Oleh Djazlam Zainal, Kritikus Sastra Malaysia
Memang tidak dinafikan, setiap zaman akan muncul manusia genius dalam bidangnya. Begitu juga dalam bidang sastra di mana negara atau ras-ras tertentu di pojok dunia mana pun. Apabila suatu ketika Indonesia dianugerahi Chairil Anwar, Amir Hamzah, W.S. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono dan lain-lain, maka akan tiba masanya, waktu itu dirombak dan diperbarui dengan kehadiran muka-muka baru dengan pengucapan yang bersesuaian dengan masa dan ketika. Ketika saya menatapi Halte Biru karya Afrilia Utami ( Penerbit Silalatu, 2014. 79 halaman ) saya merasakan bahwa saat sudah tiba bagi Indonesia menerima kehadiran yang baru ini.
Tentu pendapat ini bukan milik saya seorang karena terdahulu telah mula diperkatakan oleh para kawakan puisi di Indonesia sendiri. Acep Zamzam Noor misalnya mengatakan, Afrilia Utami masih sangat muda, namun keakrabannya dengan bahasa, khususnya bahasa puisi, sepertinya sudah berlangsung lama. Jika pun ada hal-hal yang harus diperhatikan secara khusus, menurut saya terutama dalam hal menimbang serta menakar kata-kata agar puisinya ridak kelebihan gula atau kekurangan garam.
Saya rasa Acep juga merasakan akan kehadiran Afrilia. Tugasnya kini bukan untuk menunjuk, cuma harus memperhalusi dan mengarah jalan temaram. Inilah tugas para seniman kawakan terhadap Afrilia kini. Tidak hanya memuji setinggi langit tanpa memberi petunjuk jalan berliku di hadapan Afrilia. Ini karena menurut Ashmansyah Timutiah, Afrilia masih muda belia. Orang yang tidak mengenal siapa Afrilia, mungkin tidak akan membayangkan bahwa pada usianya di bawah 17 tahun ( Afrilia lahir tanggal 3 April ) ia akan menulis tentan soal-soal sosial, politik, ekonomi, budaya dan hal-hal besar lainnya. Saya melihat kebenaran ucapan ini karena saya mula memadankan beberapa puisi dengan transkripsi yang ditulis oleh Afrilia di halaman belakang buku ini. Tulisnya,Alhamdullillahirabbil allaamiin, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam, atas segala nikmat yang diberikan terutama nikmat iman dan Islam serta bahasa yang menghidupkan sisi indah dunia. Selanjutnya, shalawat serta salam untuk Rasulullullah, Nabi Muhammad SAW, sang revolusioner terbesar dalam sejarah kamus umat manusia yang menyalakan iman di hati umatnya dari zaman kejahilan menuju keberkahan. Serta para nabi, khalifah, sahabatnya, serta umatnya sampai dengan laju waktu saat ini.
Sudah tentu bagi pendapat saya, kata-kata ini bukan dipliket dari kata-kata Kang Abik @ Habbiburrahman El-Shirazy penulis novel No. 1 Indonesia yan g menghasilkan Ayat-Ayat Cinta, Bumi Cinta atau yang mutakhirnya, Api Tauhid. Kang Abik tentu bermotivasi begitu karena beliau lulusan Universitas Cairo dalam pendidikan Islam yang muncrat. Ini Afrilia, anak yang baru melepasi kedudukan SMP. Introvetnya begitu mengasyikkan. Melalui keluarganya, Afrilia membayangkan demikian. Terima kasih untuk orang tua saya yang memberikan cinta dan menjaga saya dengan penuh kasih, perjuangan, dan dukungan. Ibunda Rani Ramdani, wanita terbaik yang mengajari saya tentang cinta sekaligus ketegaran serta ketangguhan dalam meneguhkan hati, tujuan, dan iman. Ayahanda Ois Kusmayadi yang mengajari saya menjadi pribadi yang bermanfaat dan pantang menyerah memperjuangkan hak-hak serta kewajiban desain hidup. Penjelasan ini bermakna kepada kita bahwa Afrilia telah diasuh untuk menjadi manusia besar apa awal kehidupan remajanya.
