Kalau huja begini, kepuitisan yang dijatuhkan langit menambah tebal sekat-sekat imaji. Ia bersuara, seperti bunyi manusia yang digerakan ingin dan cita menuju hujan juga.
Awan yang memberat karena rahim telah matang menjaga butir aliran airnya. Menari-nari mereka lahir, sampai ke tanah.
Saat hening, bunyi para bayi yang dikemas basah merona, menggantung pada atap-atap bangunan, rumput, tembok, jalan, dan tungkai-tungkai yang berada di bumi manusia.
Seorang penulis terus berusaha mengetikan kekasihnya dari tengah hujan datang membawa ingatannya.
Kekasihku yang baik, Engkau juga hujanku... Engkau juga anak-anakku yang sering kutunggui datang temani sepinya menjadi kuli tulis. Cuma buku-buku basah yang lahir dari cetakkan.
Cuma kamu yang paling memahami kalau hujan yang kita namai melodi bumi adalah kekukuhan langit yang ingin menyentuh tanah. Kerinduan bibir yang ingin menyentuh jari lidah kekasihnya.
Seorang anak datang, dari taman hujan. Kupangku ia pelan-pelan. Hangat dan perlahan. Jari kecilnya, penuh air. Penuh kenangan yang ingatkan aku pada getirnya sepasang hidup yang kini cuma sehidup.
Jari kecilnya bermain, menebak bentuk-bentuk yang hidup. Seperti hujan dan kehidupan. Keduanya suka berpangku pada atapnya. Langit dan genggaman imajinya.
Jari mungilnya tak henti memutar-mutar rambutku. Engkau itu hujan yang paling lucu, kataku padanya. Bibirnya tersungging senyum. Iya, kunamaimu hujan. Seperti ibumu.
Matanya bersinar. Seperti hujan yang memiliki cahaya bintang. Semakin hujan beriku cara paling mistis memahami cinta pada yang hidup.
Apa ibu menyuruhmu turun, Anakku? Untuk temani seorang laki-laki yang kehilangan lama cara menumbuhkan kecintaan pada hatinya? Gumamku padanya. Kukira ia pun tak memahami apa yang kukata. Ia masih kecil. Cuma bisa mainkan kedipan, bibir mungil, pipi yang timbul, dan jari-jari yang ingin dipasangkan induk jarinya.
Hujan mulai reda. Malang diri ini jika harus melalui prosesi ini. Kau di mana, Sayangku? Apa tak juga berniat untuk turun? Bersamaku di sini, bersama anakmu yang membutuhkan air untuk diminumnya dari kemuliaan cinta itu? Apa hujan mengurungmu di sana? Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikanmu dari atas sana? Bagaimana merangkai mesin waktu agar aku bisa pula menyatu dalam hujan yang sama...
Awan yang memberat karena rahim telah matang menjaga butir aliran airnya. Menari-nari mereka lahir, sampai ke tanah.
Saat hening, bunyi para bayi yang dikemas basah merona, menggantung pada atap-atap bangunan, rumput, tembok, jalan, dan tungkai-tungkai yang berada di bumi manusia.
Seorang penulis terus berusaha mengetikan kekasihnya dari tengah hujan datang membawa ingatannya.
Kekasihku yang baik, Engkau juga hujanku... Engkau juga anak-anakku yang sering kutunggui datang temani sepinya menjadi kuli tulis. Cuma buku-buku basah yang lahir dari cetakkan.
Cuma kamu yang paling memahami kalau hujan yang kita namai melodi bumi adalah kekukuhan langit yang ingin menyentuh tanah. Kerinduan bibir yang ingin menyentuh jari lidah kekasihnya.
Seorang anak datang, dari taman hujan. Kupangku ia pelan-pelan. Hangat dan perlahan. Jari kecilnya, penuh air. Penuh kenangan yang ingatkan aku pada getirnya sepasang hidup yang kini cuma sehidup.
Jari kecilnya bermain, menebak bentuk-bentuk yang hidup. Seperti hujan dan kehidupan. Keduanya suka berpangku pada atapnya. Langit dan genggaman imajinya.
Jari mungilnya tak henti memutar-mutar rambutku. Engkau itu hujan yang paling lucu, kataku padanya. Bibirnya tersungging senyum. Iya, kunamaimu hujan. Seperti ibumu.
Matanya bersinar. Seperti hujan yang memiliki cahaya bintang. Semakin hujan beriku cara paling mistis memahami cinta pada yang hidup.
Apa ibu menyuruhmu turun, Anakku? Untuk temani seorang laki-laki yang kehilangan lama cara menumbuhkan kecintaan pada hatinya? Gumamku padanya. Kukira ia pun tak memahami apa yang kukata. Ia masih kecil. Cuma bisa mainkan kedipan, bibir mungil, pipi yang timbul, dan jari-jari yang ingin dipasangkan induk jarinya.
Hujan mulai reda. Malang diri ini jika harus melalui prosesi ini. Kau di mana, Sayangku? Apa tak juga berniat untuk turun? Bersamaku di sini, bersama anakmu yang membutuhkan air untuk diminumnya dari kemuliaan cinta itu? Apa hujan mengurungmu di sana? Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikanmu dari atas sana? Bagaimana merangkai mesin waktu agar aku bisa pula menyatu dalam hujan yang sama...
-------
Diketik pada tanggal 20 Juni 2014
Pada saat penulis terjebak antara ketukan hujan dan keinginan.

0 komentar:
Posting Komentar