“Tidak ada kebebasan baik dalam dunia fisik maupun dunia mental. Setiap tindakan manusia disebabkan oleh rangkaian hubungan sebab-akibat, percis seperti peredaran planet-planet, benda berjatuhan, dan seterusnya.”[1]
Manusia tidak bebas, sebab tindakan manusia ‘disebabkan’ oleh nafsu, yakni emosi-emosi pada hakikatnya bersifat pasif. Sejauh seseorang bereaksi kepada dunia secara emosional, dia bersikap pasif mengandaikan bahwa penyebab tindakan berasal dari luar dirinya. Orang yang Hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) tentulah sama manusia, yang mengenali cinta yang indah pada kehidupan mulanya.
Kita tidak sendiri, menikmati hidup di negara yang majemuk oleh keragaman, juga persoalan. ODHA salah satunya, bagian dari manusia juga yang mengenal cinta pada tiap pencarian identitas dirinya. Sayangnya, banyak orang mendefinisikan mengenai cinta, merasai, menikmati, mengkhayati, hingga yang dicapai bukanlah cinta yang sejati atau yang membenarkan. Tapi terlalu basah, hingga jika terkilir sedikit saja cinta dapat mengubah madu menjadi bisa.
ODHA adalah saudara kita juga. Mereka mendefinisikan hidupnya lebih mendalam dari kepedihan dan tidak lagi dapat selancar kita menikmati dinamika alur waktu yang cepat mengembangkan dan mengubah berbagai paham dan persepsi masuknya nilai asing pada budaya masyarakat. Cinta itu mulai membelenggu dan menjadi trauma kuat bagi penderita ODHA, karena diskriminasi yang seharusnya tidak terjadi.
Bagi penderita ODHA, terkhusus pada perempuan dan anak-anak. Mereka masih memiliki hak hidup karena Tuhan-Nya dan Hak Asasi Manusia yang dijaga hukum konstitusi negara. Perempuan tidak sama dengan laki-laki, mereka memiki kehalusan cinta yang mungkin tidak ditemukan sekalipun dipuncak sisi feminimnya seorang pria. Anak-anak pun yang masih mendaki kail-kail bernama cerita kecil harus merasa terkucil dari kehidupan yang makin menyempit diusianya.
Jangan seolah cinta selalu berakhir dengan penyesalan. Karena tugas cinta untuk manusia ialah menjaga keteraturan sebuah interaksi manusia dan dunia, hanya saja yang seringkali kita temukan, adalah manusia yang menempatkan cinta dengan salah. Tanda kehidupan modern salah satunya kehilangan kekuatan spiritualitas (iman). Di sinilah perlu penguatan peran agama, pendidikan, keluarga, pemerintah, serta seluruh kelompok masyarakat saling merangkul sebagai tanda kekuatan bangsa yang ‘ika. Menguatkan akar-akar pondasi sistem budaya sehat dan menyehatkan.
Dulu kita sering mendengar AIDS disebut sebagai 'penyakit yang tidak ada obat'. Istilah ini yang keliru, karena sebagian besar infeksi oportunistik dapat diobati, bahkan dicegah, dengan obat yang tidak terlalu mahal dan tersedia luas. Obat yang lebih canggih dapat memperlambat kegiatan HIV menulari sel yang masih sehat. Obat ini disebut sebagai antriretroviral atau ARV.
Menularnya virus ini di antaranya melalui darah, air mani, cairan vagina, ASI, dan jarum suntik masal atau alat tajam yang melukai tubuh (asteril), serta menerima tranfusi darah yang terinsfeksi HIV, dan dari faktor keturunan. Selain itu, tidak. Dengan demikian, hidup bersama orang HIV-postif bukanlah hal yang perlu ditakuti.
Dalam buku “Hidup dengan HIV/AIDS” saya mengamati secara mendalam, bagaimana jika saya berada dalam posisi mereka. Apakah dengan bunuh diri akan menjadi pilihan terbaik? Daripada menunggui kematian itu tiba dengan pelan-pelan. Tetapi, bagi yang percaya akan Tuhan yang Esa tidak akan ke mana-mana, ia akan kembali. Sayangnya, sikap masyarakat yang kurang mengenal penyakit ini lebih sering menstigmanya sebagai suatu sampah masyarakat. Bukan manusia yang sangat memerlukan pertolongan dari manusia di sampingnya.
