah bangsa yang tak pernah tunggal, tak sepenuhnya bisa ‘eka, dan tak ada yang bisa sepenuhnya meyakinkan bahwa dirinya, kaumnya, mewakili sesuatu yang Maha Benar”[1].

Maka kursi demokrasi hanya diisi oleh orang-orang yang siap berbakti pada pertiwi.
Negara yang dulu dikatakan kaya dengan kolam susu, dan syurganya tanah yang subur. Kita memang hidup di negara yang kaya akan etnis, keragaman bahasa, karya, juga agama. Namun hampir Indonesia kehilangan agamanya. Yakni persatuan, kemerdekaan, ketakwaan, kesejahteraan, dan rasa tanggung jawab.

Maka kemanakan laju pergerakan kemerdekaan ini? yang dulu dengan perjuangan tidak kecil, pahlawan, pengabdian pemuda dari tanah air rela mati demi sebuah kemerdekaan yang benar-benar dinantikan bangsa ini! Kendati, setelah pahlawan kita memenangkan penindasan atas penjajahan bangsa asing. Nasib kemerdekaan belum sepenuhnya tumbuh dan hidup, sebab ia terbatas, dan makin memaksimakan batas, kemudian melapangkan penindasan atas sejarah.


Korupsi yang sangat menghianati negara, serta sucinya sebuah proklamasi menodai rahim tanah air. “Yang muda, yang tawuran. Yang salah wakil, Yang harus dihormati atas ketakhormatanannya sumpah pada Pertiwi.”. Tiga badan besar (Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif) yang harusnya menjaga gerak perdamaian dan kesejahteraan rakyat, malah kadang saling beradu argumen siapa yang paling bersalah, siapa yang paling benar, dan siapa yang akan memenangkan sebuah perhelatan akan penipuan lainnya.

KPK sebagai Badan Pemberantasan Korupsi yang disinilah tugasnya yakni mengangkat pedang paling tajam, dan menyiapkan banyak peti mati atau liang lahat cukup berukuran 1,2 X 2 meter saja. Selain, membantu meningkatkan produksi tukang buat peti. Upaya ini juga dapat menjadikan hukuman sebagai ketetapan harga mati. Hukum bukan buat dijual-beli khusus pesanan dengan harga yang sesuai. Akan tetapi ketetapan sanksi yang menjamin ketegasan dan berlaku secara umum, tidak pilih-pilih saku tebal dan tipis!

Jika saya menjadi ketua KPK, seorang pelajar yang memimpin suatu pergerakan fisabilillah ini. Konsep yang akan pertama saya tetapkan, adalah konsep agama. Kemudian kejujuran dengan metode hipnosis yang pernah dicetuskan oleh pak Achmad Sutiyaji. Pengumpulan tokoh-tokoh masyarakat yang benar memiliki cermin teladan dan ability yang dapat mengintegrasikan iptek dan imtak, di mana bukan hanya demokrasi yang didefinisikan sebagai suatu hak bersuara yang bisa dibeli dengan uang. Akan tetapi musyawarah, yang berlandaskan Alquran dan Hadis. Jika hukum Islam tidak bisa berdiri di Indonesia, saya ingin secepatnya mengesahkan hukuman mati setegak-tegaknya bagi sang koruptor di Tanah Air ini.

Pengrekrutan anggota sesuai dengan verifikasi. Sebuah tim akan bergerak, jika bagian-bagiannya berfungsi sebagaimana fungsinya. Maka, kencangkan dulu visi dan misi, serta strategi dengan menerapkan analis SWOT (streng, weak, opportunity, treat). Anggota hanya terdiri dari orang-orang yang siap akan berbagai ancaman. Serta, kuat komitmen dan memiliki rasa optimisme pada perubahan Indonesia emas.

