Siul awan di langit merekah
seperti kembang kintani
Abu ke bungur, lalu menitih putih ke mata-
yang ditampun cita dan cinta, duka-suka kecil jalan.
Engkau itu guruku...
Engkau itu sahabat baikku…
Akhir Juli yang indah di tahun 2011, kami
dipertemukan dari berbagai latar belakang dan perbedaan, melebur satu sebagai
kesatuan insan yang memiliki visi menjadi muslim yang memiliki kualitas masa
depan yang gemilang. Masa Orientasi Pendidikan Peserta Didik (MOPD) menjadi
awal bersatunya satu keluarga insan SMA Almuttaqin. Mulai menyusun bait-bait
kenangan, suka duka kami arungi bersama selama tiga tahun.
Awal kami mengenali tahun pertama sebagai siswa SMA
Almuttaqin. Dari sebuah gedung dua lantai, tiap-tiap lorong berubin merah,
menaruh jejak kaki memulai cerita, bercanda dari kata ke tawa, bersua,
menangis, merenung, menemukan catatan cinta, mengumpulkan ilmu, mendirikan
prestasi, dan mengukir sejarah. Tak pernah kita menyangka, jika waktu enggan dapat
bertahan lebih lama lagi untuk menghadapi sebuah perpisahan. Tiba-tiba kita
naik kelas, naik ke tempat berbeda, naik ke udara yang berbeda, dengan
wajah-wajah yang baru menyalami perkenalan dan berujung pada perpisahan lagi.
Terdapat 149 pasang mata, di tahun pertama 2011
kami terbagi menjadi lima keluarga mungil. Masing-masing keluarga, kami beri
nama. Keluarga pertama, X1 - 1st Class. Keluarga kedua, X2 –
exTwonity. Keluarga ketiga, X3 - EXTR3ME . Keluarga keempat, X4 - EX4LTED. Dan keluarga terakhir kami, X5 –
Metaaal.
Tahun
pertama, kami saling mengenal satu dan lainnya. Kakak kelas kami mulai
mengenalkan organisasi. Sebagian dari kami mulai aktif membantu roda
pengorganisasian sekolah, OSIS FAST. Kami pun mulai berjalan ditangga prestasi,
baru di tahun pertama sebagian dari kami berhasil membuahkan tropi dan
mengangkat nama almamater, atas izin Allah. Kami sangat bahagia melihat
guru-guru tersenyum harum dengan hati yang melambai, “Semangat terus dalam
perjuanganmu, Nak!”.
Di Tahun
pertama dan kedua, kami melakukan wisata ilmiah ke bagian Timur Jawa kemudian
Barat. Sekolah memberikan kami semangat perguruan tinggi. Satu-satu PTN terbaik
pilihan kami datangi, disuguhi presentasi yang makin menggugah mimpi kami
terbangun untuk memasuki satu di antaranya. Usai wisata ilmiah, budaya sekolah
ini membiasakan anak didiknya untuk menuliskan makalah penelitian berbasis
riset sederharna, kemudian kami presentasikan. Di awal tahun pertama, kami
sudah dilatih untuk terbiasa melatih mental menjadi mahasiswa.
Waktu
memapah kami, kami beranjak melalui usia satu tahun menempa diri di sekolah
ini. Kenangan indah akan dibentuk dalam usia dua tahun selanjutnya. Kami pun
mendapati ruang dengan teman di samping yang baru. Ada beberapa wajah lama,
beberapa baru kami panggil, teman sekelas. Penjurusan di mulai. Tiga keluarga
mungil IPA; XI IPA 1 - Fervour Class, XI IPA 2 – Kaktus, XI IPA 3 - Spectre dan
dua keluarga mungil IPS; XI IPS 1 - El Clasico, XI IPS 2 – GOST.