Satu akibat dari infeksi HIV adalah kerusakan pada sistem kekebalan tubuh kita. HIV membunuh satu jenis sel darah putih yang disebut CD4. Sel ini adalah bagian penting dari sistem kekebalan tubuh dan jika ada jumlahnya kurang, sistem tersebut menjadi telalu lemah untuk melawan infeksi.
Jumlah sel CD4 dapat diukur melalui tes darah khusus. Jumlah normal pada orang sehat berkisar antara 200-1.500. Setelah terinfeksi HIV, jumlah ini biasanya turun terus. Jumlah ini mencerminkan kesehatan sistem kekebalan tubuh kita. semakin rendah, semakin rusak sistem kekebalan yang dimiliki.
Sarana tes CD4 tidak tersedia luas di Indonesia dan tesnya cukup mahal. Karena sel CD4 adalah anggota golongan sel darah putih yang disebut limfosit total juga dapat memberi gambar tentang kesehatan sistem kekebalan tubuh yang biasa disebut sebagai total lymphocyte atau TLC.
Adapun tindak penanggulanan yakni pada akses kesehatan untuk ODHA yang merata yang disertai dengan pelatihan-pelatihan tenaga kesehatan mengenai penanganan ODHA harus menjadi tolok ukur kualitas pelayanan distribusi antiretroviral (ARV) yang merupakan obat untuk terapi ODHA dan sebaiknya juga menjangkau daerah-daerah terpencil.
Peningkatan mutu akses layanan kesehatan akan secara langsung memberikan kesempatan untuk ODHA bertahan hidup lebih lama dari perkiraan. Seperti halnya di Eropa, mutu layanan sudah sangat baik terhadap ODHA menyebabkan banyak ODHA yang bertahan hidup lebih dari lima belas tahun.Pelayanan yang ramah ODHA tanpa diskriminasi dan juga dukungan lingkungan sosial terhadap ODHA adalah tiga hal yang sangat penting dalam penanganan ODHA.
Dalam Strategi Nasional Penanggulangan AIDS Indonesia disebutkan sebagai salah satu asas dasar, bahwa setiap pemberi layanan berkewajiban memberi layanannya kepada ODHA tanpa membeda-bedakan. Dalam deklarasi Paris Desember 1994 menunjukan janji untuk mendukung orang dengan HIV/AIDS, mendukung antri diskriminasi dan HAM, serta asas-asas yang etis untuk menjadi bagian dari upaya penanggulanan AIDS.
Tantangan yang utama adalah kesulitan ODHA mengakses atau menghubungi satu sama lain. Membangun kontak dan rasa percaya, sulit karena diperlukan bantuan pihak luar seperti konselor, dokter, klinik, dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).
Peringatan Hari AIDS sedunia ini bisa dijadikan ajang dalam perbaikan mutu program HIV dan AIDS di samping sosialisasi informasi HIV dan AIDS kepada masyarakat. Sebelum berhadap dan bertindak untuk meraih perbaikan mutu itu, ada baiknya kita melakukan refleksi terlebih dahulu. Sudah sejauh mana program HIV-AIDS berpengaruh pada kehidupan kita, terutama teman-teman ODHA? sudah sejauh manakah pemerintah memperjuangkannya? Realita selanjutnya ialah jawaban atas pertanyaan tersebut. Mari bersama rangkul mereka dengan penuh cinta. Karena hanya dengan cinta yang dapat menggugah semangat mereka.
--------------------------------------
DAFTAR PUSTAKA
Suzana, dkk, 2009
Hidup dengan HIV/AIDS, Jakarta : Yayasan Spiritia
*** Juara 3 Presentasi Artikel Universitas Siliwangi
-------
Afta.

hai mbak! blognya bagus. saya ingin berbicara mengenai blog nih. boleh saya minta ID LINE mbak? terimakasih :)
BalasHapus