Kesenjangan yang saling berantai yang mempengaruhi letak inti-inti sebuah sistem, maka akan menyebabkan timbulnya disintegrasi kebudayaan, disorientasi pandangan dan disorganisasi sosial. Jika sistem pendidikan tidak dibenahi, lembaga yang seharusnya digunakan sebagai pembentuk calon kader-kader bangsa berkualitas tinggi. Dengan masuknya berbagai unsur jahat yang mengotak-ngotakkan kehidupan. Hingga munculnya banyak kesenjangan dalam budaya pendidikan. Sehingga yang terjadi bukan transisi kebudayaan tetapi lebih besar aspek negatifnya, ialah terjadinya disintegrasi, disorganisasi, dan disorientasi sosial. pada kondisi demikianlah anarkisme lebih mudah berkembang.

Jika saya menjadi Ketua KPK, saya akan terus gembleng potensi-potensi anak bangsa untuk terus berkarya dan menyuarakan kejujurannya. Mengadakan sosialisasi terus,  baik dalam bentuk perlombaan-perlombaan, baik dimasukan dalam kurikulum wajib dari anak TK sampai tamat Sekolah mengenai ganasnya Korupsi. Mengenai mengapa kita perlu bermimpi dan menerapkan prinsip visi dan komitmen dalam tujuan sebuah hidup. Korupsi telah banyak membunuh manusia yang harusnya bahagia, tapi mati sambil memeluk lidah yang tak bertulang.

Kemudian saya akan menjadikan media, sebagai titik acu bagi transparansinya penindakkan dan proses pengungkapan fakta secara terbuka. Bukan hanya memperkeruh suasana dan memberatkan kebrutalan suatu sistem yang gagal, akan tetapi pada pendidikan problem solving dan agar sebagai masyarakat kita tidak dibohongi lagi oleh papan catur hitam dan putih. Peran media massa pun, harus terus diawasi karena tidak dipungkiri, peran media massa sebagai ujung tanjuk suatu perubahan peradaban. Maka ketetapan pers harus benar-benar dijunjung tinggi. Kini banyak media yang berniat saling menjatuhkan dan mempersuram suasana hingga meracuni pemikiran publik.

Di sinilah kita saling berkerjasama, korupsi harus secepatnya dibasmi. Jangan biarkan ada akar yang tersembunyi, hingga menyebabkan tumbuhlah ia lagi. Sudah banyak bangsa Indonesia menanggung malu akan penindasan. Saatnya kita berdiri dan bergerak bersama. Bersatu mendeklarasikan Indonesia tanpa KKN!

-------
Afta.

Perdamaian Milik Kita!



Begitulah cara aku menyayangimu, kamu hanya perlu pejam dan aku akan ada di sana. Tekun menulis hal-hal tentang perdamaian. Meski dalam politik kita ini, semua seakan hilang dari arah semestinya, tapi orang-orang memikirkan hal yang semestinya pun relatif, Saudaraku. Nasib bangsa ini, jika bukan kita. Siapa lagi yang akan mengabulkan harapannya.

Sekarang, dakwah pun dipertarungkan atas sebuah kepentingan parpol. Siapa yang tahu, apa taruhan mereka selanjutnya. Konsulidasi hanya atas sebuah judul dan jargon-jargon yang seperti biasa, memuat kenarsisan mereka di layar tivi, di kolom koran-koran nasional sampai daerah, dimuat dalam link internet, lalu akhirnya membuat lagi spanduk dan poster tak karuan di jalan-jalan. Politik kita sudah tak sehat, karena orang-orang yang menjalaninya memang sakit semua. Hidup sehat akan dimulai, ketika diri sudah menyadari telah ada cinta untuk dirinya. Damai didukung oleh jiwa yang sehat.

Harus bagaimana, membuat bangsa merindukan kedamaianya. Gestafu, sudah berakhir barangkali. Tapi jaringan terorisme terus merambah, seperti sinyal yang terus diperluas dan diperkuat jaringannya. Banyak praktek-praktek hasil demokratisasi yang tak sempurna, anarkisme yang makin buming dari kalangan yang tua sampai ke yang anak ingusan. Hukum ini dibuat dengan jujur, tapi orang-orang yang terlibat dalam naungannya tak jujur dan malah cenderung menggunakan pasal-pasal dengan amat lebaynya. Padahal, buahnya damai ialai saling mencinta, dan bibitnya damai dimulai dari cinta terhadap perdamaian. 

