MAHASISWA
DAN SEJARAHNYA
Telah aku saksikan desa-desa jadi perkotaan berlapis polusi
Tembok perbatasan diukir dengan humor dan peperangan
(sebelum sepasang kekasih, ibu dan anak dibakar
bersamaan)
Di mana sang tuan tak menangis. (untuk itu).
(Pukul 3 pagi, saat membaca sandiwara dan
peristiwa)
Seorang pejabat tinggi duduk nyaman di kamar
Tak menengok lagi kearahmu. Salak anjing keluar-
Ditiap-tiap sudut persimpangan dan halte pemerintahan.
Enam puluh tahun silam, reformasi diikat pada seragam.
Musim mengeras tua dan Tan Malaka (dari balik selnya)
Mengetikan semi-alienasi (dicap komunis) dalam negeri.
Cuma seorang pemuda terperajar, berdirilah harapan.
(Pada tahun 45,
Daun tertutup sulut api, cuma sisa hujan
menepis ke balik wajah perempuan yang sendiri
menyulam bendera pusaka timur)
Masuklah ke dalam kelas-kelas kehidupan
Sebelum koruptor mengemis, bendera dikibarkan!
Cuma para mahasiswa sejati (yang benar mengerti)
Bibit dada dan deram pahlawan muda
Yang terlahir dalam pekat kabut panceklik
Memangkas suka cita yang mati dari sederet jari
Yang melukai ingatan para bangsanya sendiri...
Cuma para mahasiswa sejati
Menghangatkan darah untuk berbuat
Sampai ujung sejarah memarkirkannya.
(meski tanpa kartu nama, sekalipun!)
Dan para malaikat yang tak berwujud
Ke luar dari garisnya. (seperti desis angin)
Para mahasiswa membangun perahu nuh
Seolah zaman mengikat keberadaan masa silam
Garis-garis yang terus berkabung, bersambung...
Membangun peradaban keadilan di tebing-tebing jalan
20 Oktober 2014

0 komentar:
Posting Komentar