Bulan yang divonis dalam kesendiriannya berkeping-keping jatuh ke lantai mata yang memintai dalam diam serta bisunya. Tak apa jika ia mulai menjelma seperti mata dewa dari yang kehilangan peringai yang didamba dalam harapannya. Seorang ayah dilema dalam masa dari masa, masuk ke luar dimensi ke dimensi. Dipisahkan oleh kehendak, mengetahui anak-anaknya kini menyambung takdir sebagai mata rantai dari langit yang cuma bisa diam-diam ia rindukan dikejauhan.
Bulan merah saga yang merindukan mata kekasihnya, telah lama menanti ia tiba menikahi ketulian langit dari segenap kelakar kesenyapannya. Apa yang akan ia lakukan, Sayangku? Tak ada satu pun yang tahu. Bahkan jin dan makhluk asral serupa peri hilang tiba-tiba menjatuhkan kesinisan dari keinginannya.
Bulanku yang maha pencemburu, dikejatuhan hati yang manusia dapatkan. Apa selebihnya dari dahsyatnya ketegaran dari bahan bakar penderitaannya. Seperti Sysipus pada saat camus memeluk kesedihan terdalam dari sebatang hidupnya. Apa selebihnya, Manisku? Di sini pohon-pohon telah menggugurkan rantingnya.
Punduk bulan yang merindukan ayah dan ibu yang mungkin tak pernah diketahui kapan tiba, kapan memangku, menimang seperti yang sering manusia tuturkan dalam pengakuan fiksinya. Bulanku, aku menepi ingin menyentuhmu. Ambilkan bulanku, isi dari lagu anak-anak yang kehilangan lilin putihnya.
----------------------
Diketik pada tanggal 16 Mei 2014 | 20.44
Pada saat penulis mematangkan merah pada sebutir bulannya.

0 komentar:
Posting Komentar