Yaa Robb, aku berdoa semoga Indonesia dapat menjadi negara yang makmur dan bangsanya dapat memiliki iman yang kuat. Negara akan maju, apabila seluruh bangsanya saling ingin membangun. Sikap apatis terhadap politik Indonesia, bukan cara berkontribusi terhadap pembangunan negeri ini. Ia hanya bagian hasil dari produk kepasrahan. Kepasrahan yang terlalu, tak baik pula. Air itu bisa menguap dan hilang. Ya, hidup itu setidaknya seperti atom-atom yang terus berkumpul dan mengadakan pembentukkan. Jadilah ia benda langit yang tinggi itu, yang bercahaya itu, lalu ia berkumpul jadilah galaksi, jadilah taman langit, kemudian dari putaran ibadahnya ia memadat, jadilah ia planet. Di atas planet itu, terjadilan kehidupan, apabila Engkau menyanggupi itu. Islam itu menolong, bukan menikam.


Begitulah, aku menyayangi negeri ini. Sekuat-kuatnya berusaha mengenali cinta pada objeknya (baca: iman). Indonesia sedang memerlukan cinta dari bangsanya.

-------

Afta.

Gestafu Sampai Vandalisme Dibalik ‘Krisis’ Identitas Bangsa

"AKU SI DUTA PERDAMAIAN"


           
Negara Indonesia dibangun oleh banyak pengorbanan dan perjuangan. Setiap pertumbuhan bangsa atau peradaban pasti menelurkan sejarahnya sendiri-sendiri. Entahlah itu sejarah yang dinilai sebagai sejarah keemasan ataupun sebaliknya dianggap sebagai bagian dari sejarah kelam. Indonesia memiliki sejarah paling hitam, salah satunya Gerakan September 30 (G30S-PKI).

Peristiwa Gestapu adalah satu dari peristiwa kelam sejarah bangsa yang dalam pengungkapan kebenarannya masih berselimut kabut kontroversi. Pembantaian tujuh perwira Angkatan-Darat dan petinggi lainnya, kemudian penumpukkan mayat dengan sayatan keji ke dalam lubang buaya. Menimbulkan terauma kuat bagi para korban dimasanya, hingga turun pada turunannya. Hampir satu sampai dua juta masyarakat Indonesia mati karenanya. Kekerasan sudah hidup berabad-abad dalam sejarah, mengakar ke dasar, dan akhirnya meninggi ke awang-awang. Jika hal ini tidak segera dibenahi dengan serius, maka beginilah cara dunia mengakhiri hidupnya sebelum kiamat tiba.

Sejarah telah mereduksi kekuatan dan ketakutan. Kekejaman yang luarbiasa, antara dibunuh atau membunuh. Pembunuhan yang begitu tragis, perempuan-perempuan yang kehilangan kewarasannya lalu diseret nafsu sampai hilang nyawa, anak-anak yang mati tanpa tahu pelajaran mengenai hidup dengan iman dan cinta pada pertiwi. Bagaimana cermin bangsa setelah usaha perhelatan merebut identitasnya?

Spranger menafsirkan masa remaja adalah masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental ialah kesadaran akan ‘aku’, berangsur-angsur menjadi jelasnya tujuan hidup, pertumbuhan ke arah dan ke dalam berbagai lapangan hidup. Era globalisme, telah memberikan akibat-akibat yang dapat menghancurkan kesuksesan induk budaya. Hal ini dapat dibuktikan dengan menghayati perkembangan remaja muda kini.

Cak Nun menyatakan dalam pidatonya bahwa yang sedang kita lalui sekarang ini adalah hari-hari yang sedang sangat rawan-rawannya bagi kehidupan hati nurani, akal sehat dan kemanusiaan. Hari-hari penghancur logika, penjungkir-balik rasionalitas dan peremuk kejujuran. Hari-hari di mana pengetahuan dan ilmu manusia diselubungi oleh kegelapan, atau sekurang-kurangnya keremangan. Hari-hari di mana manusia, kelompok-kelompok masyarakat, lembaga dan birokrasi sejarah, bukan saja tidak memiliki akurasi, kejernihan dan kejujuaran dalam menatap hal-hal di dalam kegelapan – tapi lebih dari itu bahkan tidak semakin bisa mereka pilahkan beda antara cahaya dan kegelapan.

