Sabar ada dua bentuk: bersabar untuk Allah dengan menjalankan apa yang Dia cintai walaupun berat bagi jiwa dan badan. Dan bersabar untuk Allah dari segala yang Dia benci walaupun keinginan nafsu menentangnya. (Abdurrahman bin Zaid bin Aslam)
(27/05) Ribuan peserta SNMPTN telah mendapatkan pengumuman kelulusan dalam jalur SNMPTN. Ada yang menangis karena bahagia luar biasa, setelah perjuangannya mendapat kelancaran. Ada pula yang menangis karena kesedihan dari apa yang ditargetkannya tidak sesuai berjalan dengan apa yang ia rencanakan.
Dari 777.536 siswa yang mendaftar SNMPTN 2014, sebanyak 125.406 di antaranya lulus seleksi. Angka ini setara dengan 16,13 persen total pendaftar.
Banyak para peserta yang diprediksikan mendapat peluang besar karena kemampuan baik akademik, maupun prestasi non-akademik, dan kepribadian di sekolahnya akan tetapi, mereka tidak lolos dalam seleksi. Sedangkan, teman seangkatan yang mulanya diprediksikan mendapat peluang kecil ternyata mampu menembus jalur undangan ini. Namun, begitulah sistem undian dalam jalur seleksi ini.
Siang ini, setelah cuaca di Tasikmalaya hujan-reda-hujan-reda. Saya menunggu pengumuman SNMPTN, inilah yang amat saya tunggui selama ini semasa liburan pasca-UN. Mulanya saya merasa begitu sombong karena kedua orangtua saya selalu memberikan pilihan. Jika diambil saya harus melupakan SNMPTN UI, maka, point 1-3 alhamdulillah lulus, tapi terpaksa tidak saya ambil. Untuk point 4 terbaru, Alhamdulillah Allah memberikan saya ujian untuk mempraktekkan pelajaran ikhlas.
1) 10 Desember 2013 : Lulus Telkom, S1 Internasional ICT Bussinees.
2) 25 Maret 2014 : Lulus Universitas Muhammadiah Yogyakarta, Hubungan Internasional.
3) 23 Mei 2014 : Lulus Penyaringan Bibit Unggul Prestasi UGM, Ekonomi-Menejemen.
4) 27 Mei 2014 : Tidak lulus SNMPTN UI, Hubungan-Internasional.
Ada kesedihan tersendiri memang, saya akui. Mulanya detik-detik pengumuman. Tidak ada ketegangan yang berlebihan. Setelah sholat duhur, saya berdoa.
"Yaa Robb, inilah detik-detik penantianku. Jika SNMPTN ini lulus, aku sangat mensyukurinya. Jadikanlah UI terbaik untukku. Jikapun tidak. Tolong tabahkanlah bathin dan jiwaku, berarti terbaik bagi-Mu bukan menjadi bagian pilihanku tapi sama akan menuntunku menjadi hamba-Mu yang terbaik. Insya Allah. tolong kuatkanlah aku menerima bagian dari takdir-Mu. Aamiin."
Beberapa menit kemudian, pelan-pelan saya membuka pengumuman SNMPTN. Alhamdulillah, Allah merencanakan skenario indah untuk saya, bukan pada waktu ini. Saya sadar, saya sudah amat nekat menyimpang dari rumpun jurusan IPA ke IPS, kemudian memilih jalur tertinggi pula di IPS dengan PTN yang ditakuti oleh siswi yang tidak senekat saya. Namun, saya selalu mengikuti apa yang hati saya inginkan. Saya mengesampingkan resiko besar tersebut, terus memupuk harapan optimis di dalamnya.
Terbukalah hasil yang menyatakan, bahwa saya tidak lulus jalus SNMPTN. Sakit hati? Membenci UI? Geram dengan sistem pendidikan Indonesia? Kecewa? Ada sedikit, manusiawi saya kira. Akan tetapi, saya memusatkan pada sisi pelajaran 'ikhlas', tidak mendominasikan seluruh kekesalan saya selama ini pada perlakuan negatif yang akan semakin membuat orang tua saya justru merasa sedih dan kecewa.
Saya tidak pernah menyesali apa yang telah saya pilih. Mungkin, ini adalah cara Allah untuk lebih mendewasakan saya. Maka, saya amat bersyukur. Meski dalam hati kecil masih ada sisi kekecewaan, ada kalanya kita merasakan 'kepahitan' dan 'kegagalan' karena hidup bukan masalah pencapaian akan kesempurnaan. Tapi seberapa kita mampu bangun dalam tiap kejatuhannya.
