DRAF-DRAF BUANGAN
Kepada Soe Hok Gie
Semua yang kita tebar pelan-pelan di bawah payung biru ini, Gie.
Seperti nafas yang membentuk wujudnya, dan ia membentukmu dalam sarang ini.
Jauh, sebelum itu Gie. Yang kita miliki dalam lahan bahasa adalah udara yang
punya desir tepi pantai. Aku buat tanah berwarna biru, seperti halte tempat
kita menunggu, tempat untuk saling temu. Lahan begitu terjal, seperti gunung
yang memeluk daratan untuk melepas ke puncak diketinggian.
Gie telapak ini mulai membeku, lama aku mengulurnya di dalam
saku. Siapa yang mengetahuinya? Bukan manusia biasa. Siapa yang melihat, kalau
hati mulai kehilangan detaknya? Di sini, saat musim tak lagi bisa
diprediksikan. Dan gunung-gunung melahirkan getarannya. Dan, kita yang makin
ditipiskan dimensi. Pelan-pelan kenyataan menjadi semakin membisu, seperti apa
yang dituliskan selama ini. Catatan-catatan yang lumpuh pada anak lantai
berwarna darah, dari luka penulisnya.
Malam punya geliat matanya, bulan purnama di gantung bulat
sempurna. Di iringi tangga Bach, yang berusaha mencuri bulan, mirip sebutir
biji durian. Gie, bagaimana jika kematian mengulur harinya. Sementara hari-hari
ditahan karena banyaknya pencurian, pencabulan, dan penipuan. Aku muak bicara
soal politik di negeri ini, Gie. Kita menolak, tapi begitulah jiwa yang memberontak
dapat terus hidup untuk tinta mesin ketiknya.
Kini di
daratan Bandung dan kabar-kabar dalam negeri. Kita menyaksikan adegan-adegan
kekerasan intelektual dan kediktatoran teknologis atas alam semesta (cosmos)
maupun alam kemanusiaan (humanitas).
kemiskinan
bukan disebabkan pada faktor geografis, tetapi merupakan struktur ekspoitasi
dan perilaku koruptif yang membentuk semacam sikap pasrah terhadap kemiskinan
yang tak pernah tertangani. Tangan yang digunakan bukan dari tangan yang
berpikir dengan tangan kotor dan berpeluh keringat. Kelemahan mulanya diawali
fokus pola pembangunan yang bersifat intervensi fisik, bukan pemberdayaan
(human centered development) kalau kata Clifford Geertz.
Setelah kabar mengenai
miskinnya pribumi kelas bawah, berita Tvone berganti pada kiblat politik yang
membelah dada ideologi sebuah cawan konstitusi republik ini. Gie, seberapa
pentingkah mobil baru fasilitas baru untuk sebuah kabinet yang baru? Semurah-murahnya
pasang tender tiap unit. tetap saja anggaran digulirkan untuk jamaahnya. Jika saja
dialokasikan ke yang lain. Misal beasiswa student
exchange lebih luas dan lebih berjamaah lagi.
Daripada
menyewa banyak manusia asing untuk meningkatkan indeks ekonomi dengan investasi
terbuka atau membuka sayembara barang siapa yang siap menjadi president
indonesia dengan syarat dari negara maju dan menandatangani MOU (president
exchange). Malu wajah ini. Bedahal jika anak-anak generasi
penerusnya, sebanyak-banyaknya di sekolahkan belajar pengalaman di negara maju.
Kemudian kembali menerapkan nilai-nilai kemajuan ke dalam negaranya yang
berjuang dengan perkembangannya ini. Gie, kemanakan kamus pendidikan dalam
negeri kita ini?
Sekarang
mahasiswa harus berjuang. Pertama, gelisah dengan kondisi lingkungan dan
perkembangan yang terjadi. Kedua, sejauh mana idealisme tak sampai
terpancung dalam suatu regulasi sistem di mana ia ditempatkan.
Dan ketiga, ditampar prahara mengenai nominal-nominal yang harus tergadaikan hanya agar bisa bertahan masuk kelas dengan dosen-dosen yang bicara pada angin dan terus mengancam.
Dan ketiga, ditampar prahara mengenai nominal-nominal yang harus tergadaikan hanya agar bisa bertahan masuk kelas dengan dosen-dosen yang bicara pada angin dan terus mengancam.
Kau itu
lembut. Perlahan mengecupku. Demensi menjadi batas yang bias. Bersabarlah,
katamu. Biar para pemancing liar bosan dengan kailnya. Biar ikan melahap
umpannya. Minipunya dengan buih racun-racun industry purnakapitalism.
Dalam kehatian hati ini, rasanya sukar menghadapi
mana yang hati inginkan. Pikiran yang berselisih mengeyampingkan hatinya. Hati
yang teriris memadamkan logikanya. Apa yang benar-benar Tuhan usulkan dalam
cara kita mengurbankan ujian, sampai syurga membuka pintunya dan raga tinggal
di bumi, membusuk. Tinggal fosil, sedikit kenangan diabadikan dalam
Museum-museum yang mulai kehilangan perhatiannya, dari sisi hidup ini. Di dalam
draf-draf buangan. ***

0 komentar:
Posting Komentar