Bangsa bukan hanya kehilangan alamat kemanusiaannya, alamat rohaninya, alamat moralnya, lebih dari itu juga kehilangan alamat sosialnya, alamat politik, ekonomi dan kebudayaannya. Inilah hari-hari di mana standar-standar pengetahuan bersifat terlalu cair, di mana pilar-pilar ilmu dan pandangan kabur pada dirinya sendiri, di mana kepastian hukum bersifat terlalu gampang dilunakkan dan diubah bentuk maupun substansinya sehingga juga sangat gampang kehilangan kepastiannya.

Vandalisme merupakan tanda keberhasilan kaum modern memupuk benih-benih bagi tujuan diujungnya. Yang sedang kita hadapi bukan saja kejahatan yang membawa pistol atau pisau dapur secara terang-terangan. Akan tetapi sudah memasuki tahap ‘hipnosis’ yang tidak kita sadari, kita yang memerangi diri sendiri.

Kendati, banyak tokoh-tokoh entah itu selebritis atau politis menyontohkan perbuatan buruk, kita saksikan remaja di jalan-jalan yang gerilya tawuran dijalanan dalam pemberitaan. Berlaku curang karena oriented pada nilai patokan Sekolah. Pemerkosaan dan pemakaian barang kotor sudah menjadi cemilan. Gaya hidup hedonisme, sudah mengalahkan kesederharnaan Indonesia dalam menjaga alamnya. Bagaimana nasib Indonesia pada akhirnya?

            Saya ingin menyelamatkan budaya kearifan lokal. Jangan kita biarkan budaya yang merusak pada akhirnya berujung pada generasi yang mengutamakan kekerasan yang berujung pada fasisme. Hal ini, dimulai dari diri sendiri yang mengajak kawan-kawan sebayanya, kemudian maju ke tingkat yang lebih tinggi. Mensosialisasikan kembali budaya demokratisasi yang sehat, hingga tercapailah pembukaan UUD 1945. Dengan secara singkat mengintegritaskan peran keluarga, pendidikan, ekstrakurikuler, pemerintah dan masyarakat, serta peran media.


            Suara perdamaian dan pembelaan atas kemerdekaan bangsa harus terus didengungkan. Generasi muda selanjutnyalah yang akan menjalankan nasib negara ini. Sudah sepantasnya, kita rebut kekerasan, kejahatan, kecurangan, kerusakan dengan tangan yang mengepal kuat, “Kami siap membangun bangsa, Aku yang akan memulai.”

-------
Afta.

historis

"ketragisan dari historis bukan dijadikan keruncingan yang fundumental membocorkan balon kesatuan umat manusia dalam nusantara." -Afrilia

Af's Quote

Orang boleh bebas dalam dunia imajinasinya dan menghidupi apa yang lama dimimpikannya. Dari mimpi ke perubahan berarti. Dari prosesi yang dapat dipelajari dapat menumbuhkan jiwa-jiwa yang lebih bijak menghargai nilai dan penemuan dalam sekali hidupnya.

Einsten's Quote

"Jika A adalah kesuksesan dalam hidup, maka A=x+y+z
Bekerja adalah x, bermain adalah y dan z adalah menjaga mulutmu untuk diam."

Buya Hamka's Quote

"Jangan takut jatuh karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan baru dan cari jalan yang benar pada langkah yang kedua."

Agus Salim's Quote

"Een leidersweg is een lijdensweg. Leiden is lijden.

[Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah menderita.]”

Niccolo M's Quote

"Ada tiga kelas dari intelektualitas: satu yang memahami sesuatu dengan sendirinya, lainnya adalah yang menghargai apa yang lain pahami, dan ketiga yang tidak memahami dengan sedirinya juga tidak oleh orang lain. Yang pertama paling baik, kedua baik, dan ketiga tidak berguna."