Detik-detik menegangkan bagi para peserta
didik UN tingkat SMA baru saja dilalui (19-20/05). Dalam budaya SMA Al
Muttaqin hari pengumuman kelulusan UN
H-1 dilaksanakan di tempat yang masih dingin karena alam dan budaya kearifan lokal dalam kehidupan pesantren. Tahun ini kegiatan dilaksanakan di Pesantren Daruul Falah Sukasirna, Sukaratu. Sebanyak
133 pasang mata siswa-siswi merasakan klimaks panas-dingin dari penantian selama ini.
Para peserta didik menyambut dengan penuh khidmat, resah, dan ada juga yang penuh optimis. Detik-detik menjelang pengumuman siswa-siswi SMA Al Muttaqin tetap dibina dengan pembekalan iman dan kekuatan yang luar biasa menjadi bekal dimasa mendatang. Transisi perubahan sistem UN cukup membuat para peserta didik gugup menghadapi pengumuman kelulusan.
Selama satu malam, para peserta merasakan bagaimana nikmatnya menjadi santri Kobong. Bermalam di atas lantai dengan kaki langsung menyentuh ubin. Harus bersabar dalam antrian kamar mandi yang airnya keruh dan mampet. Apalagi jika sudah serempak menggunakan kamar mandi, air akan semakin minim. Jamuan makan bersama-sama dengan keluarga besar insan Muttaqin angkata IX. Tertawa, canda, kehangatan lainnya, menjadi cerita yang luar biasa bagi mereka.
Kontemplasi akan syukur sebuah kelulusan memang
dirasa lebih bijak dengan mendekatkan diri pada hal yang lebih positif seperti
lebih mendekatkan diri pada Tuhan, melalukan bakti sosial, membenahi
kedewasaan, mendekatkan diri dengan penuh damai bersama orang-orang yang
dikasihi, dsb. Salah satu dari peserta mengimbau, pentingnya pendidikan moral
bukan lantas hilang ketika kelulusan tiba.
Keesokan hari para siswa-siswi melakukan ekspedisi gunung. Kurang dari empat
jam menempuh perjalanan jalan kaki. Lalui lereng terjal, sungai, dan hutan
jalan setapak. Ada empat posko yang harus mereka lalui. Ke empat posko jika
dirunutkan kembali mengingatkan tentang, nikmat syukur, ikhtiar,
tawakal, dan sabar. Dari kegiatan tersebut, terlihat betapa besar
keterpeduliaan lembaga berbasis pendidikan islam terhadap pembinaan sikap,
mental, dan penembaan jiwa ulul albab.
Pengumuman pun berlangsung. Kegentingan dan khidmat luar biasa tampak terasa. Mengingat masih maraknya sebagian dari mereka yang lulus dengan mengorbankan kerapihan seragamnya, ugal-ugalan di jalan, dan prilaku yang mencoreng kensyukuran dan mencerminkan moralitas anak didik selama tiga tahun ditempa dalam lembaga pendidikan.
“Semua yang telah saya lalui ini, adalah perjuangan terbaik yang akan terus membuka peluang masa depan yang lebih prestatif baik sebagai seorang Hamba dan Manusia. Aamiin.” Ungkap Affrilia, peserta didik SMA Al Muttaqin.

Untaian kata membuat alur cerita begitu nyata...
BalasHapusKarena jiwa yang indah ikut membacanya. :)
Hapus