Waktu termagis satu di antaranya adalah ketika kita mengetahui bahwa kita pernah menjadi kecil dalam rahim ibu kemudian bertambah besar mulai meninggalkan pangkuan ibu, ayah, nenek, kakek, dan mainan favorit kita. Tiba-tiba kita dihadapkan oleh suatu pilihan-pilihan yang memaksa atau bahkan yang kadang kita tidak menyadari telah sampai sejauh ini, membiarkan pilihan kita menjauh dari akarnya.
Pernahkah kita merasakan kerinduan ke masa lalu? Saat tiba-tiba kita sudah menjadi bagian keluarga baru dengan anak-anak yang memanggil ayah, ibu, mama, papa, dsb. Oh, luar biasanya Tuhan seperti menyihir waktu! Kita beranjak pergi dari rumah, membuat rumah yang baru, dan meninggalkan ayah dan ibu. Tapi begitulah kita didesain dalam sekali hidup ini. Semua tumbuh dan berkembang. Begitupun dengan cinta. Selama apapun kedewasaan cinta dalam diri seseorang, ia akan terus berkembang.
Namun, ada yang sering tanpa disadari kita telah mengorban ikatan cinta itu sendiri. Kita merangkak dari kehidupan, menyibukkan dengan berbagai persoalan, membuktikan diri sebagai pribadi penuh potensi yang dipandang dengan sejuta prestasi dan keahlian. Tapi diam-diam, waktu kita untuk keluarga tergerus. Bahkan, interaksi dengan keluarga sendiri tidak lebih dari sekedar tegur sapa, orang yang telah lama tidak bertemu.
Banyak orang lebih memokuskan mengharumkan dirinya di luar, akan tetapi hubungan dengan keluarganya dibiarkan terlantar. Ia cuma bisa berspekulasi, membuat teori-teori yang mengejutkan pembacanya, dan narsis sendiri dalam dunianya. Apa kita pernah seperti itu?
Cinta terbaik dan utama ada pada keluarga, apabila kita menghilangkan status utama maka cinta terbaik itu akan cedera dengan perlahan. Kemudian apa yang terjadi setelah itu? Pembentukkan individu dalam keluarga akan menjadi sangat prematur memilah nilai-nilai kasih sayang dan nilai kehidupan yang penting didapatkan semua anak.
Globalisasi dan penekanan akan pemenuhan ekonomi dan kebutuhan memaksa semuanya berkerja keras dan terus berinovasi dalam kompetesi. Tapi banyak darinya yang lupa, kodrat lainnya. Seolah sekarang adalah waktu kita berternak sebanyak-banyaknya dalam kandang yang cuma disediai jerami dan air dengan suntikkan dari pemiliknya. Sedang, kita bekerja sekaligus memerangkapkan diri sendiri. Cepat atau lambat, kehampaan akan terasa. Semakin hampa hidup, apabila orang-orang yang kita kasihi memerangi kita secara dingin.
Maka dari itulah, mengharumkan diri di luar memang baik. Akan tetapi, jangan lupa untuk mengharumkan diri dari dalam juga bersama keluarga yang memberi kita energi tak terbatas. Timbulah keharuman luar biasa dalam kehidupan yang kemudian dapat menjadi sumber keharuman untuk sekitarnya.
---------
Afta.
0 komentar:
Posting Komentar