Menyentuh tentang keakrabannya dengan sastra, Afrilia menjelaskankan bahwa perjalanan menulis sastra diawali di bangku SMP berkat semangat Pak Tomi yang banyak merubah sikap yang awalnya sangat mengintimidasi dirinya sendiri. Kemudian, beliau mulai berkiprah di dunia jurnalis kampus dan masuk ke dunia maya facebook, tempat awal bagi Afrilia memostingkan coretan-coretan. Sekitar tahun 2011, saya mengenal sosok Gu JSTH @ Hudan Hidayat yang memberi banyak dekapan apresiasi sekaligus inspirasi semangat untuk terus menulis.
Afrilia telah menunjukkan kepada kita, jalannya beliau berada di tahab yang ada sekarang. Bukan omong kosong dengan kemahiran yang datang tiba-tiba kurnia Allah Taala melainkan dengan pelbagai didikan dan bimbingan keluarga. Setelah berada di samudera luas sastra Indonesia dan merembeskan ke dunia-dunia berbahasa Melayu seluruhnya, maka Afrilia kini menjadi tanggungjwab kita semua para pendokong susastra untuk menghalakan ke jalan yang lebih bermakna. Kita sama-sama menjaga bunga yang sedang berkembang mekar dalam kesusasteraan kita ini.
Halte Biru mengandungi 59 buah puisi. Pengucapan puisinya agak pelbagai. Mulai denganweltanchooung dirinya, Afrilia merembes hingga ke filosofi negara dan kesusasteraan. Lihat puisi Rumput Kertas ( hal. 2 ) ini sebagai menukik kedirian kepenyairan Afrilia.
sekali aku ingin jadi rumput
merentangkan embun yang digeluti musim
berusaha tumbuh sendiri tanpa pupuk
melukiskan warna hijau pada tanah hitam
ikan ikan kertas memenuhi tubuhnya
menggeletakkan kata kata di atas katedral
yang memenuhi lapaknya dengan guntur
dari mulut buaya yang suka bicara ideologi
aku sering mereguk lepas kesunyian yang begitu mahir
dipuja orang-orang sana-sini dengan lidah terjulur
sambil patah-patah menyusun bait bait proklamasi
yang hilang dari apriori, yang hilang dari nafasnya -
bangsa ini berpuluh tahun mengekang tangan setan
tapi kakinya sering dipinjam untuk studi banding, -
ke lautan yang menenggelamkan martabatnya.
ya, rumput yang tumbuh di atas ikan kertas
aku ingin duduk menempati satu kursi kertas
membiarkan rumput rumput tumbuh
sebagaimana kertas yang sepi adanya.
seperti kita
Lihatlah bagaimana Afrilia ingin memindahkan dirinya untuk menjadi rumput. Mempersonifikasikan dirinya sebagai rumput tentu membijaksanakan tanggapan serta informasinya dengan alam sekitar. Berpikiran seperti rumput tentu bisa melepaskan diri ke dasar pemikiran objektif misalnya apabila Afrilia mengungkapkan rangkap berikut:
ya, rumput yang tumbuh di atas ikan kertas
aku ingin duduk menempati satu kursi kertas
membiarkan rumput rumput tumbuh
sebagaimana kertas yang sepi adanya.
seperti kita
Seperti kita? Siapa yang dimaksudkan ' kita ' oleh Afrilia? Afrilia telah mengadaptasi kedirian penyair menjadi rumput dan bersahabat dengan ikan kertas. Karena personifikasiannya melintang dan melelang, rumput pun bersahabat dengan ikan kertas..
Namun terdapat juga puisi yang ditujukan kepada dirinya sendiri. Dalam puisi Afrilia ( hal. 29 ) beliau menulis;
afrilia, musim dingin ini terasa lebih karib
hujan-hujan kelabu ditambah bau rum
di lapisan daging terluar
matahari tua yang memanjat ke sejadahku
limbung berputar lalu berkutat pada serat ayat
ke kota-kota sepi aku mengemudikannya seorang
di antara lail-lail munfarid, kusebut engkau berulang
suara hijau musim dingin bertalu-talu di pekarangan
deras calon anak kita kehujanan lama pada kuyup yang suci
perahu yang datang, membelah jarak kau dan aku
mengajak kita membungkus daratan ke dalam usus muara
kau satu, aku satu, dua yang satu
darahmu, darahku, sengalir dalam cinta
semisal kau yang kini pergi dalam hening abadi
aku akan berpura hidup di lenganmu yang sunyi
sebelum legam itu terbelah lebih banyak bercabang
satu waktu kulihat
utopia-utopia yang sering bermunculan sebelum wajahmu
Puisi kepada diri sendiri sering kita dapati oleh penyair-penyair besar yang lepas. Dampak yang paling hebat puisi untuk dirinya ialah sajak ' Aku ' oleh Chairil Anwar..
