Dalam kehidupan, kebahagian, kesedihan, luka, penyembuhan, kegembiraan ialah produk dari kehidupan. Seringkali, hati pilu sendiri mungkin karena menerima hal yang diluar keinginan kita, tidak nyaman dengan kenyataan yang terjadi, kehilangan, meninggalkan atau ditinggalkan orang-orang yang biasanya merekalah menjadi sumber kebahagiaan terdekat kita.
Kesedihan dapat mengakibatkan kita menangis, terdiam, murung, melamun, kehilangan semangat dalam kesadaran baru yang diakibatkan kesedihan berlebihan membuat diri menuding bahwa kehidupannya sudah tiada gunanya lagi. Bahkan lebih dalamnya lagi, dapat membuat seseorang menjadi Skifzofrenia. Oleh penderitaan yang disikapi berlebihan, hal tersebut malah menyimpang dari jalan yang menjelaskan bahwa tiap dari kita yang terlahir bertanggung jawab atas peranan lebih besar berbanding lurus dengan besar usia yang terus bertumbuh.
Oleh karena itu, kesedihan boleh bertandang karena kita sebagai ciptaan terlengkap. Namun, jangan sampai kesedihan membunuh potensi luar biasa dari diri kita. Kesedihan bisa dihilangkang dengan cara-cara yang bijak. Meskipun tidak semua kesedihan mampu sirna dalam sekali pratikum. Manusia memang dilatih untuk berusaha dan berlapang dada. Meskipun yang kita hirup adalah udara sama di bumi, dengan kenangan yang sulit kita atur sedemikian rupa. Tapi mampu kita kendalikan.
Bukankah dunia seolah melahirkan sesuatu ketika kita tak menyadari apa yang kita butuhkan sebenarnya? Ada yang mengatakan, bahwa Anda adalah apa yang Anda pikirkan saat ini, begitupun mengenai kesedihan. Sedih tanpa alasan? Atau alasan tidak kuat memegang penjelasan kenapa kita bisa merasakan kesedihan? Kebahagiaan memiliki konsepnya, konsep tiap individu berbeda dan unik. Hanya saja sedikit yang menyadarinya. Semakin orang bergantung pada orang, benda, dan hal lain yang bukan dirinya sendiri dan kekuatan Tuhan, maka ia akan semakin rentan dengan kesedihan.
Ada beberapa cara sederharna untuk membuatkan rumah untuk kesedihan berdasarkan pengalaman :
1. Keyakinan terbaik untuk bahagia tanpa syarat.
Sekilas memang kalimat itu terasa indah dan mungkin sering kita dengar tapi begitu sulit kita terapkan pada diri sendiri. Namun, bukankah selama ini banyak yang terjadi dan teraih dengan penuh kejutan dari apa yang kita yakini akan terjadi? Keyakinan itu mampu menjadi doa terdahsyat untuk menggapai apa yang tak mungkin menjadi sangat mungkin. Tanpa syarat apa bisa? Insya Allah bisa, selama kita tidak banyak menggantungkan harapan pada semua yang bersifat sementara.
Ketika usia saya sekitar 7 tahun. Saya pernah meminta pada Tuhan, agar Ia bisa membiarkan saya hidup dengan-Nya. Masih kecil, tapi itu yang saya baca dari buku harian masa kecil saya. Karena kenyataan memang belum bisa sempurna dan tak bekerja sesuai dengan apa yang kita hendaki, tugas kita menyempurnakan kehidupan mendatang yang lebih baik. Alhamdulillah, di sekolah para guru dan kakek serta nenek, serta orang-orang terdekat ketika itu terus menyemangati dan mengenalkan pada iman. Iman itu mengajarkan untuk kuat, bukan lantas lemah menyerah pada ujian yang akan membentuk pribadi kecil kita menjadi berkembang dan terus tumbuh.
