Luka itu terletak di sini, Gie.
Aku membiarkan terkubur pelan-pelan apa yang hati ingin hendaki. Rasanya berat memang, tapi apa yag lebih berat daripda membiarkan seorang bayi yang harus dipaksa terlepas dari susu induknya. Tuhan bilang, kalau kemandirian Rasullullah menyampaikan kehidupan yang lebih terjaga.
Gie, bahasa yang keluar ini, sangat cair.
Apa yang sering aku pikirkan, kadang bukan buatku bangga. Seolah pikiran berdemontrasi menuntut kecemburuan, sedangkan kita tidak pernah memeram secara masal apa itu kenangan tentang cinta yang bisa dimiliki dua lawan jenis yang mulanya tak serahim.
Gie, aku takut kalau hatiku benar-benar dipenuhi luka. Hati wanita itu sensitif, itu benar. Hati laki-laki itu relatif. Beberapa bilang, mereka menginginkanku. Beberapa bertahan sejauh ini. Tapi aku tidak seperti hati mereka, hati kami tak sama. Apa yang aku mau selalu jauh. Apa yang ingin aku jauhi selalu dekat. Tapi Tuhan itu bukan yang aku ingini, ia aku butuhkan dalam seluruh kesadaranku.
0 komentar:
Posting Komentar