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Kenapa penyair sering berpesan kepada dirinya sendiri. Apakah untuk memberitahu audien siapa dirinya yang sebenar? Barangkali penyair memerlukan kekuatan yang membolehkan staminanya terus berkembang. Begitu juga dengan Afrilia, aku masih dalam lempengan yang ditutupi oleh kekuatanmu.
Selain memasuki dirinya sendiri, Afrilia kelihatan memasuki lipatan tokoh lain. Dua tokoh yang ikut diserimpungi ialah Gie ( Sok Hok Gie ) dan Pram ( Pramoedya Ananta Toer ) Dalam kedua-dua sajaknya mengenai tokoh ini, Afrilia menulis;
sudah banyak yang mengajak menonton film ainun-habibie. tapi
aku hanya ingin denganmu, gie. meski kamu suka pura-pura tidak
suka melihat cerita norang-orang jatuh cinta. tapi bagaimana jika
pada akhirnya aku benar-benar jadi perempuan itu. orang yang
pernah kamu cintai?
aku sudah latang lagi ke bumi, dalam bentuk manusia lainm gie
kamu di mana? dalam bentuk apa? kemudian kita saling duduk di
atas kerusi kayu yang memanjang, memikirkan bagaimana nasib
negara kita ini. wajahmu selalu tegap, aku tidak pernah sampai
dapat menyentuh sisi yang kausembunyikan secara rapih
aku akan berlari, gie, jika benar aku perempuan yang sering kau
lirimkan tulisan mengenai kritikan. pada order-order lampau yang
sering jadi setumpuk dongeng dalam kertas formalistas. aku akan
memelukmu erat-erat jika aku jadi laki-laki kala oitu. tapi itu terlalu
banci, sebutmu. baiklah, aku akan memukul dadamu dengan amat
keras, sampai kau menyadari dadamu telah sakit. lalu kau akan
mengingat, dadamu pernahsakit karena pukulan dariku.
gie, semua orang di sini masih mengingat tentangmu.
( Kertas Lipat Tuk Gie, hal. 43 )
Gie adalah tokoh etnis Cina yang dituduh komunis ketika pasca-Soekarno dulu. Ketika scenario Gie ditata oleh Riri Riza ke dalam flim, ia disinopsiskan seperti ini;
Soe Hok Gie grew up in a lower-middle class Chinese Indonesian family in Jakarta. In his early teens, young Gie had developed a fascination in concepts and idealisms advocated by world class intellectuals. Combined with a fighter's passion, faithfulness to friends, and a heart filled with genuine care for others and for his country, young Gie grew to become intolerant with injustice, and dreamt of an Indonesia that is truly founded on justice, equality, and righteousness. This passion was frequently misunderstood by others. Even Soe's best friends, Tan Tjin Han and Herman Lantang posed the question "What is all this fighting for?" which Soe would calmly respond with his awareness that freedom has a price tag that must be paid. Soe's motto, as written on the movie poster, is translated as "It is better to be singled out than to surrender to hypocrisy".
Soe's teen and college years was spent under the regime of Indonesia's founding fatherSukarno, which was characterised with conflict between the military and the Indonesian Communist Party (PKI). Soe and his friends insisted that they were politically neutral; and as much as Soe has respect for Sukarno as Indonesia's founding father, Soe detested Sukarno's dictatorship which caused the poor and the oppressed to suffer. Soe was well aware of the social inequality, power abuse, and corruption under the government of Sukarno, and courageously spoke out against it in discussion groups, student unions, and wrote sharp criticisms in the media. Soe also abhorred the fact that too many students appeared to others as advocates of positive change, who in fact were just taking advantage of the political situation to make personal gain. This attracted much sympathy as well as opposition. Many interest groups sought Soe to support their campaigns, while many enemies of Soe jump at any opportunity to intimidate him.
Tan, Soe's childhood friend, had always deeply admired Soe's prudence and courage but lacked that fighter's spirit himself. In their twenties, the boys were reunited again for a short time. Soe finds out that Tan had become seduced and deeply involved with the PKI but was ignorant as to what this implied or what consequences awaited. Soe urges Tan to relinquish his ties with the PKI and hide out, but Tan did not listen.