2. Mulai menulis.
Sekarang kita jadi tahu, mengapa Tuhan menganugrahi kita dua tangan, dua mata, dan satu mulut. Menulis adalah hal yang paling berkesan dalam merekam tiap proses yang kita tengah atau sudah lalui. Sulit memulai? Sering muncul sanggahan itu. Tapi kesulitan akan melemah jika kita mulai giat berusaha membiasakan. Curahkan energi negatif dalam tulisan. Apa saja tuliskan, jangan malu jika suatu saat Anda memang perlu membagikan apa yang selama ini telah Anda tuliskan. Penulis bagian dari kegemaran atau profesi yang dapat mengabadikan hasil hidupnya.
Dengan menulis, kita juga mampu merangsang daya kerja otak kanan kita menjadi lebih kreatif dan ketajaman dari otak kiri untuk berpikir lebih krisis. Bukan hanya itu saja, menulis membantu kita meresapi dan menemukan makna yang lebih luas. Menulis memberikan kita dunia yang bisa kita desain sendiri.
3. Tersenyum.
Menurut pakar psikolog, sedih bisa dihilangkan dengan cara mengingat sesuatu yang menciptakan daya semangat dan kebahagiaan pada diri kita. Tersenyum juga bagian ibadah, shodaqoh yang paling sederharna namun kaya guna. Saling melatih senyuman saat bertemu siapa pun, merangsang pikiran positif dan keadaan rileks.
Hal itu dapat diambil dari pengalaman. Ketika seseorang merasa mulai jenuh lalu sedih, seseorang tersebut akan mencari hal baru yang dapat menyibukkan dirinya secara positif untuk melupakan kesedihannya. Tersenyum dapat pelan-pelan mengobati bathin yang sedih. Awalnya pura-pura untuk menyembunyikan kesedihan, setelah itu kesedihan terlupa dan kembali ke rumahnya.
4. Beribadah.
Dengan beribadah kita memusatkan apa yang kita butuhkan pada Tuhan. Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan. Ketika seorang hamba mendekat, maka Ia pun akan lebih dekat. Sebab, cinta baik dikedekatan.
Nilai-nilai agama ialah kemutlakan dari aturan hidup. Agama mengajarkan kebaikkan dan kemuliaan pada kehidupan mulai dari hati, pikiran, kemudian perbuatan yang diterapkan tiap harinya. Kedamaian akan tercipta dan orang akan saling bahu membahu untuk membantu tanpa pamrih. Beribadah akan mengingatkan kebaikan yang ada pada diri kita. Kesyukuran mencukupkan cerita baru yang datang silih berganti, silih baru, bersama waktu. Berbagi dengan anak-anak, para lansia, sahabat dari kita yang kurang beruntung, berbagi dengan apa yang kita mampu usahakan juga merupakan hal menyenangkan.
5. Memaafkan.
Jangan segan dan malu untuk meminta maaf dan memberi maaf. Karena memaafkan memberikan keluasan dan ketenangan dalam hati kita. Secara tidak langsung akan menghasilkan suatu stimultan perubahan sifat untuk menghidari kesedihan.
Jika pernah ada luka atau kesalahan jangan malu untuk meminta dan memaafkan, sebab akal manusia penuh jebakan. Tidak ada yang sempurna mengendalikan penilaian-penilaian dan cara kerja hormon di tubuh kita. Orang yang dipenuhi dendam akan sempit dalam hidupnya. Karena ia akan lebih sibuk mengurusi hal yang percuma. Karena tiap dari kita adalah manusia yang sama, gemar membuat dosa. Sikapi hal-hal yang kurang berkenan menjadi hal baru sebagai pengalaman.
Cobalah melakukan hal seperti di atas. Menyibukkan dengan hal positif dan menghindari kebiasaan buruk adalah bagian dari prilaku bijak untuk memulangkan kesedihan ke rumahnya. :) Kesedihan yang berlarut-larut dapat menggagalkan kesuksesan di masa mendatang. Sehingga hidup akan lebih bermakna, nyaman, dan tentram.
----
Afta.

0 komentar:
Posting Komentar