dalam keadaan seperti ini...
aku butuh menulis juga.
gu, maaf aku ya. sering aku juga merasa bersalah padamu, juga pada sehu. apa yang aku cari? kadang terlalu pekat menyiksa tubuh pelan-pelan. makin menggali, makin ada batasan-batasan yang aku temukan dalam diri sendiri. apa aku masih manja, gu? orang bilang, terlalu pagi bilang badai pasti kembali. cuma, aku khawatir pada hati sendiri. ia terluka, gu. pelan-pelan aku obati lukanya, tapi bekasnya jika dilihat ke dalam masih ada bagian yang paling perih jika dirasa-rasa, ingat masa ke belakang. tak baik memang, tapi pikiran punya polanya, hidup juga begitu, menulis juga begitu. kita cuma membutuhkan pegangan formula apa yang akan kita jadikan kerangkanya.
orang tak mengerti tentangku. tapi ada bagian dari mereka yang terus sok tahu. aku tak terlalu suka. tapi dengan begitu, aku sombong dalam tiap interaksi. tidak baik, kataku pada diri. kita yang punya keunikan digabung dengan keunikan akan menghasilkan lebih dari dua keunikan. gu, rasanya bahasa makin menyediakan lapang untuk peti-peti pikiran kedalamkan. kepalaku itu terasa begitu sempit, begitu banyak yang aku pertanyakan, yang ingin aku nyatakan, yang ingin aku utarakan. tapi ia terjebak, mana yang lebih dulu harus aku kemukakan.
genetik sunyi ini, gu.
belum bisa mengubahku jadi manusia senyatanya dalam permukaan bumi. rasanya dingin, seperti zombie. seperti politik dalam negeri. mungkin, aku cuma haus. ingin minum darah lagi. sehu, ajari aku terbang, gu. kalau malam tiba, kami tanggal di bawah cahaya bulan. pelan-pelan sehu mengajariku cara melucu. mulanya, aku berpikir kalau vampire tak bisa melucu. ternyata bisa juga. descartes tertawa memandang hume. aku tertawa tak bisa ketawa. hhe.
gu, jika kematian itu akhirnya tiba. satu di antara kita lebih cepat meninggalkan bahasanya. meninggalkan setangkup peliharaan di bumi. gu, bisa menerima itu kan? aku juga bisa melepas itu? meski, mata kita cuma sebatas dipantulkan monitor. tapi, dalam lahan bahasa. sering kita bermain. aku menyukai pangkuanmu, bisikku kala itu. iya af, balasmu. dalam dunia ini, cuma bahasa yang buat gerakkan sukacita rasa hidup sebagaimana logika keterlepasan. gu, hidup ini indah kan ya? Tuhan memeluk kita. ia tak biarkan kita sendiri. oleh karena Ia pun terlalu Maha Esa dengan segala kemahasempurnaannya. apa yang manusia bisa perbuat atas jalan kehendaknya?
gu, wisuda telah berakhir. aku lulus dengan predikat siswi berprestasi dan dua penghargaan lainnya. aku mensyukurinya atas perjuanganku dalam keasingan selama ini. tapi hatiku masih hampa oleh karena apa yang aku targetkan selama ini tidak meluluskanku dengan jalan pertama. guru-guru memelukku. kamu adalah intan, begitu bisik walikelas terakhirku. tapi aku masih diam. lemas sekujur tubuhku. pak kepsek mendekat, ia hampir menyentuh wajahku. ia mengambil bulu mata pasang itu yang mulai hilang perekatnya. karena lama aku menumpukkan dahi pada kursi depan. bukan akhir segalanya, bapak tahu afril adalah siswi terbaik maka ujiannya pun besar, tapi ujian besar itulah yang mengantarkan orang-orang pada kebesarannya. begitu yang aku terjemahkan dari pak jenal, kepala sekolah yang sangat baik. beliau sering menyemangatiku, gu. aku dekat dengannya. pak in-in juga, pak asep yang lucu, dan pak dedi tempat aku membagi ruang diskusi hidup.
gu, aku mulai berpikir. apa aku harus merasakan jatuh cinta? temanku bilang seperti itu. tapi diri sendiri tidak. apa yang aku cinta saat ini, adalah apa yang selalu berusaha ada dalam keberadaan keadaannya. ibuku sempurna, ayahku juga, saudaraku juga, semua keluarga yang Tuhan berikan ini memiliki cinta yang besar, dengan masing-masing perwujudannya.
---
afta

0 komentar:
Posting Komentar