Soe and his friends spend their leisure time hiking and enjoy nature with the Nature-Loving Students of the University of Indonesia (Mapala UI). Other things they enjoyed doing included watching and analysing movies, attending traditional Indonesian performing arts, and hanging out at parties.
Peristiwa inilah yang diangkat oleh Afrilia ke dalam puisinya yang juga dikaitkan dengan film Ainun-Habibie.
Dalam sajaknya Kertas Lipat Tuk Pram ( hal. 44 ) Afrilia menulis;
hanya saja kamu memang mudah membuas di udara, lalu tak
pernah sempatkan waktu untuk mengunjungiku. padahal waktu ke
waktu masih begitu dan begini; mengajarkan pengirbanan dan
ketegaran. kita hanyalah sepasang yang tidak pernah disatukan
oleh garis. ya, aku terhempas oleh angin harau, yang menjadikan
luruh lagi
aku dan kamu suka menulis sebaris diam yang mengelebatkan
ujung-ujung senyap, membuatnya makin menajam, ya, aku dan
kamu sepasang kekasih, pram. yang dipisahkan oleh dimensi. katamu
kau terlalu tua untuk sampai menemuiku di masa globalisasi ini
mengenai bumi manusia. sebab kita pura-pura menanam pikiran
dalam kalimat-kalimat ganjil yang semua orang dapat
membacanya. menafsirkannya dalam catatan yang dibedakan
antara tersirat dan tersurat
ya, akhir desember ini. tahun cepat hangus. kian ganti diganti.
yang kita inginkan apa, pram? apa? yang kita saut dengan
pemetik api yang nyala-nyala di genggamku yang makin cacat.
aku takut, tak dapat memenuhu janjiku, pram. mengenai buku-
buku. mengenai kerinduanku pada buku-buku tua, yang dulu
orang-orang berkeringat mati membuatnya. seperti bukumu,
pram. sebagian ada jadi kontroversi hingga dilarang edar. dilarang
menuju pasar. dulu, aku diajak ke pasat induk oleh nenek. ternyata
pasar bau, karena seluruh aroma berkumpul di sana. termasuk
aroma perjuangan hidup. kita hanya bermodal iman untuk
mencapai dua tempat yang kontras itu. surga dan neraka.
mana yang lebih baik untuk bumi ini pada akhirnya?
Dalam dua sajak ini, Afrilia mengajak pembaca kembali ke dunia pasca-Soekarno di mana kedua tokoh ini pernah hidup dan dilanyak dengan jentera yang dinamakan politisi. Begitu berharga sekali bagi Afrilia merogoh ketenangan itu. Berbalam-balam sejarah kelabu. Demikian, contoh demi contoh, misal demi misal, Afrilia mencapai segenap persoalan kehidupan. Dari yang berbentuk kerohanian, persejarahan, misalan dan sebagainya, Afrilia cuba mendifinisikannya ke dalam puisinya. Bukan persoalan besar yang menjadi kekaguman pembaca, tetapi kepetahan Afrilia memilih sesusuk bahasa untuk menjadikan persoalan yang dikemukakan menjadi indah dan besar secara tidak sengaja. Saya merasa karena keprihatinan Afrilia memilih kata-kata yang agak luarbiasa kedengaran dan indah kedengarannya. Ini juga yang pernah dikagumi terhadap Chairil Anwar. Pemilihan kata-katanya menyebabkan Chairil terlempar dari kumpulannya.
Membaca keindahan puisi, saya terlupa akan kebobrokan zaman yang serba luka ini. Apakah puisi masih dapat dipercayai sebagai pengobat luka sejarah? Sebagian penyair dari kaum Romantik percaya bahwa banyak jalan menuju kebahagiaan ilahiah, dan salah satu jalan yang dapat mereka tempuh adalah puisi. Suatu kepercayaan yang bagi para penyair pascaromantik di masa lalu dan para penyair pascamodern di masa kini cuma bernilai sebagai menu tambahan dalam daftar bahan lelucon belaka. Puisi Afrilia membuat saya lupa kesengsaraan dunia buat sementara. Kemudian, globalisasi dengan tangan-tangan raksasanya akan melindas kembali segala jatah kemanisan dan keindahan hidup manusia. Hanya puisi kemudiannya akan melupakan kesengsaraan buat seketika.. terutama puisi-puisi yang bernuasa indah seperti puisi Afrilia ini..

0 komentar:
Posting Komentar