Di usia ke
dua cerita putih abu. Pelajaran yang kami dapatkan mengenai pendewasaan,
guru-guru yang amat kami hormati dan sayangi menyadarkan amanah dalam sebuah
hidup yang kami miliki. Bahwa kelak, kami adalah generasi yang dapat
menyelamatkan banyak kehidupan di dalam sebutir bola dunia. Di tahun kedua
kami-lah yang diajari pula mengenai kepemimpinan dalam organisasi kegiatan
kesiswaan. Beragam ujian, petualangan, dan pengalaman selalu dibungkus dengan
keindahan pada akhirnya. Ya, selalu indah, seberat apapun proses yang ditempuh.
Pemilu OSIS kami hadapi bersama dengan sukacita dan optimisme kesatuan keluarga
insan Almuttaqin.
Sebagian
terpilih dari kami aktif mengikuti berbagai event di luar sekolah. Di
antaranya, Ikatan Pelajar OSIS Tasikmalaya dan Citizen Jurnalistik Pelajar. Di
tahun yang sama, perwakilan dari angkatan kami menjadi pelopor terbentuk OSIS
Jawa Barat dan delegasi Parlemen Remaja pertama yang dilaksanakan untuk tingkat
SMA/MA/ SMK dan hanya nama Sekolah kami yang mewakili dari Kota Tasikmalaya. Tidak kalah, beberapa bagian kami juga sukses
berprestasi di bidang perlombaan akademik. Trophy perlombaan bahasa, perlombaan
kesenian, Olimpiade Sains, hingga Olimpiade Olahraga berhasil kami sumbangkan
kepada pihak sekolah.
Hingga dipenghujung umur kami yang kedua tahun,
perwakilan kami mendapatkan kesempatan untuk menjadi delegasi Provinsi Jawa
Barat untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman bersama rekan-rekan calon
peneliti se-Indonesia dalam Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional. Jurnalistik di tahun ini berhasil melebarkan event dengan peserta melingkupi Jawa
Barat dengan testimoni peserta yang sangat apresiatif. Perwakilan kami aktif
melebarkan sayap ke forum-forum Nasional.
Akhirnya, kami beranjak pada umur kami yang semakin
tua. Tahun ketiga. Keluarga kami berganti anggota dan nama: XII IPA 1
– Poseidon, XII IPA 2 - Frankenstein La Spada, XII IPA 3 - ALLIANCE3, XII IPS 1 - Sonic Class, XII IPS 2
- Duster Class. Saat inilah
kami benar-benar mencari dan berusaha mendapat makna tentang kebersamaan,
solidaritas, cinta, kebagaiaan, pengorbanan, kekuatan, kesabaran, dan kejujuran
dengan iman.
Sedih jika dirasa menghadapi kenyataan bahwa kami
berharap tahun ini adalah tahun terakhir kami bersama di sekolah. bersua dengan
guru. Bermanja dengan senyuman yang ada. Harapan kami diikatkan pada cita-cita
yang tinggi. Namun untuk melanjutkan pelaksanaan dari harapan selalu memili
sebuah gerbang perpisahan. Itulah kehidupan dan kami belajar sejalan dengannya,
menuju proses menjadi muslim yang lebih bijadewaa.
Pada tahun ketiga inilah, Sahabatku. Kita
benar-benar merasakan indahnya kebersamaan. Amat sangat terasa ditik-detik
terakhir. Meski terkadang kami berbeda pandangan. Ada perselisihan. Adakalanya
saling terluka. Namun pada akhirnya, kita sebuah bangunan bernama keluarga,
bersama Insan Almuttaqin.
Tiga tahun bersama cukup bagi kami untuk mengenal
cinta. Kebersamaan yang indah mempesona jiwa yang bijaksana dan dewasa. Terima
kasih guruku tercinta, inilah anak-anakmu yang selalu ingin engkau dekapi
diam-diam. Berikan restu pada kami agar kami kuatlah kami melangkah dengan jiwa
yang lebih tegap.
Pupuklah terus Ukhwah di antara kita! Kita takkan
terpisah oleh jarak ataupun masa. Sedetik di mata, selamanya terpatri dalam
jilid kehidupan. Semoga Allah senantiasa meridhai dan merahmati kita, Sahabatku,
Guruku.. aamiin.
-------
Afta.

0 komentar:
Posting Komentar