Orang tua saya terus menyemangati saya. Sebenarnya hal ini yang membuat saya akhirnya bisa pula mencicipi air mata. Melihat wajah mereka, memberitahukan bahwa anaknya tidak berada di jalur rel kereta api. Toh, Masih banyak jalan menuju Roma, begitu pepatah yang paling sering kita dengar. Selama ini, keluarga, guru-guru, sahabat terdekat, dan orang-orang yang mengenal dekat sejauh ini. Kerap menyemangi, menyanjung, terus memberikan ucapan positifnya. Sejak kecil, saya terbiasa mendapatkan apa yang saya inginkan. Apapun. Semakin waktu bertambah, ia pula mendewasakan saya. Saya mulai menyadari, Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan.
Jika saya diizinkan bercerita sedikit. Saya masih ingat betul. Pak Tomi adalah guru SMP yang amat merubah saya menjadi sosok siswi yang lebih 'berani', Pak Nicho, panggilan yang beliau senangi. Dari remaja yang amat tertutup dan penuh kemuraman di wajahnya, bertransformasi menjadi remaja yang menggauli banyak tantangan. Sejak SMP saya sudah terjun keberbagai organisatoris, kemudian menjabat sebagai pimpimpinan redaksi di SMPN 2 Kota Tasikmalaya dan SMA Al Muttaqin, memberikan saya pelajaran yang memajukan langkah saya sejauh ini.
Alhamdulillah, Awal masuk SMA, kelas 10 saya sudah didelegasikan sebagai duta lingkungan ke Universitas Indonesia pada saat lauching program sekolah cerdas lingkungan. Kelas 11 menjadi delegasi dari Jawa Barat untuk Parlemen Remaja 2012, saya merasakan menjadi legislatif secara langsung. Menyusun perancangan Undang-undang Kemiskinan. Kemudian mendapat penghargaan dan naik ke podium IPB karena jawaban terbaik. Kelas 12, kembali saya lolos menjadi delegasi Duta Perdamaian Askobi (Korban Bom Bali) dan PeaceGeneration, dilanjutkan dengan terseleksinya FOR (Forum Pelajar Nasional) 5.
Dalam masa tempaan ini, saya jarang merasai kegagal. Yang ada penekanan terhadap diri sendiri. Perfeksionitas. Seolah kecewa apabila dalam tiap perlombaan saya tidak mendapatkan peringkat tertinggi, padahal selalu masuk dalam tiga besar, alhamdulillah beberapa ikut memegangi juara umum. Sikap tersebut, saya kurangi pelan-pelan. Selain merugikan diri sendiri, pada akhirnya kesyukuran sudah lebih dari cukup untuk menerima apa yang kita raih atau dapatkan dalam perjuangan hidup.
Semua pengalaman hidup ini menempa saya dengan luar biasanya. Saya sudah lebih jauh mengenali keragaman antar suku, ras, budaya, ide-ide, dan agama, dari anak bangsanya yang terpilih. Nilai-nilai terbesar dalam pengalaman harus mampu menjadikan pondasi saya lebih kuat lagi. Nilai-nilai dalam bentuk angka, akan terhapus begitu saja. Tapi nilai-nilai dalam bentuk kemampuan dan terpatri dalam tindakan sehari-hari memberikan kita jalan yang menuntun ke masa yang terbaik.
Sebaiknya sebagai seorang muslim, apapun yang kita hadapi selalu berada dalam doa. Peraihan hidup terbaik bukan terletak pada lolosnya SNMPTN, masuk ke perguruan tinggi anu. Ada yang lebih penting, yakni memenuhi sendi-sendi usia kita dengan doa dan kemampuan agar kita lebih bisa bermanfaat bagi kehidupan. Saya mengetikkan ini,
Untuk para sahabatku yang baik, menangis boleh, bersedih boleh, namun sejenaklah. Sebab kita harus membuat telapak tangan dan bersiap meraih cahaya-cahaya kehidupan di tangan kita. Percayalah bahwa skenario Allah selalu indah pada waktunya. Inilah proses pendewasaan baik sebagai hamba, maupun manusia.
0 komentar:
Posting Komentar